My Introvert Husband

My Introvert Husband
kepulangan oma syifa dan oma dahlia



"bagaimana keadaan cucuku?" tanya wanita tua yang baru saja masuk kedalam ruang rawat Al.


"mama" panggil mami melati.


"sayang bagaimana keadaanmu nak?"


"melati baik ma. mama kenapa pulang nggak kasih tau melati atau pun varo, jadi kami bisa jemput mama"


"mama sengaja mau kasih kejutan sama kalian, tapi begitu mama pulang malah dapat berita kalau cucu tertuaku masuk rumah sakit" ucap oma syifa.


"mama nggak perlu khawatir, Al cuma kecapean aja"


"anak ini sama persis dengan varo. kenapa Al tidak mewarisi sifat kamu saja sih mel"


"mama lucu banget sih. bagaimanapun varo itu ayahnya ma, kalau Al mewarisi sifat varo itu bukan lah suatu hal yg aneh"


"kamu benar juga sayang" ucap oma syifa sembari memeluk mami melati.


"pelukan terus tapi nggak ajak-ajak mama" ucap wanita tua lainnya yang baru saja datang.


"mama" ucap mami melati sembari menghambur kepelukan sang mama, ya beliau adalah oma dahlia.


selama ini oma syifa dan oma dahlia menetap di paris, sedangkan opa agung sudah meninggal sekitar tiga tahun yang lalu.


"mama sehat?"


"mama baik-baik aja. apa kau tidak lihat" jawab oma dahlia sembari tersenyum.


"mama, sama mama syifa tinggal disini aja ya sama melati dan varo. melati suka khawatir kalau jauh sama mama"


"mel-mel kita ini udah tua, kamu nggak perlu khawatir sama kami nak. kami bisa jaga diri kami" ucap oma syifa sembari terkekeh.


mami melati memang sangat menghawatirkan kedua orang tua itu ketika mereka berjauhan. walau pun mami selalu menempatkan orang-orang kepercayaannya untuk menjaga sang mama dan mama mertuanya itu, tapi rasanya masih saja ada yang kurang ketika ia tak bisa memantau secara langsung keduanya.


"mel tau mama dan mama dahlia wanita yang tangguh, tapi apa salahnya sih ma kalau menghabiskan masa tua bersama anak cucu dirumah. udah nggak usah kerja lagi, harta kita udah cukup banyak"


"mama dan mamamu akan pulang kalau kami sudah cukup lelah untuk bermain-main mel" jawab oma syifa.


"eyang yut" panggil starla, nono, dan juga nana secara bersamaan.


ya tadi gisel memang pamit untuk menjemput anak-anak dan menitipkan Al kepada mami melati. sedangkan mama sarah dan alice pergi ke butik, begitu pun dengan papi varo, papa gio, dan arya mereka juga pergi kekantor.


"ahh cicit eyang yut yang cantik dan ganteng-ganteng" ucap oma syifa dengan merentangkan kedua tangannya agar ketiga cicitnya dapat masuk kedalam pelukannya.


"eyang yut kita kangen tau, kenapa eyang yut nggak disini aja sih sama kita" ucap nana begitu mereka telah mengurai peluknya.


"nakula nanti eyang yut bakal pulang kok kalau pekerjaan eyang yut udah selesai" kali ini oma dahlia yang menjawab sembari mengelus kepala nakula.


"oma kapan pulang? kenapa nggak hubungi gisel"


"kalau oma hubungin kamu namanya nggak kejutan dong nak" ucap oma dahlia sembari memeluk gisel. bagi oma dahlia maupun oma syifa anak-anak sarah dan lyla sudah seperti cucu mereka sendiri.


"loh sel ini siapa?" tanya oma syifa sembari menatap anak laki-laki yang sedari tadi berdiri disamping gisel.


"ahh ini gara oma. gara sayang ayo salim sama eyang yut" ucap gisel sembari mengelus puncak kepala gara.


"hai eyang yut, kenalin saya gara" ucap gara sembari mencium punggung tangan oma syifa dan oma dahlia secara bergantian.


"astaga anak ini tampan sekali gisel, dia anaknya siapa?" tanya oma syifa kembali, pasalnya oma syifa hanya ingat kalau beliau hanya mempunyai empat cicit yaitu starla, juno, nakula, dan juga abel.


"gara ini teman sekolahnya nana, nono oma"


"tapi kenapa kamu bawa dia kemari gisel, nanti orang tuanya kalau nyariin gimana" ucap oma dahlia sembari menatap gara yang kini sudah duduk di sofa bersama nana, nono, da juga starla.


"itu nggak akan terjadi oma"


"maksud kamu, dia udah nggak punya orang tua?" kini giliran oma syifa yang bertanya.


"gara punya orang tua ma, tapi kedua orang tuanya tidak pernah memperdulikannya" kini mami melati yag menjawabnya.


"ahh anak malang, kalian harus menjaganya"


"itu pasti oma" jawab gisel sembari tersenyum.


"apa kalian nggak melakukan sesuatu untuk anak itu, agar kedua orang tuanya berhenti menyiksanya?"


"udah ma, Al yang selalu berusaha melindunginya. bahkan Al selalu mengancam kedua orang tuanya kalau sampai berani menyakiti gara lagi, Al akan mengakusisi perusahaan mereka" jawab mami melati.


"bagus cucuku memang bisa diandalkan" ucap oma syifa sembari tersenyum.


"mi gimana apa kakak Al sudah sadar?"


"belum sayang. sudah dari tadi tapi kenapa abangmu belum juga sadar ya" jawab mami melati dengan wajah sedih, dapat gisel lihat sorot mata itu menggambarkan kekhawatiran.


"mami tenang aja, kakak Al pasti baik-baik aja. biarin kakak Al istirahat dulu"


"iya sayang"