
"sel... gisel.... GISEL" panggil alice sembari berteriak ketika tak dapat jawaban dari gisel.
"nyonya alice"
"bik gisel kemana sih?"
"nyonya gisel masih di kamarnya nya"
"anak itu bisa-bisanya jam segini belum turun"
"kata tuan tadi beliau sedang sakit"
"apa gisel sakit? kenapa kau tidak bilang dari tadi kalau adikku sakit" ucap alice sembari berlalu pergi menuju kamar gisel.
"sel kamu sakit?" tanya alice begitu sampai kamar gisel.
"iya kak. kakak kenapa sih pagi-pagi bikin heboh rumahku?"
"aku bosen di rumah. jadi mau mengajakmu ke rumah abang, ehh kamunya malah sakit"
"aku ngga-- huekk" belum juga gisel selesai berbicara rasa mualnya datang kembali, hingga membuatnya terpaksa berlari menuju kamar mandi.
"huekkk.... huekkk.... huekkk"
"sel kamu kenapa sih?" tanya alice sembari memijat tengkuk gisel.
"masuk angin mungkin kak"
"apa yang kamu rasakan sekarang?"
"kepalaku pusing, dan perutku terasa diaduk-aduk"
"jangan-jangan kamu hamil"
"kakak jangan ngaco deh"
"kok ngaco sih!"
"mana mungkin aku hamil"
"heh bocah apanya yang nggak mungkin, kamu itu bukan wanita lajang gisel, kamu punya suami. ayo sekarang kita kerumah sakit kita periksa"
"tapi kak"
"tapi apa lagi?"
"aku takut kalau hasilnya negatif"
"ngapain takut, kalau hasilnya belum sesuai dengan keinginan kita, kita bisa coba lagi sampai Tuhan memberi kan, sudah ayo ganti bajumu"
"iya kak"
dengan segera gisel mengganti bajunya dan sedikit memoles makeup tipis agar tidak terlihat pucat.
"ayo kak, aku udah siap"
"ya udah ayo"
gisel dengan pasrah di gelandang alice menuju rumah sakit, karena gisel tau jika dia menolak alice akan ngomel-ngomel sampai membuat kupingnya akan terasa panas.
"bik saya pergi dulu sama kak alice ya"
"nyonya mau kemana? nyonyakan masih sakit"
"saya mau kerumah sakit, mau periksa"
"oh begitu. kalau begitu hati-hati nya"
"iya bik. saya titip rumah"
"iya nya"
setelah pamit dengan bik yem gisel dan alice segera berangkat menuju rumah sakit terdekat. dan selama di perjalanan gisel sangat gugup, dia benar-benar takut kalau hasilnya tidak sesuai dengan apa yang di bilang alice.
"kak apa pewangi mobil kakak diganti?"
"tidak, ini pewangi yang biasanya sel. kamu nggak lihat tuh"
"tapi kenapa baunya nggak enak sih kak"
"bukan baunya yang nggak enak, itu karena kamu hamil makannya penciumanmu jadi sensitif"
"kakak kitakan belum tau hasilnya, kenapa kakak sudah mengklaim kalau aku hamil sih"
"nggak tau, pokoknya instingku mengatakan kalau kamu hamil"
"gimana dong kak kalau aku hamil, aku belum selesai sekripsi" ucap gisel sembari menunduk.
"kenapa kamu malu?" tanya alice, dan di jawab anggukan oleh gisel.
"kenapa harus malu, kamu hamil karena ada suami sel. lihat temen-temenmu mungkin saja diantara mereka ada yang hamil tanpa suami, sehingga berakhir dengan aborsi"
"kakak benar juga. kenapa aku musti malu, aku kan hamil sama suamiku"
"makannya jangan malu"
"kita sudah sampai nya"
"ahh iya makasih pak. ayo kita turun"
"iya kak"
dengan segera gisel dan alice turun dan langsung menuju dokter kandungan.
"kamu tunggu sini dulu, biar kakak daftarin kamu"
"iya kak"
*"yaTuhan aku benar-benar gugup sekali. kakak andai kakak masih ada. kakak pasti bakal peluk aku, karena kakak yang paling tau gimana aku, kakak gisa aku kangen"* gumam gisel dalam hati, dan air matanya pun mulai jatuh ketika mengingat sang kakak.
"kenapa kamu nangis?"
"gapapa kok kak"
"jangan nangis, semua bakal baik-baik aja dek" ucap alice sembari memeluk gisel.
"pelukan kakak sama seperti pelukan kak gisa, sangat menenangkan"
"bocah bodoh, aku ini juga kakakmu. walau pun kita terlahir dari orang tua yang berbeda"
"aku sayang kakak"
"aku pun juga menyayangimu. sudah jangan menangis lagi" ucap alice sembari membelai lembut surai hitam gisel, dan gisel hanya menganggukan kepalanya.
"nyonya gisela"
"ahh ayo, sekarang sudah giliranmu"
"iya kak"
dengan segera alice menggandeng tangan gisek memasuki ruangan dokter.
"pagi dok" sapa alice sembari tersenyum.
"pagi nyonya alice. ini pasiennya atas nama gisela, kenapa anda yang muncul!"
"iya dok ini nemenin adik saya"
"oh jadi nyonya gisela adik anda"
"iya dok"
"nyonya gisel silahkan berbaring dulu"
"iya dok"
setelah gisel berbaring dokter cantik itu pun langsung memeriksa gisel. setelah selesai ia segera mengoleskan gel USG dan mulai memeriksanya.
"gimana hasilnya dok? apa adik saya beneran hamil?" tanya alice ketika melihat wajah cantik dokter friska tengah tersenyum.
"iya nyonya, adik anda memang sedang mengandung. dan sekarang usia kandungannya sudah menginjak minggu ke 4"
"iya dek"
"selamat ya nyonya, saya akan buatkan beberapa resep vitamin dan penguat kandungan"
"terimakasih dok"
setelah dokter friska memberikan resep obatnya alice dan gisel segera pamit, dan langsung menebusnya di apotik depan.
******
"woi bocah ngapain loe nglamun gitu?"
"astaga mas arya ngagetin aja, datang ketuk pintu kek"
"heh bocah kita udah ketuk pintu berkali-kali tapi nggak ada respon dari elo. makannya kita masuk, takutnya loe kenapa-kenapa"
"mas arya sama mas galih kenapa kesini? tumben banget"
"abis meeting terus mampir. loe kenapa ngelamun gitu?" tanya arya.
"aku kepikiran gisel mas"
"elah bocah bucin banget sih, baru juga beberapa jam yang lalu ketemu. ya kali udah kangen aja" ucap galih.
"bukan masalah kangennya mas, gisel sedang nggak enak badan. makannya dari tadi gue nggak bisa fokus sama kerjaan gue"
"gisel sakit. gue telfon alice dulu, biar dia jagain gisel" ucap arya sembari mengeluarkan ponselnya dan segera menelfon istrinya.
"halo sayang. gisel sakit, apa kamu bisa merawatnya?" ucap arya begitu sambungan telfonnya tersambung
"telat, aku sudah membawanya kerumah sakit. dan kamu tau gisel kenapa?"
"memangnya kenapa?"
"gisel hamil, kita sebentar lagi bakal punya keponakan lagi. dan nanti anak kita punya temen bermain"
"apa kamu serius?"
"iya aku serius. tapi kamu jangan kasih tau riko ya, biar gisel aja yang kasih tau"
"iya sayang. yasudah kamu hati-hati ya"
"iya sayang"
dan dengan segera arya menutup sambungan telfonnya.
"kenapa mas?"
"ahh gapapa kok. alice masih keluar, nanti setelah dia pulang bakal langsung lihat keadaan gisel. nggak usah khawatir gitu dong, gisel pasti baik-baik aja"
"iya mas makasih ya"
"iya santai aja kalik. oh iya lih, loe tadi pagi kenapa bisa barengan sama aleta dah?"
"oh itu tadi gue sama aleta ke rumah al, gue kangen sama starla makannya gue ajak aleta. karena kemarin aleta bilang dia juga kangen sama starla"
"oh gitu, gue fikir kalau loe lagi pendekatan sama aleta tapi nggak bilang-bilang ke gue"
"ngadi-ngadi nih bocah"
"yakan siapa tau aja men"
"sama mbak aleta aja mas. dari pada jones, gara-gara mikirin kak gisa yang udah nggak ada" ucap riko.
"nah bener tuh, kalau al tau loe masih suka sama gisa sampai sekarang, bisa-bisa perang dunia ketiga" timpal arya.
"ahh entahlah, gue kadang-kadang suka pusing sendiri sama perasaan gue"
"dasar bujang labil"
"bachott" ucap galih sembari melempar bantal sofa ke kepala arya.
"duh bocah sialan"
*****
"laras ini sudah siang, apa tidak sebaiknya kamu pulang!"
"aku masih ingin disini pak"
"pulanglah nanti orang tuamu mencarimu"
"aku sudah izin sama mama pak, jadi bapak tenang saja"
"baiklah, kalau itu maumu aku bisa apa" ucap al sembari berlalu pergi.
"abang starla mana?" tanya alice yang baru saja datang bersama gisel.
"ada dikamarnya"
"apa dia tidur kak?"
"tidak, dia sedang tidak tidur"
"lalu kenapa abang meninggalkannya sendirian"
"starla tidak sendirian alice, dia bersama laras"
"oh sama wanita itu. ayo sel kita lihat keponakan kita"
"iya kak"
"starla tante datang"
"eh mbak" ucap laras sembari beridiri sungkan.
"gapapa, santai aja" ucap alice sembari tersenyum.
"apa si kecil rewel?" tanya gisel sembari menciumi pipi gembul starla.
"tidak mbak, dari pagi tadi baby starla anteng banget" jawab laras sembari tersenyum.
"ah pintarnya keponakan tante. kau ini jangan menciuminya terus, nanti pipi gembulnya bisa hilang kalau kau ciumi"
"astaga kakak pelit sekali. starla lihatlah tantemu satu ini dia sangat menyebalkan, nanti kalau kamu sudah besar jangan jadi seperti tante alice ya, contohlah mommymu dia wanita yang sangat anggun dan penuh pengertian"
"astaga kenapa kau mengajari keponakanku yang tidak-tidak"
"aku ini bicara sesuai dengan fakta kak"
"hey tante rempong, jangan bertengkar di depan anakku ya" ucap al sembari menyandarkan lengannya di pintu.
"nih si gisel yang mulai duluan"
"dihh mana ada, kakak yang mulai duluan malah nyalahin aku"
"kalian berdua itu sama saja, sudah mau jadi ibu tapi kelakuan masih kayak bocah"
"tuh dengerin kak"
"kau juga dengarkan, yang hamilkan bukan aku saja"
"kakak" ucap gisel sembari menatap tajam alice.
"astaga aku keceplosan dek" ucap alice sembari menutup mulutnya.
"gisel hamil?"
"i--iya kak" jawab gisel sembari tergagap.
"tapi abang jangan bilang ke riko ya"
"emang riko belum tau?"
"belum, makanya abang diem-diem aja. biar jadi kejutan buat riko"
"ahh baiklah"