
"astaga katanya dia mau pergi ke makam billa tapi kenapa jam segini masih tidur dengan pulas" gumam al ketika baru saja membuka matanya dan mendapati sang istri masih tertidur dengan lelap.
"aku mandi saja dulu lah" ucap al sembari berlalu ke kamar mandi.
setelah hampir 15 menit al pun telah menyelesaikan mandinya, dan ketika ia keluar al masih saja menemukan gisa dengan posisi yang sama.
"kenapa dia masih belum bangun juga, apa dia segitu kecapean. lebih baik aku membangunkannya, dari pada aku meninggalkannya nanti dia malah marah"
drttt....drttttt... drttt.
belum sempat al membangunkan gisa tiba-tiba saja ponselnya bergetar menandakan ada panggilan masuk di dalamnya.
"galih, ngapain pagi-pagi kayak gini telfon" gumam al setelah melihat siapa yang menelfonnya sepagi ini.
"halo, iya kenapa?"
''kau dimana alvian yang sangat tampan?"
"masih di rumah"
"apa kau bilang, 5 menit kau harus sampai kantor. bisa-bisanya kau lupa kalau kita pagi ini ada meeting bareng klien dari jepang"
"astaga gue lupa, iya-iya fue berangkat sekarang" jawab al sembari memutuskan sambungan telfonnya, dan segera bersiap-siap sebelum pergi ke kantor.
"sayang aku pergi ke kantor dulu ya. maaf tidak bisa mengantarmu pergi ke makam billa, aku ada rapat penting soalnya" pamit al sembari mencium kening gisa.
*****
"gimana? dia udah berangkatkan?" tanya arya.
"berangkat apanya, kakak iparmu itu masih dirumah" jawab galih dengan kesal.
"apa dia sudah gila. dia menyuruh kita berangkat pagi-pagi buta, sedangkan dia sendiri sekarang masih di rumah. astaga sebenarnya otaknya itu dia taruh mana" ucap arya frustasi.
"udah santai aja kali guys, rapat di mulai jam 9, ini masih jam 8"
"tapi setidaknya kita butuh siap-siap kan ta. mana gue materinya belum ngerti sama sekali"
"loe aja belum tau apa lagi gue"
"lagian si al ada-ada aja. ngapain juga dia nggak ngasih materinya ke kita lewat email, ngapain juga harus di bahas dadakan kayak gini"
"ya mana gue tau, diakan kakak ipar loe" sewot galih.
"loe dari tadi ngomong kakak ipar mulu, gue tampol juga loe nanti"
"heyy udah-udah ini masih pagi jangan berteman dong"
"bertengkar oncom" ucap arya dan galih bersamaan.
"nah maksud gue juga itu, jangan bertengkar"
"loe kok bisa sih ta sesantai itu"
"tauk panik dikit ngapa"
"lah ngapain gue musti panik"
"loe udah di kasih bocoran ya sama al?" tanya arya.
"sama sekali belum, gue sama kayak kalian. nggak ngerti apa-apa. gue berharap gue nanti nggak malu-maluin kalian" ucap aleta sembari tersenyum.
"astaga loe terlalu santuy maimunah" ucap galih dengan kesal, sedangkan arya dan aleta hanya mampu tertawa melihat kepanikan galih. meskipun tak di pungkiri mereka juga panik, tapi mereka tidak seperti galih yang sedang kebakaran jenggot.
"guys sorry gue telat"
"bagus dateng juga ya loe" ucap galih sembari menatap tajam al"
"biasa aja dong kagak usah mlotot gitu"
"mana proposalnya, mau gue pelajari"
"santai dong, baru juga dateng. belum duduk nih gue"
"kagak peduli gue, mana buruan. udah bikin temennya klabakan dateng-dateng kayak orang nggak punya dosa lagi"
"al loe tau temen-temen loe udah kayak orang kebakaran jenggot, apalagi si galih tuh" ucap aleta sembari tertawa.
"udah gue duga. nah loe ngapain ketawa-ketawa, emangnya loe tau materi yang gue bikin?"
"nggak sih, sok santai aja. dan gue berharap nggak malu-maluin nanti"
"yaelah ta gue fikir loe udah ngerti, padahal gue sempet bahas sama loe kemarin"
"iya sih, tapi jujur gue belum terlalu ngerti konsepnya"
"yaudah nih pada pelajarin" ucap al sembari memberika beberapa berkas kepada teman-temannya.
********
"astaga udah jam segini. kenapa kakak al nggak ngebangunin aku sih" ucap gisa begitu bangun dari tidurnya.
jam di dinding sudah menunjukkan pukul 09.30 dan dengan segera gisa bangun untuk membersihkan dirinya.
butuh waktu sekitar 30 menit untuk gisa mandi, setelah selesai mandi gisa segera bersiap-siap untuk pergi ke makam billa.
"nyonya sudah bangun?"
"iya bik, apa kakak al sudah pergi dari tadi?"
"iya nya, tuan al pergi pagi-pagi tadi. dan buru-buru mungkin ada pekerjaan mendadak"
"oh gitu. yasudah saya pergi dulu ya bik"
"nyonya mau kemana? apa bibik perlu temani!"
"tidak perlu bik, aku hanya ingin ziarah ke makam billa"
"baik kalau gitu nyonya hati-hati di jalan"
"iya bik" jawab gisa sembari berlalu pergi.
"pak gimana udah siap?"
"udah nya, apa kita berangkat sekarang?"
"iya pak, nanti keburu panas" jawab gisa sembari tersenyum.
"inikan memang sudah panas nya" ucap pak edi sembari ikut tersenyum.
"iya juga sih pak. salah saya sih bangun kesiangan, yasudah ayo berangkat pak" ucap gisa sembari masuk kedalam mobil.
"baik nya"
setelah masuk dan duduk di belakang kemudi pak edi segera melajukan mobilnya menuju pemakaman dimana billa dimakamkan.
setelah hampir 15 menit akhirnya gisa pun sampai juga di area pemakaman.
"bapak tunggu aja di mobil ya"
"memangnya tidak apa-apa nya kalau saya nggak ikut turun?"
"gapapa pak, saya bisa sendiri kok"
"kalau begitu nyonya hati-hati"
"iya pak" jawab gisa sembari turun dari mobil.
sebelum ke makam billa tak lupa gisa mampir ketoko bunga langganannya untuk membeli bunga krisan putih kesukaan billa.
"billa aku datang, maaf ya beberapa bulan ini aku sibuk dan nggak sempat mengunjungimu. kamu nggak marah kan sama aku? apa kamu di atas sana juga sedang merindukanku, kenapa akhir-akhir ini aku sering sekali memimpikanmu" gumam gisa sembari berdiri disamping makam billa karena untuk berjongkok sudah terlalu sukit bagi gisa karena kondisi perutnya yang semakin hari semakin membesar.
"billa lihatlah perutku semakin membesar, keponakanmu didalam sini juga semakin pintar. dia sebentar lagi akan segera lahir bill, kamu di atas sana doain ya semoga persalinanku nanti lancar. aku atau pun keponakanmu bisa diselamatkan" ucap gisa sembari tersenyum sembari mengelus perut buncitnya.
"ya udah ya bill aku pamit pulang dulu" pamit gisa sembari berlalu.
di perjalanan menuju mobil gisa tak sengaja bertemu dengan dua muda-mudi yang tengah bertengkar.
"hey jangan kasar dong sama cewek" ucap gisa ketika si cowok ingin menampar si cewek.
"apa urusan loe, nggak usah ikut campur loe"
"diakan cewek loe, kenapa loe kasar banget sih jadi orang"
"udah kak, aku gapapa kok" ucap si cewek sembari memegangi tangan gisa.
"tapi dia mau berbuat kasar sama kamu, harusnya kamu lawan dong jangan diam aja"
"aku gapapa kok kak, mendingan kakak pergi aja. aku malah takut kakak kenapa-kenapa, apalagi kakak sedang hamil tua"
"gue gapapa kok"
"heh wanita tua loe tuh siapa sih, ikut campur urusan orang aja"
"apa loe bilang? gue tua! mata loe buta ya" ucap gisa sembari geram, dan dengan segera gisa melepas sebelah sepatunya dan memukuli si cowok.
"woi loe gila ya" ucap si cowok sembari mendorong gisa hingga jatuh.
"ahhh perutku sakit banget" ucap gisa sembari memegangi perutnya yang sempat terbentur pinggiran jalan akibat terjatuh.
"kakak gapapa kan?" tanya si cewek sembari berjongkok di dekat gisa.
"perutku sakit banget, tolong panggilkan sopirku"
"sopir kakak dimana?"
"disana mobil BMW warna putih, tolong perutku sakit sekali"
"iya kak. kakak tunggu sebentar ya" ucap si cewek sembari berlari menuju arah yang di tunjuk gisa, sedangkan si cowok hanya bisa diam mematung tanpa sedikitpun memiliki keinginan menolong gisa.
"sayang sabar ya, kamu harus baik-baik aja" gumam gisa sembari terus megelus perutnya.
"yaAllah nyonya, nyonya kenapa?" tanya pak edi ketika baru saja datang dan melihat kondisi gisa yang kesakitan.
"pak tolong bawa saya ke rumah sakit, perut saya sakit banget"
"iya nya"
dan dengan segera pak edi menggendong gisa dan membawanya ke mobil, untuk segera menuju rumah sakit.