My Introvert Husband

My Introvert Husband
pernikahan gisel



setelah semua orang mengetahui rencana pernikahan gisel dan riko. semuanya menjadi sangat sibuk, bahkan mama liyla, papa bima, bella, dan alexs telah kembali dari paris.


"gue masih nggak nyangka deh sel. sebentar lagi sahabat gue bakalan jadi istri orang"


"gue sendiri aja juga masih nggak nyangka, loe sama alexs cepetan nyusul ya"


"kita masih lama lah sel"


"kenapa di tunda-tunda. kalau kalian sudah benar-benar mantap, langsung saja. atau mau barengan sama gue dan riko"


"apaan sih sel ngaco banget"


"gisel sayang"


"mami kemari?" tanya gisel ketika melihat mami melati baru saja masuk kedalam kamarnya.


"iya sayang, mami bawa gaun pengantin kamu. dicoba dulu ya sayang"


"iya mi"


"bella bantuin gisel ya nak"


"iya mi"


"ya udah mami kebawah dulu"


"hey calon pengantin kenapa lesu gitu?"


"semua orang jadi sibuk gara-gara mempersiapkan acara nikahan gue bel, gue jadi nggak enak"


"ngomong apaan sih sel, inikan emang udah jadi kewajiban kita"


"ini semua salah riko, ngapain juga dia ngajak nikah dadakan kayak gini"


"ini nggak dadakan sel. kalau dadakan sehabis lamaran riko akan langsung mengajakmu menikah"


"kok loe belain riko terus sih bel"


"gue nggak belain sel. udah ahh ayo coba dulu gaunmu"


"iya bawel"


********


hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, hari ini adalah hari pernikahan riko dan juga gisel.


"aduhh kenapa semua bajuku nggak muat sih, terus aku pakai apa dong" gerutu gisa sembari memilih-milih gaun miliknya.


"sayang ayo. nanti kita terlambat"


"apa kau tidak lihat, istrimu ini bahkan tidak memiliki baju"


"baju segitu banyaknya, tapi kamu bilang nggak punya baju" ucap al dengan sedikit heran.


"apa kau tidak lihat anakmu semakin membesar di dalam perutku, tentu saja baju-bajuku tidak muat"


al hanya tersenyum melihat istrinya mengomel-ngomel seperti itu, bagi al gisa benar-benar begitu menggemaskan ketika marah-marah seperti itu.


"yasudah kamu pakai ini" ucap al sembari memberikan sebuah kotak yang ukurannya lumayan besar dari dalam almari pakaiannya.


"ini apa?"


"buka aja"


"ini baju untukku?" tanya gisa ketika sudah membuka kotak pemberian al.


"iya sayangku, udah buruan ganti bajunya. aku tunggu dibawah ya"


"iya sayang, makasih ya"


"iya istriku"


******


"wah gila loe ko, bisa-bisanya nyebar undangan'' ucap darwin sembari memukul pelan pundak riko.


"tauk, mau nikah tapi ngga bilang apa-apa. tiba-tiba sebar undangan aja" timpal angga.


"kalau gue kasih tau kalian namanya nggak kejutan dong"


"tapi gue aku, loe keren banget men"


"lakik beneran loe sob, kagak kayak si darwin"


"heh maksud loe apaan bambang?"


"ya loe pacaran doang bertahun-tahun tapi kagak nikah-nikah. riko sama gisel baru beberapa bulan pacaran langsung cuss ke pelaminan"


"setiap orang kan beda-beda bambang, jangan di sama-samain dong"


"apa bedanya? riko laki, loe juga laki. riko punya burung, loe juga punya"


"habisnya loe juga nyebelin banget"


"riko ayo acaranya sudah mau di mulai"


"iya pa"


riko segera mengikuti papa menuju ke meja pelaminan, dan tak lama gisel turun bersama mama, gisa, kak alice, dan keluarga lainnya.


"cantik" gumam riko sembari tatapan matanya tak lepas dari pengantin wanitanya.


"kedip men, itu calon istrimu. bentar lagi juga bakal jadi milikmu seutuhnya" ucap angga sembari mengambil beberapa jepretan foto gisel.


"apa kedua mempelai sudah siap?'' tanya bapak penghulu ketika gisel telah duduk di samping riko"


"siap pak" jawab gisel dan riko bersamaan.


"baiklah kalau begitu, kita mulai sekarang juga. pak gio bagaimana? diwakilkan atau bapak sendiri yang menikahkan"


"saya sendiri pak"


''baiklah kalau begitu silahkan"


papa dengan segera menjabat tangan riko, dan segera memulai acara akad nikahnya.


"saya nikahkan dan kawinkan engkau felix riko vansbhasten dengan putri saya gisela anastasia aroran, dengan mas kawin seperangkat alat solat, dan uang 200 juta dibayar tunai"


"saya terima nikah dan kawinnya gisela anastasia aroran binti gio aroran, dengan mas kawin tersebut dibayar tunai"


"bagaimana para saksi?" tanya penghulu kepada para saksi.


"sahh" jawab mereka dengan bersamaan.


"alhamdulilah"


setelah acara akad selesai, selanjutnya disusul acara resepsi pernikahan.


"selamat ya adik tampanku" ucap kak alice sembari memeluk riko.


"makasih kak"


"langsung gass. biar nanti anak kita seumuran"


"kak alice apaan sih, malu ah di dengerin orang" ucap gisel dengan wajah mulai memerah.


"men nanti langsung unboxing, jangan kasih gisel ampun" ucap angga sembari terkekeh


"beres" jawab riki sembari mengacungkan kedua jempolnya.


"selamat ya sayang, kakak benar-benar masih nggak nyangka kalau adik kecil kakak sekarang udah jadi istri orang" ucap gisa sembari memeluk gisel.


"makasih kakakku sayang"


"jadi istri yang baik ya dek. nggak boleh berani sama suami, harus nurut apa kata suami"


"iya kak"


"sekarang udah jadi istr orang, nggak boleh manja lagi"


"iya kakak al, aku bakal belajar jadi istri yang baik kok"


"anak pintar" ucap al sembari menepuk pelan pucuk kepala gisel.


"hadiahnya mana?" ucap gisel sembari menengadahkan tangannya.


"hadiah apa?"


"kakak al kan sultan, masak nggak punya hadiah buat aku dan riko. kak alice sama kak arya aja dapat rumah mewah, masak aku sama riko nggak"


"nggak ada"


"astaga kakak al tega banget. kasihanilah kami berdua. aku dan riko masih mahasiswa loh kak, kalau kami setelah nikah diusir dari rumah, terus kami berdua mau tidur dimana?"


"salah sendiri masih kuliah udah nikah. kalau mama dan papa mengusir kalian, tidurlah dibawah jalan tol"


"tega banget"


"kakak bercanda, nih kakak juga belikan rumah buat kamu"


"seriusan nih kak?" tanya gisel ketika al memberikan sebuah kunci kepada dirinya.


"iya, rumahmu tepat di depan rumah alice"


"kenapa nggak di depan rumah kakak aja sih"


"tidak akan aku biarkan, para pengacau tinggal di sekitar rumahku" jawab al sembari berlalu pergi.


"astaga lihatlah suami kakak itu, sangat menyebalkan. tapi baik juga sih, nggak rugi punya kakak ipar sultan" ucap gisel sembari tersenyum, dan disambut gelak tawa yang lainnya.