
pagi itu tepat pukul 06.00 gisa telah membuka matanya.
"dia belum bangun'' gumam gisa sembari menelusuri hidung al dengan jarinya.
''dia selalu tampan dalam keadaan apapun''
''apa kau segitunya mengagumi diriku nyonya efendi'' ucap al sembari membuka matanya, hingga membuat gisa terkejut.
''kakak al sudah bangun?''
''sudah dari tadi''
''kakak al tadi memanggil aku apa?''
''nyonya efendi'' ulang al
gisa benar-benar tak habis fikir ketika suaminya memanggilnya seperti itu, rasanya ia tak percaya jika al memanggilnya seperti itu. hingga pada akhirnya gisa mencubit pipinya sendiri untuk memastikan jika dirinya tidaklah bermimpi.
"auu sakit''
''dasar bodoh. lagian kenapa kau mencubit pipimu sendiri''
''aku ingin memastikan kalau ini semua tidak mimpi kak''
''dasar bodoh'' ucap al sembari mencubit gemas hidung gisa.
''ini benar-benar tidak mimpi kak?''
namun bukannya menjawab al malah langsung melahap bibir ranum gisa, hingga membuat empunya hanya bisa diam sembari memelototkan kedua matanya. ia benar-benar tidak menyangka jika suaminya akan menciumnya seperti saat ini.
"jadi sejak kapan kau mencintai diriku?"
''ha apa?''
''tadi malam kau bilang, kalau kau mencintai diriku. jadi sejak kapan kau menyukaiku?''
''memangnya tadi malam aku bicara seperti itu kak?''
''dasar gadis bodoh, kalau kau tidak bilang mana mungkin diriku tau''
''jawab yang jujur'' ucap al sembari menatap tajam gisa.
''ak.... aku menyukai kaka al sedari kecil" ucap gisa dengan terbata-bata.
al segera mendekap gisa dan kembali mencium gisa, berbeda dengan sebelumnya, kali ini gisa membalas ciuman al. awalnya lembut namun lama kelamaan ciuman lembut itu berubah menjadi hisapan, gigitan, dan semakin memanas. hingga tak sadar hal itu telah membangkitkan gairahnya.
''apa aku boleh melakukannya?'' tanya al kepada gisa, dan tanpa berfikir panjang gisa pun menganggukkan kepalanya sebagai tanda persetujuan.
dan dengan segera al kembali melahap bibir ranum gisa, bahkan tangannya dengan lihai telah menelusup masuk dibalik baju yang gisa kenakan, bahkan kedua tangan itu telah meremas kedua gundukan indah gisa hingga membuat empunya meracau tak karuan.
tak butuh waktu lama al telah melucuti seluruh kain yang menempel ditubuh mereka, dan dengan segera al memulai penyatuan itu.
''ahhh sakit kakak al'' ucap gisa sembari meringis menahan sakit. namun al seolah-olah tak mendengar penuturan gisa, ia terus saja mencoba memasukkan adik kecilnya kedalam milik gisa. hingga membuat gisa berteriak karna menahan sakit ketika adik kecil al telah berhasil masuk kedalam dirinya, dan dengan segera al kembali melum*at bibir gisa untuk mengalihkan rasa sakit yang saat ini tengah dirasakan oleh istrinya.
setelah gisa mulai rileks dan hanyut dalam ciuman mereka, al segera menggerakan pinggulnya dengan pelan.
''kakak al pelan-pelan ini sungguh perih''
''awalnya memang sakit, akan tetapi nanti juga akan enak'' ucap al sembari kembali melahap bibir gisa.
entah sudah berapa kali mereka melakukan percintaan itu. pagi itu al telah membobol pertahanan gisa hingga berulang-ulang kali hingga membuat gisa lemah tak berdaya.
''kakak al aku sungguh sudah tidak kuat lagi''
''tahan sebentar sa, kita keluarkan bersama-sama''
''ahhh,,, emttt aku benar-benar sudah tidak kuat kak''
dan dengan cepat al menambah ritmenya hingga membuat mereka berdua melayang secara bersama-sama. dan untuk kesekian kalinya al, mengeluakan benih-benih unggulnya kedalam rahim gisa.
''aku juga mencintaimu gisa anastasia aroran" bisik al ditepat ditelinga gisa, sebelum ia menjatuhkan tubuhnya disamping gisa.
"kakak al bilang apa barusan?"
''aku mencintai dirimu istriku''
''aku lebih mencintai kakak al'' ucap gisa sembari memeluk al, tanpa ia sadari air matanya telah menetes membasahi pipinya.