My Introvert Husband

My Introvert Husband
rindu billa



"riko ayo cepat"


"iya sel, sabar dong" jawab riko sembari tersenyum.


"nih helm buat kamu"


"loe selalu bawa dua helm kemana-mana?"


"iya, yakan siapa tau bisa boncengin cewek cantik. ehh taunya baru hari pertama masuk kampus langsung bisa boncengin bidadari" jawab riko sembari terkekeh.


"apa sih receh banget, udah ayok berangkat. nanti temen-temen keburu jauh"


"serahkan pada ahlinya nona. gini-gini aku adiknya valentino rossi"


"terserah loe aja deh. yuk berangkat" jawab gisel sembari naik ke atas motor riko.


"pegangan sel" ucap riko sembari mengambil tangan gisel dan melingkarkannya ke pinggangnya.


"nggak apa-apa emang?"


"ya nggak apa-apa lah, dari pada kamu jatuh"


"tapi gue takut kalau cewek loe lihat trus jadi salah paham"


"ceweknya siapa sih sel, aku nggak ada cewek"


"bohong banget sih loe ko. yakali cowok seganteng loe nggak punya cewek"


"bilang apa kamu barusan?"


sadar dengan apa yang baru saja ia ucapkan gisel dengan segera menutup mulutnya.


"nggak ngomong apa-apa, udah ayo berangkat"


"iya-iya" jawab riko sembari menjalan motornya.


"riko pelan-pelan dong, gue rakut"


"pegangan yang erat, itu angga dan yang lain udah mulai kelihatan" jawab riko sembari mendekap tangan gisel dengan tangan kirinya.


"loe ngomong apa? gue nggak denger ko"


riko hanya bisa menggeleng dan tersenyum, gisel benar-benar menggemaskan sekali kalau lagi ketakutan seperti ini.


"astaga baru sampai sini" ucap riko kepada angga, dan darwin.


"yaelah ngledek banget ni bocah" jawab darwin.


"tauk. motor kita matic brow, jangan loe samain sama motor sport loe dong"


"nggak ada men, santai dong jangan ngegas gitu"


"angga gue bonceng loe ya. buset gue takut banget dibonceng riko"


"takut apa takut neng? itu nemplok gitu udah kayak cicak" ledek angga sembari terkekeh, dan di sambut gelak tawa yang lainnya.


"kalian apaan sih, kasihan giselnya"


"ciee di belain tuh sel"


"berisik"


setelah hampir 30 menit berkendara akhirnya mereka semua pun sampai di rumah andin.


"akhirnya sampai, yuk masuk"


"heh oncom udah kayak rumah loe sendiri aja" sergah darwin.


"yaelah win anggap aja emang rumah sendiri" jawab angga. dengan segera angga membuka pintu rumah andin tanpa harus mengetuknya.


"kebiasaan banget tuh bocah"


"pacar palamu win"


"ini nggak apa-apa emang kita langsung masuk tanpa ketuk pintu dulu?"


"nggak apa-apa ko, ayo masuk andin emang tinggal di rumah sendirian"


"di rumah segede ini tinggal sendirian?"


"iya" jawab gisel sembari menaiki tangga, dan mau tak mau riko mengikuti langkah gisel dan yang lainnya.


"andin'' teriak angga ketika melihat andin tengah berbaring di ranjangnya.


"anjir berisik banget"


"hehe gue kangen banget ama loe, kapan loe kuliah lagi"


"besok juga udah masuk kok. btw thanks ya kalian udah repot-repot jengukin gue"


"yaelah ndi kayak ama siapa aja sih loe''


"itu siapa?'' tanya andin sembari menatap intens kearah riko.


"ohh itu. itu pacarnya gisel" jawab angga sembari menunjuk riko.


"angga" ucap gisel dan riko bersamaan.


"jangan dengerin si tengik ndin. dia mahasiswa baru di kelas kita"


"oh mahasiswa baru. hai salam kenal gue andin, sahabatnya mereka"


"iya tadi mereka juga sempat cerita"


"ndin cepet ngampus dong kalau nggak ada loe sepi tau" ucap agnes.


"sepi apanya orang angga sama mira tiap detik berantem mulu"


"kalian itu kapan akurnya sih, kalau udah pada jatuh cinta tau rasa" ucap andin sembari terkekeh.


"oke sekarang lebih baik kita doakan angga dan mira berjodoh, berdoa dimulai" ucap darwin. dan benar saja mereka semua mulai berdoa, tapi entah apa yang mereka panjatkan dalam doa mereka.


"woi anjir malah pada berdoa beneran"


"yatuhan jangan sampai doa mereka semua terkabulkan" ucap mira sembari menengadahkan kedua tangannya.


********


"sayang mulai sekarang kamu di rumah aja ya. nggak usah pergi kebutik"


"tapikan kasihan mama sama mami yank, pekerjaannya pasti menumpuk. apalagi sekarang sudah nggak ada mama liyla dan billa" ucap gisa sembari menunduk, air matanya tiba-tiba merembas membasahi pipinya, dia benar-benar sangat merindukan billa. dari dulu ia kemana-mana selalu berdua dengan billa, sedangkan sekarang hari-hari ia lalui sendiri tanpa kehadiran sahabat baiknya.


"heyy jangan sedih, billa tidak akan suka kalau melihat kamu terus-terusan seperti ini sayang"


"aku rindu billa yank" ucap gisa sembari memeluk al.


"aku tau. tapi akan lebih baik jika kamu mendoakan billa, supaya billa mendapatkan tempat terbaik disisi Tuhan"


"itu pasti"


"yasudah jangan sedih-sedih lagi nanti bumilnya jadi jelek kalau menangis"


"kalau aku jelek kamu nggak suka?"


"mana ada, aku selalu suka yank" jawab al sembari mencium kening gisa.



bumilnya kita nih gays 😍