My Introvert Husband

My Introvert Husband
fitting baju



"gisa sayang, kemarilah papa ingin bicara penting kepadamu" ucap papa gio ketika baru saja melihat putri sulungnya pulang.


"ada apa pa? gisa kekamar dulu ya, gisa mandi dulu baru kita bicara pa. gisa gerah sekali pa"


"mandi nanti saja, sekarang duduklah" kata papa gio penuh dengan keseriusan.


"ada apa pa?" tanya gisa ketika sudah duduk di samping sang papa.


"gisa sayang papa ingin menyampaikan sesuatu kepadamu, mungkin saja apa yang papa sampaikan ini bisa membuatmu terkejut"


"memangnya papa mau bicara apa sih pa?"


"minggu depan kamu harus menikah"


"apa pa menikah? papa jangan bercanda dong pa. ma, papa hanya bercandakan ma?"


"tidak sayang papa memang tidak sedang bercanda"


"sebenarnya papa sudah menjodohkan kalian sedari kalian masih kecil, dan papa rasa usia kalian sudah cukup matang untuk membina rumah tangga. jadi papa minta sama kamu persiapkan dirimu untuk pernikahanmu, dan papa juga minta setelah kamu menikah, kamu berhenti menjadi seorang model. fokus kepada suamimu"


"memangnya papa menjodohkan gisa dengan siapa sih pa?"


"dengan al"


"apa, dengan kakak al pa?" tanya gisa memastikan bahwa dirinya memang sedang tidak salah dengar.


"iya dengan al, sudah sana mandi katanya gerah"


"lalu kenapa pernikahannya mendadak sekali pa?"


"oma yang mengatur waktunya papa dan papi varo tidak bisa membantah oma"


"baiklah gisa nurut saja sama papa, karna gisa yakin apa yang papa putuskan untuk gisa maka itu yang terbaik"


"kamu memang anak yang baik nak" ucap papa gio sembari mencium kening gisa.


"kalau gitu gisa ke kamar dulu ma, pa"


"iya sayang" jawab mama sarah dan papa gio bersamaan.


"astaga aku tidak bermimpikan, minggu depan aku akan menikah dengan pria yang selama ini aku cintai"


"tapi kakak al kan tidak mencintai diriku. aku harus bagaimana tuhan, harus bahagia atau justru harus sedih"


setelah cukup lama merenung gisa segera masuk kedalam kamar mandi dan segera membersihkan tubuhnya. dan setelah mandi gisa oun segera merebahkan tubuh lelahnya ke ranjang, dan tak butuh waktu lama gisa pun sudah tertidur pulas dan di buai oleh mimpi.


*******


"alice"


"iya oma ada apa?"


"siang ini kamu ada acara?"


"tidak oma, alice sengaja kosongkan jadwal alice untuk mempersiapkan acara pernikahan abang oma"


"bagus princess oma memang paling pintar. sekarang kamu temani gisa dan abangmu untuk fitting baju pengantin, oke"


"jadi alice jemput gisa, lalu baru kekantor abang gitu oma"


"iya sayangku"


"baiklah kalau gitu alice bersiap-siap dulu oma"


"iya sayang"


alice segera naik kelantai dua dan menuju kamarnya, setibanya di dalam kamar alice segera mengganti pakaiannya dan mengambil tas jinjingnya.


"kakek adi, antarkan saya kerumah gisa ya" ucap alice ketika baru saja masuk kedalam mobil.


"baik nona muda"


pak adi segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, setelah menempuh perjalanan hampir 20 menit alice pun telah sampai di rumah gisa, dengan segera alice memencet bel yang ada di rumah itu.


"ehh kak alice, ada apa kak?" tanya gisel yang baru saja membuka pintu.


"gisel apa kakakmu ada?"


"ada kak, kak gisa sedang di kamarnya. kak alice masuklah, kakak samperin aja ke kamarnya"


"baiklah, oh iya gisel kenapa kau tidak kekampus?"


"ngapain kekampus kak, hari ini sedang tidak ada kelas"


"apa? sialan berarti alexs telah membohongiku lagi" ucap alice dengan geram.


"hahaha kak alice masih saja bisa di bohongi oleh alexs. hari ini alexs ada janji kencan dengan monika anak kampus pelita kak"


"awas saja dia, akan kuberi pelajaran kalau dia sudah pulang"


"tapi kakak jangan bilang sama alexs kalau tau hal ini dari gisek, bisa diamuk gisel nanti"


"kau tenang saja kakak akan melindungimu. sekarang kau panggil kakakmu, suruh dia bersiap. aku ingin mengajaknya keluar sekarang"


"iya kak tunggu sebentar ya" ucap gisel sembari berlalu pergi menuju kamar gisa.


tokk.... tokk..... tokk


"masuk" ucap gisa.


"kak di bawah ada kak alice"


"sedang apa kak alice kemari, dia tidak ada menghubungi kakak sel"


"mana gisel tau kak, sekarang kakak bersiaplah. kak alice ingin mengajak kakak keluar"


"oh baiklah"


"kalau pulang, jangan lupa bawa makanan ya kak"


"iya bawel, sudah keluar sana aku mau ganti baju"


"iya kak"


setelah gisel keluar gisa pun segera berganti pakaian dan sedikit memoles wajahnya agar tidak terlihat pucat.


"hai kak, kenapa tidak menghubungiku dulu kalau kakak mau kemari"


"sengaja, ayo kita berangkat"


"memang kita mau kemana kak?"


setelah menempuh perjalanan hampir 20 menit merekapun sampai dikantor milik al.


"inikan kantor kakak al, kita ngapain kesini kak?"


"tentu saja menemui calon suamimu, memangnya mau apa lagi. sudah ayo masuk"


"aku tidak mau, aku menunggu disini saja bersama kakek adi" jawab gisa sembari mencebikkan bibirnya.


"gisa kita ini mau fiting baju pengantin untukmu dan juga abang. kakek adi harus pulang, karna oma sudah menunggu beliau"


"baiklah"


dengan terpaksa gisa pun ikut turun bersama dengan alice.


"apa abangku ada di ruangannya?" tanya alice kepada salah satu resepsionis


"bapak ada bu"


"oke trimakasih"


tanpa membuang waktu lagi alice dan gisa segera menuju keruangannya al.


"apa abang ada didalam?" tanya alice kepada aleta.


"al ada didalam"


"panggil bapak, walaupun kamu adalah temannya kakakku tapi tidak seharusnya kamu memanggilnya dengan nama saja. bagaimana pun abangku adalah atasanmu"


"iya nona alice"


"kak alice kenapa harus marah-marah seperti ini sih. sudah jangan marah-marah terus nanti cepat tua loh"


"kau diamlah gisa, aku sedang kesal"


"kak alice ini seperti sedang pms saja"


"memang, ayo kita masuk"


"kak alice duluan saja, gisa kekamar mandi dulu"


"jangan lama-lama ya"


"iya kak"


"maafkan kak alice ya mbak, dia memang sedikit menyebalkan. tetapi dia aslinya baik kok"


"iya tidak apa-apa nona"


"oh iya kenalin aku gisa" ucap gisa sembari mengulurkan tangannya.


"aku aleta sekertarisnya pak al"


"senang bisa berkenalan denganmu, kalau begitu aku masuk dulu ya"


*"astaga dari dulu aku juga tau kalau alice orangnya sangat menyebalkan. tapi nona gisa malah meminta maaf atas nama nona alice, dia sungguh baik sekali. tidak heran kalau galih selalu menyebutnya bidadari, karna selain cantik dia juga sangat baik"*


"mbak, kenapa malah melamun?"


"ah tidak nona, silahkan anda masuk mungkin saja nona alice telah menunggu anda"


"saya permisi dulu ya" ucap gisa sembari masuk kedalam ruang kerja al.


"abang ayo kita fitting baju sekarang"


"kalian berdua saja dulu, abang masih sibuk"


"abang, yang mau menikah itu abang dan gisa bukan aku dan gisa jadi kenapa abang malah menyuruhku untuk fitting baju berdua dengan gisa"


"kak alice sudahlah, jangan marah-marah terus. lagian kakak al masih sibuk, biarkan nanti kakak al pergi fiting baju sendiri"


"tidak gisa, tadi mami menyuhku untuk menemani kalian berdua fiting baju"


"kalau abang tidak mau, aku telfon mami nih"


"iya-iya ayo kita pergi" ucap al sembari berdiri dari kursi kebesarannya.


"aleta, aku ada urusan sebentar. tolong kamu handle semua pekerjaan"


"baik pak"


********


"jangan yang ini aku tidak suka gisa"


"kalau yang ini kak"


"aku juga tidak suka"


"alice yang mau menikah itu aku dan gisa bukan dirimu, kenapa juga gisa harus memakai baju yang sesuai dengan seleramu"


"ya biarlah, orang gisa juga tidak keberatan"


"kau coba ini, jangan dengarkan omongan alice"


dengan segera gisa mengambil baju pengantin itu dari tangan al, dan segera mencobanya didalam ruang ganti.


"bagaimana kak? apa ini terlihat bagus untukku?" tanya gisa yang baru saja keluar dari ruang ganti"


"kau sungguh cantik gisa, aku tidak menyangka kalau abang pandai memilih baju untuk dirimu"


"sudahkan? ayo kita segera pulang"


"apa abang sudah selesai?"


"sudah" jawab al sembari mendahului gisa dan alice keluar.


"gisa cepat ganti bajumu, kalau kau lama singa jantan itu bisa mengamuk"


"iya kak"


dengan segera gisa mengganti pakaiannya dan segera kekuar dari ruag ganti, setelah semua urusannya selesai alice dan gisa segera masuk kedalam mobil al.


"lama sekali sih"


"maaf bang. jangan cemberut gitu dong, kasihan sekali sahabatku harus menikahi gunung es seperti dirimu"


"diam kau, crewet sekali"