
malam ini papi varo mengumpulkan semua anak-anaknya untuk membahas perjodohan al dan gisa.
"kakak ada apa papi mengumpulkan kita seperti ini?"
"mana kakak tau, kau tanya saja sama abang"
"abang ada apa?"
"abang tidak tau, lebih baik kau duduk dan diamlah"
"mami, oma, grandma kenapa papi mengumpulkan kita diruang kerjanya?"
"adek diam" ucap mami melati sembari memberi isyarat kepada putra bungsunya agar tidak terlalu banyak bertanya.
"oke karna semuanya sudah berkumpul jadi kita langsung saja"
"sebenarnya ini ada apa pi? kenapa papi mengumpulkan seluruh anggota keluarga kita disini, bahkan grandma pun juga ada" tanya alice dengan penuh keberanian.
"oke papi tidak akan berbasa-basi. kita langsung saja pada inti pembicaraan. papi ingin abang menikah dengan gisa"
"apa menikah pi?" tanya al kaget ketika tiba-tiba saja sang papi ingin dirinya menikah dengan gisa.
"iya menikah"
"tapi kenapa papi menjodohkanku dengan gisa secara mendadak pi? padahal papi tau kalau al sudah menganggap gisa seperti adik kandung al sendiri"
"sebenarnya ini tidak mendadak al, papi dan papa gio sudah menjodohkan kalian sedari kalian masih kecil. papi dan papa gio rasa ini adalah waktu yang tepat untuk kalian berdua menikah, dan kami semua sudah sepakat. bahwa minggu depan adalah acara pernikahan kalian."
"tapi kenapa secepat itu pi"
"semakin cepat, akan semakin lebih baik al" ucap oma.
"iya betul al. semakin cepat akan semakin lebih baik. lagian apa yang mau kau perbuat? kau sengaja ingin mengulur waktu kan?" tanya grandma.
"tidak grandma. al akan menuruti semua keingianan papi mungkin dengan cara ini, al bisa membahagiakan papi dan juga mami" ucap abang al pasrah.
"apa abang yakin mau menerima perhodohan ini?"
"alexs kenapa kau bertanya seperti itu kepada abang"
"aku hanya tidak ingin abang menerima perjodohan ini dengan terpaksa kak. kalau abang terpaksa nanti dia malah melukai kakak gisaku"
"mau ataupun tidak, abangmu harus tetap menikah dengan kak gisa lexs. karna memang perjodohan ini sudah papi atur sejak abang kamu masih kecil, bahkan sebelum kamu lahir didunia ini"
"kenapa tidak alexs saja sih pi yang dijodohkan dengan kak gisa, alexs kan juga mau sama kak gisa"
"hey bocah kau ini bicara apa, selesaikan dulu kuliahmu dengan benar. baru kau mikir tentang menikah" ucap grandma sembari menjewer telinga alexs.
"yaampun grandma ampun, ini sungguh sakit. alexs kan tadi hanya bercanda grandma"
"jewer terus grandma, sampai telinganya putus" ucap alice sembari tertawa.
"kakak ini dasar kompor"
"sudah-sudah kalau kamu mau menikah papi akan jodohkan kamu dengan bella"
"tidak papi, tadi alexs hanya bercanda. habisnya seisi ruangan ini tegang semua"
"lalu kapan pernikahanku akan diadakan pi?"
"sabtu depan. jadi papi minta sama kamu persiapkan dirimu"
"baik pi. kalau begitu al pamit dulu"
"kau mau kemana bang?"
"al ada janji dengan arya dan galih mi"
"kalau begitu hati-hati di jalan ya sayang"
"iya mi"
"pantas saja arya tidak mengajakku jalan, ternyata dia ada janji dengan teman-teman kutub utaranya"
"teman-teman kutub utara! apa maksudnya?" tanya oma sembari mengerutkan kedua alisnya.
"iya oma abang dan galihkan sama. sama-sama dingin, makanya mereka berdua sampai sekarang masih jomblo"
********
"woi bro kenapa tuh muka. datang-datang muka udah ditekuk aja?" tanya galih yang baru saja melihat al datang dengan wajah murung.
"iya al loe kenapa? cerita kek sama kita-kita"
"apa kalian tau?...."
"tidak"
"makanya dengarkan dulu cerita gue jangan main potong pembicaraan gue"
"tau lo lih, rese banget"
"hehe iya-iya sorry"
"gue dijodohin sama bokap"
"apa?" tanya arya dan galih secara bersamaan.
"gue dijodohin sama bokap gue" ulang al
"sama siapa al? kenapa alice tidak cerita apa-apa kepadaku"
"dengan gisa. bagaimana dia mau cerita, kalau papi dan mami baru membahasnya tadi sebelum aku kemari"
"jadi kau terlambat karna membahas perjodohan itu?"
"iya"
"kau dijodohkan dengan gisa anastasia aroran, model favorit gue itu al?"
"iya memang gisa mana lagi kalau bukan dia"
"yatuhan ini akan menjadi hari patah hati nasional kalau kau menikahi bidadari kami al"
"lebay loe" ucap arya sembari memukul kepala galih.
"sakit ****"
"ya trus kenapa loe sedih al?"
"gimana gue nggak sedih ar, loekan tau gue sudah menganggap gisa seperti adik gue sendiri. bahkan kami sedari kecil tumbuh bersama"
"iya juga sih. lalu kenapa kau tidak menolak, mungkin saja itu cara papi buat menikahkan kamu"
"tidak ar. papi bilang beliau dan papa gio memang sudah menjodohkanku dan gisa sedari kecil, dan loekan tau papi tidak pernah berbohong"
"lalu bagaimana dengan bidadariku, apa dia menerima perjodohan ini?"
"entahlah lih. kalau dilihat gisa juga akan menerima perjodohan ini, karna aku tau persis bagaimana gisa. ia tidak akan mungkin tega menolak keinginan mama sarah"
"ya kau benar al, anak sebaik gisa tidak mungkin membangkang kepada kedua orang tuanya"
"huftt kasihan sekali bidadariku harus menikah dengan gunung es sepertimu al" ucap galih sembari menopang dagunya dengan sebelah tangannya mengikuti gaya al.
"yang galau itu al, kenapa sekarang kau juga ikut-ikutan galau bodoh"
"bagaimana aku tidak galau arya, bidadariku mau menikah dengan sahabatku yang dingin seperti gunung es"
"seperti kau tidak dingin saja kepada cewek-cewek"
"itu karna aku menunggu hati gisa"
"mimpi loe"
dengan diam-diam arya memotret al dan juga galih, lalu ia mengunggahnya kemedia sosialnya.
*kumpulan pria jomblo tapi suka galau 😝 @alfianakbarefendi @galihargantara
~arya sadega*