My Introvert Husband

My Introvert Husband
kelelahan



tokkk..... tokkkk...... tokkk


"ada tamu"


"biar aku saja yang bukain kak, kakak lanjut saja"


"terimakasih dek" ucap gisa sembari tersenyum.


"bibik mau kemana?" tanya gisa ketika melihat asisten rumahnya tampak terburu-buru.


"mau bukain pintu nya"


"tidak perlu bik, gisel sudah membukakannya. bibik lanjut saja jemur pakaiannya"


"baik nya"


"kak dokter ilham sudah datang, kakak ke kamar saja temani kak al. ini biar gisel yang lanjutkan"


"terimakasih sayangku" jawab gisa sembari membelai lembut pipi gisel.


setelah di beritahu gisel kalau dokter ilham telah datang dan sekarang tengah memeriksa sang suami, gisa bergegas naik ke lantai dua.


"dokter ilham sudah datang"


"ah iya nona gisa. nona apa kabar?"


"kabar baik dok. dokter sendiri bagaimana?"


"seperti yang anda lihat nona" jawab dokter ilham sembari tersenyum.


"lalu bagaimana keadaan suami saya dok?"


"setelah saya periksa tuan al baik-baik saja nona, beliau tidak mengalami sakit apapun"


"kamu dengar sendiri kan aku tidak apa-apa sayang, aku sehat-sehat saja"


"tapi kamu mual-mual yank"


"mungkin tuan al hanya kelelahan saja nona. jadi nona tidak perlu khawatir, karna tuan al baik-baik saja. dan ini ada beberapa vitamin untuk tuan al"


"tapi suami saya benar tidak apa-apa kan dok?"


"iya nona tuan al baik-baik saja, mungkin hanya perlu istirahat dan besok pasti sudah pulih kembali"


"dengarkan, kamu jangan terlalu mencemaskanku. aku baik-baik saja"


"kalau begitu saya permisi dulu"


"iya dok terimakasih" jawab al.


"sama-sama tuan. jangan lupa minum vitaminnya, dan semoga lekas sembuh tuan"


"iya dok" jawab al sembari tersenyum.


"mari saya antar kedepan dok"


"tidak perlu repot-repot nona, lebih baik nona temani saja tuan al"


"tidak apa-apa dok, lagian suami saya juga tidak akan hilang" jawab gisa sembari tersenyum.


"baiklah"


dengan segera gisa mengantarkan dokter ilham ke depan.


"loh dokter ilham sudah selesai?" tanya gisel ketika ia berpapasan dengan dokter ilham dan kakaknya di ruang tengah.


"iya nona"


"kalau gitu biar saya antar ke depan dok, ini kakak bawa ke kamar" ucap gisel sembari memberikan bubur yang terlihat masih mengepul itu kepada kakaknya.


"baiklah"


*******


"dorrr"


"sayang kamu mengagetkan saja"


"habisnya kamu melamun, kamu kenapa sih yank?"


"aku kangen gisel yank"


"kalau gitu kita telfon dia"


"apa kamu mau membicarakan hubungan kita kepada gisel?"


"mungkin"


"tidak lexs, aku belum siap untuk hal itu" jawab bella sembari bangkit dari duduknya.


"kenapa?"


"aku takut gisel kecewa" jawab bella sembari menoleh kearah alexs duduk.


"dia tidak akan kecewa sayang, dia pasti akan ikut bahagia jika kedua sahabatnya bahagia"


"itu hanya pendapatmu, dan itu sudah jelas berbeda dengan apa yang di rasakan gisel"


"sayang cinta itu tidak bisa di paksakan bukan?" ucap alexs sembari memeluk bella dari belakang.


"iya kamu benar"


"lalu aku juga tidak bisa memaksakan perasaanku untuk mencintai gisel kan. awalnya mungkin sakit, tapi akan lebih baik ketimbang dia bersama dengan pria yang sama sekali tidak mencintainya"


"kau benar yank" jawab bella sembari menggenggam kedua tangan alexs yang melingkar di perutnya.


"sudah jangan terlalu memikirkan masalah ini. ayo sekarang kita makan, dari siang tadi kamu belum makan"


"kita makan di rumah aja ya, mama pasti sudah masak. kasian kan mama sudah masak banyak tapi tidak ada yang makan"


"baiklah, kalau begitu ayo kita pulang"


"iya"


*****


"alice kamu ini kenapa kok senyam-senyum gitu nak?"


"ahh nggak kenapa-kenapa kok pi" jawab alice sembari tersenyum.


"wahh non itu foto siapa? tampan sekali"


"ahh bibik kepo banget"


"alice jangan bilang kalau kamu sedang bermain api!"


"mami apaan sih. alice belum gila ya, mana mungkin alice menghianati arya"


dengan sangat terpaksa alice menunjukkan foto itu kepada sang mami.


"siapa sih papi jadi penasaran, kenapa bisa sampai buat anak papi ini senyam senyum" ucap papi mulai mendekat kearah mami.



"ini siapa sayang?"


"tampan kan mi?"


"iya tampan. cuma mami nanya, dia ini siapa kak?"


"teman mi"


"tapi kelihatannya dia masih sangat muda sayang, mungkin dia seumuran dengan adikmu"


"memang iya dia seumuran dengan alexs"


"kamu sejak kapan punya teman lebih muda?"


"ya memangnya salah ya pi?"


"nggak salah sayang, papi ini bertanya"


"sebenarnya dia anak yang alice temui di pemakaman"


"pemakaman?" seru papi dan mami bersamaan.


"iya mi, pi. setiap kali alice pergi ke makam billa anak itu juga selalu datang ke makam, dia bilang dia akan pergi ke makam setiap kali dia merindukan kakek dan juga neneknya, dan itu sama sepertiku, aku juga akan selalu pergi ke makam jika aku merindukan billa"


"jangan lagi menyalahkan dirimu atas kepergian billa kak"


"tapi alice merasa gagal menjadi seorabg kakak mi, alice gagal jagain billa, hingga dia pergi meninggalkan kita semua"


"kamu nggak salah nak, itu semua terjadi kan karna ada yang menyabotase mobil kakak iparmu"


"sudah jangan sedih-sedih lagi" ucap mami sembari memeluk alice.


"oh iya kak ngomong-ngomong siapa nama anak itu?" tanya papi.


"riko, pi"


"ohh riko. kalau dia tidak sibuk ajak lah dia main kerumah, biar papi dan mami mengenalnya"


"iya pi kapan-kapan pasti aku akan mengajaknya kemari"


"ini ponselmu kak, ada pesan masuk dari gisel"


"gisel mi?"


"iya"


dengan segera alice mengambil ponselnya dari tangan sang mami, dan dengan segera ia membuka chat yang telah dikirim oleh gisel.


"abang sakit mi, pi" ucap alice setelah membaca pesan dari gisel.


"sakit apa? perasaan kemarin papi ketemu abangmu di kantor dia baik-baik saja"


"iya kemarin mami ketemu juga sama abang waktu di butik, dia terlihat biak-baik saja"


"tapi ini kata gisel abang sakit"


"coba kamu telfon kakak iparmu"


"iya pi"


dengan segera alice mencari nomor gisa dan segera menelfonnya.


"halo" jawab gisa diseberang sana.


"halo sa. abang al sakit apa?" tanya alice langsung pada intinya.


"kakak al baik-baik saja kok kak"


"kata gisel abang sedang sakit"


"kak alice tidak perlu khawatir, kakak al hanya kecapean saja. dan dokter ilham sudah memberinya vitamin, kata beliau besok mungkin kak al sudah pulih"


"ahh syukurlah aku lega mendengarnya. ya sudah aku tutup telfonnya ya"


"kakak alice menelfonku hanya tanya itu saja?"


"iya aku hanya memastikan saja. lagian gisel sih ngomongnya setengah-setengah jadi aku berfikir kalau abang sakitnya parah"


"tidak kak. kakak al baik-baik saja kok, ini dia tidur setelah selesai makan dan minum obat"


"baiklah, aku tutup dulu telfonnya. bye gisa sayang"


"apa kata kakak iparmu?"


"iya kak apa?"


"abang hanya kecapean mi, pi. gisa juga sudah menelfon dokter ilham, kata dokter ilham hanya butuh istirahat saja"


"abangmu itu memang gila kerja"


"sama kayak papinya" sarkas mami sembari melirik sang suami, sedangkan yang dilirik hanya mampu tersenyum kikuk.


"oh iya kak, jadi kapan jadinya pernikahanmu dan arya?"


"bulan depan pi"


"kamu sudah yakin dan mantap kalau kamu akan menikah bulan depan"


"iya pi"


"papi hanya minta, setelah kamu menikah tolong tinggalkan pekerjaanmu"


"tapi pi..."


"tidak ada tapi-tapian" ucap papi memotong omongan alice.


"pi alice memulai karir mulai dari nol pi. lagian arya juga nggak keberatan kok kalau alice masih bekerja"


"tapi papi ingin kamu fokus mengurus suamimu"


"papi nggak pernah larang mami, untuk nggak bekerja. tapi sekarang papi larang alice untuk bekerja"


"jangan samakan pekerjaan mami denganmu. mamimu punya mama sarah, dan mama liyla yang membantunya. sedangkan kamu seorang publicfigur, jadwalmu terlalu padat kak. papi hanya takut kamu nggak bisa mengurus suamimu, kalau kamu nggak pandai-pandai membagi waktu itu akan sangat sulit nak"


"baiklah pi, nanti alice pikirkan lagi. alice ke kamar dulu" ucap alice sembari berlalu pergi, bahkan sebelum kedua orang tuanya menjawabnya.


"kalau kamu nggak mau berhenti dari pekerjaanmu, tidak udah menikah" teriak papi ketika alice baru saja menaiki anak tangga.