My Introvert Husband

My Introvert Husband
suami tercinta



"kalau kau mencintai diriku lantas kenapa kau menangis?'' tanya al sembari menghapus air mata gisa.


''aku sangat bahagia karna ternyata kakak al membalas perasaanku. lalu sejak kapan kakak al menyukaiku?''


''sedari kecil, itu sebabnya dulu aku selalu marah jika ada yang mengganggu dirimu''


''lalu kenapa kakak al tidak mengungkapkan perasaan kakak kepadaku?'' tanya gisa sembari mencebikkan bibirnya.


''aku tak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya sa. kamu terlalu sempurna untuk diriku, selain itu aku takut kalau kamu tidak merasakan apa yang aku rasakan selama ini, kamu pun selama ini hanya menganggapku sebagai seorang kakak''


''sama halnya seperti diriku. aku juga tidak berani jujur dengan perasaanku kepada kakak, karna bagi gisa kakak al terlalu sempurna. kakak tampan, seorang pengusaha sukses. mana mungkin kakak al menyukai anak manja seperti diriku"


''nyatanya aku menyukaimu sedari dulu, kelinci kecilku'' ucap al sembari mencium kening gisa.


''tidurlah kau pasti lelah''


''kakak al temani aku''


''aku akan tetap disini sayang''


''kakak al panggil aku apa?''


''sudah jangan bawel. cepat tidur''


''kakak al, apa aku boleh meminta sesuatu?''


''kau mau minta apa?''


''apa kakak al akan memenuhi permintaanku?''


''akan aku usahakan, demi kelinci kecilku''


''aku ingin kakak al menjaga jarak dengan nona aleta''


''apa kau cemburu dengan aleta?"


''apa aku salah jika aku tidak suka melihat suamiku dekat dengan wanita lain?''


''tidak sama sekali''


''aku takut nona aleta akan merebut kakak al dariku''


''kalau kau tidak ingin aku direbut wanita lain, jangan panggil aku kakak''


''lalu aku harus panggil apa?''


''terserah kau saja''


''aku akan memanggilmu suamiku tercinta'' ucap gisa sembari mencium pipi al.


''terserah kamu saja. sekarang tidurlah, karna nanti malam aku akan meminta lagi"


''astaga aku baru tau ternyata suamiku ini sangatlah mesum'' ucap gisa sembari mencubit perut al.


''sayang sakit tau''


''habisnya kamu nyebelin''


''aku hanya bercanda sayang''


''apa kau mau jalan-jalan bersamaku?''


''tentu saja''


''kalau begitu nanti siang kita pergi ketaman hiburan ya'' ucap gisa penuh harap.


''aku tidak mau''


''ayolah sayang, ya mau ya''


''aku tidak mau''


''menyebalkan, katanya cinta tapi diajak ketaman bermain saja tidak mau''


''baiklah-baiklah, untuk istriku tercinta apapun akan aku lakukan''


''terimakasih sayang''


''iya sekarang ayo kita tidur''


''apa kau tidak pergi kekantor''


''tidak, aku akan menemanimu''


''terimakasih suamiku''


''sudah tidur, jangan bawel''


''iya''


*********


"al kemana?" tanya galih kepada arya dan aleta.


"mana gue tau, dari tadi gue telfon nggak diangkat"


"iya dari pagi aku berusaha menghubunginya tapi sama sekali tidak ada jawaban dari al'' ucap aleta dengan nada yang terlihat khawatir.


''nggak usah segitu khawatirnya kalik, dia udah ada binik. kalau pun dia kenapa-kenapa ada biniknya yang bakal merawatnya'' sarkas arya.


''tau loe ta, kenapa loe jadi kelihatan khawatir gitu''


''emmt al kan teman kita, jadi wajar dong kalau aku menghawatirkannya''


''wajar sih. yang nggak wajar itu kalau loe menyukai al, sedangkan loe sendiri tau kalau al udah punya binik'' sarkas arya sembari tersenyum licik.


''loe ngomong apa sih ar''


''nggak apa-apa, gue cuma bercanda doang kok''


''atau jangan-jangan al pergi honeymoon'' ucap galih.


''itu nggak mungkin'' ucap aleta sembari bangkit dari duduknya.


''apanya yang tidak mungkin? al sekarang sudah memiliki istri, kalau pun dia mau honeymoon itu wajar. aku tau ta, selama ini kau memiliki perasaan yang lebih kepada al. tapi sekarang gue harap loe lupain al, dia sudah bukan pria single lagi''


''betul tuh kata arya. kau tidak akan mungkin bisa mengalahkan gisa ta''