My Introvert Husband

My Introvert Husband
menara eiffel



"hey melamun terus sih!"


"kakak. kakak sejak kapan ada disini?"


"sejak tadi, makannya jangan asik melamun"


"maaf kak aku nggak tau. kakak kesini dianter kak al?"


"iya, tapi kak al langsung berangkat ke kantor. kamu nggak kuliah?"


"nggak kak"


"kakak perhatikan setelah kepergian alexs kamu sering melamun"


"kakak sok tau ih" jawab gisel sembari tersenyum.


"kakak tau kamu suka alexs"


"ng.... nggak kakak apa-apaan sih"


"kakak ini kakakmu, jadi mana bisa kamu menyembunyikan sesuatu dari kakak"


"memang tidak kak"


"gisel jangan berbohong, kakak tau semuanya"


"darimana kakak tau?"


"dulu billa yang cerita ke kakak"


"kak billa tau?"


"iya bahkan bella pun tau"


"tidak mungkin"


"mungkin, karna yang tau pertama kali adalah bella"


"bagaimana bisa kak?"


"makannya kalu bucin agak cerdas, jangan asal nulis-nulis di buku"


"maksudnya?"


"bella tau dari bukumu. dia pernah meminjam buku catatanmu waktu dia nggak masuk, waktu itu dia menemukan tulisan gisel ❤️ alexs pada halaman paling belakang"


"astaga aku malu sekali" ucap gisel sembari menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"percuma saja. kamu tau alexs suka bella?"


"aku tau kak"


"lantas apa kamu tau kalau bella juga menyukai alexs?"


"aku tidak tau itu, karna bella tidak pernah mau bercerita kepadaku"


"itu karna bella tau kamu suka alexs. lalu kalau alexs mengutarakan perasaanya dan bella menerimanya apa kamu mengikhlaskannya?"


"tentu kak, aku akan sangat bahagia jika kedua sahabatku bahagia"


"walaupun kamu sendiri merasa sakit?"


"iya" jawab gisel sembari tersenyum.


"kakak bangga sama dek" ucap gisa sembari memeluk gisel.


*****


"makan yuk laper nih" ucap galih sembari mengelus perutnya.


"iya aku juga merasakan hal yang sama, al ayo kita keluar"


"aku bawa makanan"


"pasti di buatkan bekal sama ibu negara"


"itu sudah pasti"


"enak ya punya istri, ada yang ngurusin"


"makannya nikah biar ada yang ngurus" jawab al sembari terus fokus pada layar laptopnya.


"makanya bilang ke saudari kembarmu itu, supaya dia mau nikah cepat"


"nah trus gue sama siapa"


"nikah aja noh sama tembok" jawab al dan arya secara bersamaan.


"sial ya Tuhan apa salah hamba! kenapa bisa hamba punya sahabat seperti mereka berdua"


"haha nasib lo"


"ayo cari makan, kalian nggak kasihan apa sama sahabatmu ini. udah jomblo, yakali mati juga gara-gara kelaparan"


"makannya cari pasangan, jangan loe terus-terusan bucin sama istri sahabat sendiri" sarkas arya sembari tersenyum.


"crewet"


"nih ambil, tadi gisa membuatkan untuk kalian juga"


"astaga baik sekali dewiku"


"apa kau bilang tadi"


"ti... tidak aku tidak bilang apa-apa" jawab galih sembari tergagap.


"gue denger ya"


"maaf-maaf kelepasan sob"


"mampus loe, pawangnya marah. ohh dewiku hahaha" ejek arya sembari mengambil boks makanan pemberian al.


"sialan loe ya"


"makan tuh pawangnya kek singa"


"makan ya al"


"nggak usah sok manis loe. cengar-cengir gue masih normal"


"gue percaya istri loe aja cantik banget. kenapa bukan gue yang tampan bak dewa ini, yang berjodoh dengan dewi gisa"


"heh kalau gisa berjodoh denganmu mungkin gisa sekarang sudah depresi bodoh"


"kenapa gitu"


"iyalah, dia setiap hari harus menghadapi orang gila seperti dirimu" jawab arya sembari terkekeh.


"sialan. gisa saja bisa menghadapi manusia es seperti al, kenapa dia malah depresi menghadapi manusia tampan sepertiku"


"kau tadi sarapan apa?"


"bubur ayam di depan gang"


"pantes gilamu malah bertambah parah" jawab al sembari tersenyum.


"sialan kalian berdua. aku bisa gila beneran kalau setiap hari di hadapkan manusia-manusia sinting seperti kalian berdua"


"nggak berhadapan sama kita, loe emang udah sinting lih"


"kampret loe emang" ucap galih sembari menimpuk arya dengan tissue di atas meja.


*****


"alexs kau disini?" tanya bella dengan sedikit terkejut ketika ia baru saja pulang dan melihat alexs berada di apartemennya bersama sang mama.


"iya"


"iya bel, alexs memutuskan untuk lanjut kuliah disini juga"


"iya"


"ahhh, aku seneng banget. ahkirnya aku tidak kesepian lagi"


"itu tidak akan terjadi lagi, karna sekarang ada aku yang akan selalu menemani kamu"


"ahh andai saja gisel ikut pindah, pasti akan sangat menyenangkan"


"kamu ini bel maunya bertiga terus. kalian sejak kecil memang tidak pernah berpisah"


"iya ma, aku sebenarnya sangat merindukan gisel"


"kamu harus membiasakan dirimu tanpa sahabat-sahabatmu bel. suatu saat kalian semua akan menikah, dan kalian tidak mungkin selalu bersama-sama terus"


"ahh iya aku rasa mama benar. apa papa belum pulang ma?"


"belum, mungkin sebentar lagi"


"al ayo kita jalan"


"kemana?"


"cari udara segar"


"apa kamu tidak lelah? kamu baru saja pulang bel"


"aku sama sekali tidak lelah lexs, sudah ayo"


"apa boleh ma?"


"pergilah lexs, dari pada bella merajuk"


"kalau begitu kami pergi dulu ya ma" pamit alexs sembari mencium tangan mama liyla, begitu pula dengan bella.


"kita mau kemana?"


"kamu maunya kemana?"


"ditanya malah balik nanya, dasar menyebalkan" ucap alexs sembari mengacau lembut rambut bella.


"terserah kamu saja"


"okelah kalau begitu" ucap alexs sembari menarik tangan bella.


"kita mau kemana lexs?"


"ke pelaminan" jawab alexs santai.


sedangkan bella hanya bisa tersipu malu, ketika mendengar jawaban alexs. bahkan wajahnya kini telah berubah memerah.


setelah menempuh perjalanan hampir 40 menit akhirnya mereka sampai juga di menara eiffel.


"kau mengajakku kemari?"


"iya, aku ingin menikmati pemandangan paris dari atas sana"


"tapi aku kan takut ketinggian lexs"


"jangan khawatir, ada aku yang akan selalu di sampingmu"


"baiklah"


dengan segera alexs mengajak bella naik.


"jangan tegang-tegang, kau bisa di ketawain orang-orang kalau seperti ini"


"aku takut"


"kita belum juga sampai bel"


"iya tapi aku sudah merasa takut"


"pegangan yang erat kalau begitu"


"iya"


"nah sekarang kita sudah sampai, ayo buka matamu"


"aku tidak mau, aku sangat takut lexs"


"apa kamu tidak percaya aku?"


"aku percaya kamu"


"kalau begitu bukalah matamu"


"baiklah, tapi janji ya jangan tinggalin aku"


"tidak akan tuan putri"


"lexs ini tinggi banget" ucap bella ketika baru saja membuka matanya.


"lihatlah, pemandangannya indah banget bel"


"ini untuk pertama kalinya aku berada di ketinggian lexs, tapi jujur ini benar-benar indah"


"tentu saja, apa lagi kamu di temani sama pria tampan sepertiku"


"kamy terlalu percaya diri lexs" jawab bella sembari terkekeh.


"itu fakta nona cantik"


"iya deh"


"lihatlah bulan di atas sana bulat sempurna, dan di kelilingi dengan begitu banyak bintang" ucap alexs sembari menatap langit malam


"ia sangat indah"


"aku mau ngomong sesuatu sama kamu"


"mau ngomong apa?"


"aku mencintaimu"


"a.... apa?" tanya bella secara terbata-bata karna tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"aku mencintaimu. maukah kamu menjadi pasanganku? menjadi ibu dari anak-anakku nanti"


"tapi lexs"


"aku nggak butuh jawaban sekarang bel, kau bisa memikirkannya"


"sebenarnya aku juga mencintaimu, tapi...."


"tapi apa?"


"gisel juga menyukaimu lexs"


"lalu kamu mau korbankan perasaan kita demi gisel bel!"


"aku tidak tau lexs"


"kita jalani dulu ya. masalah gisel aku percaya kalau dia akan bahagia kalau kita berdua bahagia"


"iya aku mau"jawab bella sembari meneteskan air mata.


"heyyy sayang kenapa kamu menangis?" tsnya alexs sembari menghapus air mata bella.


"aku tidak menangis lexs, aku sangat bahagia sekali"


"terimakasih karna telah mau menjadi kekasihku. aku janji akan selalu menjaga dirimu"


"aku percaya kamu" jawab bella sembari menghambur kedalam pelukan alexs.


"terimakasih sayang, karna kamu telah mau menjadi wanitaku" ucap alexs sembari mencium kening bella.