My Introvert Husband

My Introvert Husband
starla sakit



"sayang apa perutnya masih sakit, apa kamu masih lemas?"


"masih daddy, ini sakit sekali" ucap starla sembari bercucuran air mata.


al benar-benar tidak tega melihat putrinya kesakitan seperti itu, ia bingung harus melakukan apa. sedangkan starla selalu menolak jika di bawa ke rumah sakit.


"starla sayang. kamu akhir-akhir ini sering sekali mengalami sakit perut, dan juga kelelahan kita pergi ke rumah sakit ya nak. jadi biar kita tau kamu sakit apa" ucap al sembari mengelus kepala starla.


"aku nggak mau daddy, aku nggak kenapa-kenapa"


"tapi kamu kesakitan seperti itu nak"


"starla baik-baik aja, setelah minum teh hangat buatan bibi pasti sebentar lagi akan sembuh"


*"gisa sayang, aku harus bagaimana menghadapi putri kita yang sangat keras kepala ini. kenapa sifat starla menurun dariku, kenapa bukan menurun sifatmu sayang. ketika melihatnya menangis seperti ini aku merasa gagal menjadi seorang ayah"* gumam al dalam hati.


"daddy kenapa masih di sini? daddy pergi kerja aja, starla sudah mendingan"


"bagaimana daddy bisa kerja, sedangkan putri ayah sedang sakit"


"starla baik-baik aja dad, daddy pergi kerja gih. nanti di cari sama om arya lo"


"daddy nggak akan tenang kalau ninggalin kamu sendirian sayang"


"starla gapapa dad"


"starla sayang. kamu sakit apa?" ucap laras yang baru saja datang, ya pagi tadi riko memberi tahunya jika starla sedang sakit. jadi laras langsung minta izin kepada riko.


"mama"


laras segera menghampiri starla dan langsung memeluknya.


"kamu kenapa sayang?"


"aku gapapa kok ma. cuma sakit perut biasa, sekarang juga udah sembuh" jawab starla sembari tersenyum.


"kita ke rumah sakit ya nak, biar kita tau starla sakit apa"


"starla udah baik-baik aja ma"


bohong, ya starla bohong. sebenarnya perutnya masih sakit, dan badannya pun sangat lemas hanya saja ia berusaha menutupinya. ia tidak ingin melihat daddynya sedih, ia juga tidak ingin melihat mama laras sedih.


"starla nggak bohong sama mama?"


"nggak ma, kata daddy kalau bohong itu dosa. dan kalau banyak dosa nanti masuk neraka, starla nggak mau ah masuk neraka nanti nggak bisa ketemu sama mommy"


laras langsung memeluk starla, ia begitu khawatir kepada bocah kecil itu. bahkan matanya memerah dan lapisan kaca itu mulai menetes.


"pak al pergi ke kantor aja, biar starla bersama saya"


"tapi kamu juga harus kerja laras"


"saya gapapa pak, tadi sudah minta izin sama mas riko"


"tuh dad, ada mama disini. daddy kerja ya, kasihan om arya sendirian dad"


"iya udah daddy pergi kerja dulu. kamu sama mama hati-hati di rumah"


"iya dad"


"laras saya titip starla"


"iya pak, saya pasti akan menjaganya"


dengan segera al bangkit dari duduknya sebelum pergi ia sempatkan mencium putri kecilnya.


*******


"oii fokus zulkidin" ucap galih ketika sedari tadi melihat al hanya melamun dan tidak fokus ketika ia tengah menjelaskan.


"gue nggak bisa konsen"


"loe kenapa sih al?" tanya aleta.


"starla sakit dan gue bener-bener khawatir sama dia"


"apa? keponakan gue sakit. terus loe udah bawa dia ke rumah sakit?" tanya galih dengan terkejut.


"belum"


"loe gila ya al. bisa-bisanya keponakan gue sakit tapi loe biarin aja" ucap galih emosi, ia pun jadi ikut khawatir dengan keadaan starla.


"gal loe tau sendirikan gimana keras kepalanya starla"


"kenapa bocah itu harus mewarisi sifat keras kepalamu, kenapa dia nggak meniru sifat gisa saja"


"apa loe fikir gue mau, dia keras kepala kayak gue gal. kalau gue bisa minta sama Tuhan gue bakal minta supaya starla bisa mewarisi sifat mommynya"


"kita paksa dia pergi ke rumah sakit" final galih.


"gal loe gila. loe nggak inget, terakhir kali kita paksa starla buat pergi ke rumah sakit. anak itu malah kabur gal" ucap aleta.


"terus kita harus gimana ta. gue nggak mau keponakan gue kenapa-kenapa, apalagi bocah itu akhir-akhir ini sering sekali merasakan sakit di perutnya dan selalu terlihat lemas"


"kita kasih starla obat tidur"


"loe gila" ucap al dan galih secara bersamaan.


"sekali aja, seenggaknya starla nggak berontak ketika kita bawa dia ke rumah sakit"


"loe ada benernya sih ta. udah ayo balik, kita bawa keponakan kesayangan gue kerumah sakit. gue juga ikutan nggak bisa tenang" ucap galih sembari bangkit dari duduknya.


*******


"kak starla" panggil gadis kecil yang usianya dua tahun lebih muda dari starla.


"abel"


"abel akhirnya ketemu sama kakak, abel seneng banget" ucap gadis itu sembari memeluk erat starla.


"starla sayang, kamu gapapa kan? mana yang sakit?"


"starla gapapa oma. starla udah sembuh kok"


starla benci jika sudah seperti ini, jika ia sakit semua orang akan menghawatirkannya. apa lagi kedua neneknya ini, mereka akan terus-terusan menangis jika ia sakit.


"sayang ayo mak__"


"ngapain loe disini?" ucap alexs memotong ucapan laras. ia menatap tajam dan terlihat jelas dari tatapan alexs kalau pria itu masih begitu membencinya.


laras hanya bisa menunduk, dia selalu takut dengan alexs.


*"kenapa mas alexs ada disini, Tuhan aku harus bagaimana. aku benar-benar takut"* gumam laras dalam hati.


"om alexs kenapa bentak-bentak mama starla. starla nggak suka kalau ada yang menyakiti mama" ucap starla bangkit dari duduknya dan langsung memeluk laras.


"starla siapa yang menyuruhmu memanggil pembunuh itu mama. dia bukan mamamu, dia yang telah menyebabkan mommy mu meninggal starla"


plak..


"alexs apa-apaan kamu ini" ucap mami melati sembari menampar alexs, mami melati benar-benar nggak habis fikir kenapa putranya yang satu itu begitu membenci laras.


"mami nampar aku cuma gara-gara belain pembunuh itu" ucap alexs sembari menunjuk laras.


"alexs jangan keterlaluan kamu"


"lexs udah, kenapa kamu begitu membenci laras sih. kepergian kak gisa itu musibah lexs, jangan pernah salahin laras lagi" ucap bella seraya mengelus lengan alexs berusaha menenangkan suaminya.


"papa jangan marah-marah dong, kasian kak starla lagi sakit" ucap abel.


"alexs mami nggak pernah ngajarin kamu seperti itu ya" ucap mami melati sembari menatap tajam alexs.


"alexs buang rasa benci kamu nak. jangan seperti ini" timpal mama sarah.


"mami, sama mama kenapa sih selalu aja belain pembunuh ini" ucap alexs sembari menekankan kata pembunuh.


"om alexs jahat. mama laras bukan pembunuh" ucap starla mulai menangis.


"ahh brengsek" ucap alexs sembari berlalu pergi.


"bella susul suamimu yang keras kepala itu"


"iya mi. abel disini dulu sama nenek ya"


"iya ma"


"aku benar-benar nggak habis fikir sama alexs, kenapa dia bisa sebenci itu sama laras. padahal kejadian itu nggak sepenuhnya kesalahan laras" ucap mami sembari memijat pangkal hidungnya.


"udah mel, jangan terlalu di fikirkan" ucap mama sarah sembari mengelus pundak mami.


"laras maafin alexs ya, kelakuan alexs pasti buat kamu nggak nyaman"


"laras gapapa kok buk, laras paham gimana perasaan mas alexs. menurut laras wajar kalau mas alexs seperti itu" jawab laras sembari tersenyum. "anak mama udah dong nangisnya, anak cantik nggak boleh nangis ya"


"tapi om alexs jahat ma. masak om alexs nuduh mama sebagai pembunuh"


"om alexs nggak jahat sayang"


"iya kak, papa nggak jahat kok. cuma sedikit galak aja, maafin papa abel ya kak. kakak jangan nangis lagi, kalau kakak sedih, abel jadi ikutan sedih" ucap abel sembari memeluk starla.


"emmt" dehem starla sembari membalas pelukan abel.


"ayo anak mama makan dulu, mama udah bikinan bubur nih"


"wahh bubur buatan mama pasti enak"


"itu pasti. mama akan selalu buat yang terbaik untuk anak kesayangan mama"


"starla sayang mama"


"mama juga sayang sama starla. makan yang banyak ya nak, biar cepet sembuh" ucap laras mulai menyuapi starla.


melati dan sarah tak mampu menahan senyumnya. mereka bahagia melihat adegan di depannya, walau pun bukan anak kandungnya tapi terlihat sangat jelas kalau laras sangat menyayangi starla.


"aku seneng mel. cucu kita sekarang bisa merasakan kasih sayang seorang ibu" bisik mama sarah.


"aku juga senang sar. tapi sampai saat ini al masih tetap batu, dia masih saja tidak mau membuka hatinya untuk laras. padahal laras gadis yang baik, dan dia juga mama yang baik untuk starla" ucap mami melati sendu.


"kita harus beri al waktu mel, semuanya nggak bisa instan"


"alhamdullilah anak mama pinter banget, makanannya udah habis"


"iya dong ma. starla pengen cepet sembuh, nanti mama bawa starla ke taman sama beli ice cream kayak biasanya ya"


"iya, tapi anak mama harus sembuh dulu"


"siap komandan"


"abel juga mau ikut"


"iya nanti ya sayang kalau kakaknya udah sembuh" ucap laras sembari mengelus puncak kepala abel.


"iya tante"


"mama starla ngantuk"


"ya udah kita bobok ya"


"iya ma"


"bu melati, bu sarah. saya bawa starla ke kamar dulu" pamit laras kepada mami melati dan mama sarah.


"iya ras" jawab mami dan mama secara bersamaan.


dengan segera laras menggendong starla dan membawanya menuju kamar.


*****


"loh mami, sama mama disini!" ucap alice ketika baru saja datang.


"iya sayang"


"laras sama starla mana?"


"ada dikamarnya, tadi starla bilang kalau dia mengantuk"


"laras memang sudah mencampurkan obat tidur di makanan starla"


"apa?" ucap mama dan mami secara bersamaan.


"ini ide abang, kami terpaksa melakukan ini agar starla mau di bawa ke rumah sakit. anak itu akan selau kabur kalau dibawa ke rumah sakit"


"ahh ada benarnya juga"


dengan segera alice merogoh ponselnya untuk menghubungi laras agar segera turun.


tak lama setelah itu laras sudah turun sembari menggendong starla yang sudah tertidur dengan lelap.


"udah siap?" tanya alice kepada laras .


"udah mbak"


"ya udah ayo berangkat. mi, ma kita pergi dulu ya"


"iya sayang kalian hati-hati"


"iya"


********


"kenapa lama sekali" ucap al ketika alice dan laras baru saja datang.


"maaf pak, tadi bu melati, bu sarah, mas alexs, dan mbak bella datang kerumah" jawab laras sembari menunduk.


"alexs" ucap al, alice, galih, dan aleta secara bersamaan.


"iya"


"apa alexs marah-marah sama kamu?" tanya alice sembari memegang pundak laras.


"sedikit mbak, tapi saya gapapa kok. itu membuat saya menunda memberikan makan sama starla, jadinya agak lama. maaf karena telah membuat pak al, pak galih, dan mbak aleta menunggu"


"gapapa, setiap omongan yang keluar dari mulut alexs jangan kamu masukkin hati ras"


"tidak pak, saya paham kok kenapa mas alexs seperti itu"


"kenapa anak nakal itu pulang, tapi tidak memberitahu kita bang. dia sudah bertahun-tahun nggak pulang, sekalinya pulang bikin masalah. awas aja kalau dia bikin onar dan membuat kondisi mami drop, bakal gue patahin lehernya, gue cekik sekalian"


"udah nggak usah emosi. ayo kita masuk, dokter esa udah nunggu didalam"


"abang sama laras aja yang masuk. biar aku, galih dan aleta tunggu disini"


"baiklah. ayo ras"


"iya pak"


dengan segera al dan laras masuk kedalam ruangan dokter esa. dan sesampainya disana laras segera membaringkan tubuh starla di atas blankar dan dokter esa pun segera memeriksa starla.


"putri saya bakal baik-baik aja kan dok?"


"pak al tenang, biar saya memeriksa starla dulu"


"starla kamu harus baik-baik aja nak. mama sayang sama kamu, kamu nggak boleh kenapa-kenapa" gumam laras namun masih bisa di dengar oleh al.


al dapat melihat bagaimana khawatirnya laras, al tau kalau gadis itu sangat menyayangi putri kecilnya.


setelah melakukan pemeriksaan secara menyeluruh dokter esa segera duduk di kursi kerjanya, al dan laras segera mengikuti dokter esa.


"bagaimana dok?"


"dari hasil pemeriksaan saya starla mengalami gagal ginjal pak, itu makannya kenapa starla sering mengeluh sakut pada perutnya dan juga mudah merasa lelah"


"apa?" ucap al dan laras secara bersamaan. mereka berdua benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. bagaimana mungkin gadis sekecil itu harus mengalami hal semacam ini.


"tapi putri saya bisa sembuh kan dok?"


"jalan satu-satunya kita harus melakukan transparasi ginjal pak"


"tolong lakukan yang terbaik untuk putri saya dok, berapapun biayanya saya akan bayar"


"kami akan bantu mencari donor ginjal yang cocok untuk starla. tapi saya juga minta, pak al juga berusaha mencari"


"iya dok, saya juga akan berusaha"


laras sudah tidak mampu lagi berkata-kata. air matanya jatuh membanjiri pipi mulusnya, dia masih benar-benar tidak menyangka kalau starla ternyata sakit separah itu.


"udah jangan nangis, kita pasti bisa nemuin donor ginjal untuk starla. jangan nangis lagi" ucap al berusaha menengkan laras, walau pun tidak di pungkiri kalau al sendiri sama hancurnya dengan laras.


"kenapa harus starla pak. kenapa harus dia, kenapa nggak saya aja" ucap laras masih dengan berlinangan air mata.


"udah ayo pulang, jangan nangis lagi. mami sama mama sedang di rumah, jangan sampai mereka khawatir"


"iya pak"


"kalau begitu kami pamit dulu dok" pamit al kepada dokter esa.


"iya pak, hati-hati dijalan"


"iya dok" jawab al sembari bangkit dari duduknya, dan segera menggendong starla.


"abang gimana keadaan starla?" tanya alice ketika melihat al dan laras keluar dari ruangan.


"ras loe kenapa nangis gini?" ucap aleta sembari memegang kedua bahu laras.


bukannya menjawab pertanyaannya, laras justru langsung memeluk aleta.


"al sebenernya apa yang terjadi?" tanya galih kepada al.


"starla mengalami gagal ginjal gal. dia butuh donor ginjal secepatnya, kalau nggak kita harus rutin membawanya cuci darah"


"nggak-nggak mungkin. keponakan gue nggak mungkin sakit separah itu" ucap galih dengan mata mulai memerah, ia meremat rambutnya dengan kuat.


sedangakan aleta dan alice yang mendengar penuturan al langsung menangis dan nggak bisa lagi membendung air matanya, mereka sama rapuhnya dengan laras.


"gue harap nanti sampai rumah, kita bersikap sewajarnya. jangan sampai membuat mami dan mama khawatir, mami baru aja sembuh"


"iya" jawab galih, aleta, alice, dan laras secara bersamaan.


"sudahi tangis kalian. jangan sampai pulang dengan mata sembab"


"tapi mau sampai kapan kita sembunyikan ini dari mami dan mama bang?"


"sampai kita dapatin donor buat starla"


*******


"kalian udah pulang?" tanya mami ketika melihat al dan rombongan sampai rumah.


"iya mi. mami udah lama?"


"iya nak. mami dan mama sengaja nunggu kalian"


"iya al. gimana kondisi cucu mama"


"starla gapapa. mama dan mami nggak usah khawatir"


"ahh syukurlah" ucap mami dan mama secara bersamaan.


"heh bocah nakal, kenapa loe pulang tapi nggak ngasih tau gue atau pun abang"


"sengaja mau bikin kejutan"


"mau bikin kejutan, atau mau bikin onar loe. loe pasti tadi marahin laras kan"


"kakak kenapa sih belaiin pembunuh itu"


"jaga mulutmu lexs"


"terserah"


"stop jangan bertengkar lagi"


"pak al biar saya bawa starla ke atas" ucap laras sembari mengambil alih starla dari gendongan al.


"terimakasih ras"


"iya pak"