My Introvert Husband

My Introvert Husband
bertukar ilmu



''oh iya al apa kamu tidak ingin mengajak istrimu bulan madu?" tanya papi


"iya sayang, apa kamu tidak ingin bulan madu gisa?" kini giliran mami yang bertanya kepada gisa.


"untuk apa bulan madu mi? kami bisa melakukannya dirumah" ucap gisa dengan polosnya. hingga membuat semua orang dirumah itu tertawa.


menyadari jawabannya yang salah gisa dengan segera menutup mulutnya karna ia merasa benar-benar malu.


*"astaga istriku ini sangat polos sekali"* gumam al dalam hati sembari tersenyum.


sedangkan gisa yang melihat suaminya tersenyum dengan segera menginjak kaki al.


"auuu" pekik al.


"abang kenapa?'' tanya alice dengan khawatir.


"tidak apa-apa, hanya saja kakiku kesemutan"


"abang ini membuatku khawatir saja" gerutu alice.


"maaf adikku sayang"


setelah selesai menikmati makan malam mereka semua segera menuju taman belakang untuk memulai pesta barbeque.


"gisa apa kau benar-benar tidak ingin pergi bulan madu?'' tanya billa.


"iya sa, kau menikah dengan abangku sudah hampir dua bulan tapi kau belum bulan madu. atau jangan-jangan abangku belum menyentuhmu!"


"gisa jangan bilang yang dibilang kak alice itu benar"


"tidak. aku dan kakak al sudah melakukannya"


"benarkah?" tanya alice dan billa dengan sangat antusias.


"iya"


"apa kakak al sangat buas kalau diranjang sa?" tanya billa dengan penuh semangat.


"iya. bahkan aku sangat kualahan menghadapinya, tulangku serasa mau rontok kalau dia meminta haknya"


"waw" ucap alice dan billa secara bersamaan.


"kakak-kakakku yang cantik sedang membahas apa sih? kelihatannya seru sekali" tanya alexs yang baru saja datang"


"anak kecil kepo sekali, pergi sana bersama bella dan juga gisel" ucap alice.


"iya tauk nik alexs kepo sekali. anak kecil gabung sama anak kecil sana"


"aku tidak mau. bella dan gisel sangat menyebalkan" ucap alexs sembari memberengut.


"kau pun juga sama menyebalkannya lexs"


"ihh kakak ini tega sekali sama adik sendiri"


"iya-iya aku pergi" ucap alexs sembari berlalu pergi.


"sayang"


"aduh baru saja alexs pergi sekarang malah kau yang kemari"


"sayang kenapa kau malah marah-marah. akukan merindukan kekasihku"


"aku sedang ingin bertukar ilmu dengan gisa dan juga billa, mendingan kau pergi saja sana''


''sayang kenapa kau malah mengusirku"


"aku tidak mengusirmu, lebih baik kau bergabung saja dengan abang dan juga galih"


"tapi aku merindukanmu"


"sudah-sudah cepat pergi"


"aku tidak mau" ucap arya sembari memeluk alice dengan sangat erat.


"astaga kenapa kau menyebalkan sekali hari ini. aku tidak pernah memiliki kekasih yang menyebalkan"


"biarkan saja, habisnya aku merindukanmu"


"hah baiklah terserah kau saja" ucap alice pasrah.


sedangkan tak jauh dari situ papi varo, papa gio, dan papa bima terus mengawasi mereka.


"ro kapan kamu akan menikahkan mereka berdua?" tanya papa gio


"iya ro. lihatlah mereka terlihat sangat serasi" timpal papa bima.


"sebenarnya aku juga sudah ingin menikahkab alice. akan tetapi aku masih sedikit ragu, apalagi kalian tau sendiri kalah alice sangat manja. aku takut dia tidak bisa menjadi istri yang baik untuk arya"


"semua itu butuh proses ro. apa kamu fikir gisa bukan anak yang manja, gisa pun tidak jauh berbeda dengan alice"


"iya kau ada benarnya juga sih yo. tunggu nanti sajalah, aku inginnya setelah menikah alice vakum dari pekerjaannya sama seperti yang dilakukan gisa"


"setiap anak itu berbeda-beda ro kamu nggak bisa kalau menyuruh alice untuk sama seperti gisa"


''iya juga sih"


"sudah cepat nikahkan, biar kita cepat punya cucu-cucu yang lucu" timpal bima.


"kau juga, cepat nikahkan billa"


"billa mungin tahun depan. soalnya kekasih billa masih di paris"


''hah aku benar-benar tidak menyangka kalau sekarang kita sudah tua, bahkan anak-anak kita sudah mau menikah. rasanya baru kemarin sore mereka kita mandikan, tetapi sekarang mereka siap membangun rumah tangga mereka sendiri"


"iya kau benar ro. aku juga masih tidak menyangka kalau kita ini sudah tua" ucap papa gio sembari memeluk papi varo, dan papa bima pun tak mau kalah dari kedua sahabatnya, ia pun turut memeluk kedua sahabat karipnya itu.