
siang ini langit kelabu. seakan mengerti bahwa orang-orang itu tengah terlarut dalam duka mendalam. tak ada yang baik-baik saja ketika mereka harus kehilangan gadis cantik nan baik hati itu. rasanya terlalu sukar untuk di terima, terlalu sakit untuk di percaya.
tangis pilu masih setia menggema mengisi udara siang hari ini. kepergiannya yang begitu tiba-tiba menyisakan luka yang mendalam bagi orang-orang yang menyayanginya.
"laras,,, anak mama. bangun sayang, mama tau sedang bercanda kan nak" rani ibunda laras terus terisak, seolah semua ini hanya mimpi untuk rani. bagaimana tidak, pagi tadi rani masih menyuapi anak gadisnya, bercanda bersama, bahkan rani masih memandikannya. tapi kenapa sekarang putrinya telah pergi, pergi untuk selama-lamanya dan tak akan mungkin bisa kembali lagi, bahkan kini jasadnya pun sudah menyatu dengan tanah.
alice, gisel, dan bella sedari tak bisa membendung air mata mereka. ini benar-benar menyakitkan untuk mereka, gadis yang telah mereka anggap sebagai adik mereka kini telah pergi, pergi dengan menanggung sakit karena berusaha menyelamatkan peri kecil mereka.
"laras bangun dek, loe lagi bercandakan. gue udah bilang sama loe kalau gue bakal berusaha buat kesembuhan loe, tapi kenapa loe malah pergi lebih dulu diasaat gue sama yang lainnya masih berusaha" gumam alice dengan suara bergetar, arya sedari tadi selalu mendekap tubuh sang istri, berusaha menyalurkan kekuatan kepada wanita itu lewat pelukan hangatnya.
"mama kenapa tinggalin starla, kenapa mama nyusul mommy dan ninggalin star ma" starla sedari tadi terus meraung di dalam pelukan sang daddy. wanita yang paling ia sayang, wanita yang sudah ia anggap seperti mama kandungnya sendiri sekarang telah pergi
"ya Tuhan kenapa engkau ambil mama. dulu Tuhan ambil mommy, sekarang Tuhan ambil mama. star juga sayang mereka Tuhan, tapi Tuhan ambil mama dan juga mommy. apa rasa sayang star kurang besar dibandingkan rasa sayang engkau kepada mama dan mommy" gadis kecil itu sedari tadi terus meraung dan menangis seolah-olah menyalahkan Tuhan atas kepergian dua wanita yang paling berharga dalam hidupnya.
felix pria itu hanya diam saja. berusaha menyangkal bahwa semua ini hanya mimpi. tapi nyatanya tidak, nyatanya disinilah dirinya sekarang. berdiri kaku di sebelah gundukan tanah yang telah di taburi bunga, matanya sedari tadi menatap lurus gundukan tanah itu. tak pernah terlintas dalam benak felix jika ia harus ditinggalkan secepat ini oleh adiknya yang paling ia sayangi.
bahkan demi adik kecilnya itu felix rela kehilangan masa remajanya. disaat teman-teman seusianya sibuk bersenang-senang felix sudah mati-matian bekerja keras membantu sang kakek mengurus perusahaan, bahkan felix rela berjauhan dengan sang mama dan adik kesayangannya. ia melakukan itu untuk laras agar gadis itu mempunyai masa depan cerah dan hidup berkecukupan, apapun itu akan felix lakukan demi adiknya tercinta.
tapi sekarang lihatlah adiknya telah pergi meninggalkannya, bagaimana laras setega ini meninggalkan dirinya. padahal gadis itu tau separuh hidup Felix ada pada dirinya. lantas akan seperti apa felix jika separuh hidupnya telah tiada, akan jadi serapuh apa dirinya.
sedari tadi felix berusaha membendung air matanya agar tidak menetes membasahi pipinya, namun nyatanya semua usahanya sia-sia air mata itu jatuh begitu saja, beriringan dengan luka hati felix atas kenyataan pahit ini.
brukk...
felix menjatuhkan dirinya tepat disamping pusara sang adik.
"kenapa loe pergi ninggalin gue dek. ayo bangun, loe pengen pergi ke pantai bareng gue kan, ayo kita pergi sekarang. ayo kita buat istana pasir kayak dulu lagi, bangun dek jangan tinggalin gue" racau felix sembari memeluk nisan laras.
namun rasanya semua sia-sia felix tidak mendapat jawaban apapun, tanah di depannya juga terus diam. adiknya memang sudah pergi untuk selama-lamanya.
hujan mulai turun membasahi bumi, seolah-olah langit ikut menangis atas kepergian gadis cantik itu.
"hujan ayo kita pulang" ucap galih sembari menepuk pundak felix, sementara rani yang jatuh pingsan langsung di bawa oleh riko kedalam mobil.
"gue nggak bisa ninggalin adik gue sendirian, nanti dia ke dinginan"
"ikhlas lix, biarin laras pergi dengan tenang"
"gue nggak bisa hidup tanpa adik gue, akan jadi seperti apa hidup gue kalau laras pergi"
"loe masih punya tante rani lix, loe harus kuat buat beliau"
"loe bener. mama mungkin lebih terpukul dari gue, gue harus kuat buat mama"
"hmmt, ayo kita pulang" ajak galih sembari menarik tangan felix agar segera menjauh dari makam laras.
"oke"
*****
"virda loe dari mana aja sih? gue nyari-nyari loe dari tadi"
"kenapa mel?"
"loe udah dengar kabar kan?"
"kabar apa? gue baru datang soalnya tadi ada acara keluarga, kenapa sih muka loe kok nggak kayak biasanya"
"laras vir"
"laras" beo virda.
"iya laras"
"emangnya laras kenapa?"
"laras meninggal vir" ucap imelda dengan suara bergetar, air matanya kembali turun.
"loe jangan bercanda deh mel"
"gue nggak bercanda vir, gue sama yang lainnya tadi baru aja pulang dari pemakamannya laras. gue dari tadi berusaha hubungi loe tapi nomor loe nggak aktif" jelas imelda.
demi Tuhan ini seperti sebuah tamparan keras untuk virda. bagaimana bisa sahabatnya pergi secepat itu, padahal pagi tadi mereka masih telponan.
"gue pergi dulu" ucap virda sembari berlari dan mengabaikan panggilan imelda, dia ingin menemui laras. ya dia harus menemui gadis itu di ruangan dimana gadis itu di rawat, imelda pasti sedang mengerjai dirinya, laras nggak mungkin meninggal.
"dokter virda"
"sus laras di pindahkan kemana ya? apa laras udah boleh pulang?"
"apa dokter virda belum dapat kabar kalau dokter laras meninggal"
"nggak laras nggak mungkin meninggal, kalian semua bercandanya nggak lucu" ucap virda dengan air mata yang terus saja mengalir, dirinya benar-benar menolak keras kabar duka itu.
dengan segera virda berlari keluar dari rumah sakit, ia harus pergi kerumah laras.
"ras loe nggak boleh kenapa-kenapa. gue mohon jangan tinggalin gue ras" gumam virda dalam hati, sembari terus berlari. bahkan ia menerobos derasnya hujan tak mempedulikan bajunya yang akan basah kuyup, yang terpenting saat ini adalah laras. sahabat yang ia sayangi, sahabat yang sudah ia anggap seperti adik kandungnya sendiri meskipun mereka baru mengenal beberapa bulan saja.
setelah sampai di mobil virda segera memacu mobilnya membelah jalanan ibu kota yang sedang macet-macetnya karena bertepatan dengan jam pulang kerja.
"ahhh sial, kenapa pakai macet segala sih" racau virda, gadis itu benar-benar kacau. pikirannya terus menerus memikirkan tentang gadis itu, apalagi nomornya tidak aktif membuat virda semakin menggila.
setelah menempuh perjalanan hampir 30 menit akhirnya virda sampai juga di kediaman laras.
mata virda membola ketika melihat karangan bunga berjejer rapi di depan rumah laras, matanya juga menangkap keberadaan riko atasannya dan laras di rumah sakit.
dengan langkah berat virda turun dari dalam mobilnya dan segera masuk kedalam.
"virda kamu kenapa basah kuyup kayak gini?" tanya riko ketika melihat virda, gadis itu datang dengan keadaan yang begitu kacau. riko fikir virda baru saja menerima kabar tentang kepergian laras.
"laras mana pak? aku pengen ketemu"
"laras udah nggak ada vir, kita harus ikhlasin laras ya"
"pak riko bohong. laras ada di dalam kan, orang pagi tadi saya masih video call sama dia pak. dan laras baik-baik aja, kenapa sekarang kalian semua buat lelucon seperti ini. ini benar-benar nggak lucu pak, tolong suruh laras keluar" ucap virda sembari terus meraung-raung.
"ikut saya"
ditariknya tangan virda menjauh dari kediaman laras, riko mengajak virda masuk kedalam mobilnya dan segera melajukan mobilnya menerobos derasnya hujan.
"kita mau kemana pak? saya mau ketemu laras pak"
"kita ketemu laras"
"bapak serius?" tanya virda dengan mata berbinar.
"ya" jawab riko singkat.
riko tidak habis fikir dengan gadis disampingnya ini, kenapa seolah gadis ini sangat menolak kepergian laras.
"kita sampai, ayo turun"
"ki,,,, kita ngapain ke pemakaman pak?" tanya virda dengan terbata-bata.
"kau bilang ingin ketemu laras, ayo turun"
dengan segera virda turun dari dalam mobil dan segera mengikuti langkah riko.
"itu laras" ucap riko sembari menunjuk gundukan tanah yang masih terlihat baru, dan di atasnya terdapat bingkai foto laras.
"la,,, la,,, laras. ini bercandakan?" monolog virda sembari terduduk lemah di samping makam laras.
"laras bangun ini sama sekali nggak lucu. jangan tinggalin gue ras, loe udah janji sama gue kalau loe bakal baik-baik aja kan ras. tapi kenapa sekarang loe tinggalin gue ras"
rasanya benar-benar sakit, ini benar-benar terlalu sukar untuk di terima. padahal virda sangat senang dengan kehadiran gadis itu, ia merasa seperti punya saudara. virda begitu menyayangi laras bak adik kandungnya sendiri, tapi kenapa secepat ini Tuhan ambil laras dari virda. apa virda nggak pantas jadi seorang kakak.
"ikhlasin vir, biarkan laras pergi dengan tenang"
"tapi kenapa dia pergi secepat ini pak, saya belum siap"
"siap nggak siap, kamu harus siap. karena di hidup ini akan selalu ada pertemuan dan akan selalu ada perpisahan. kita sebagai manusia hanya bisa menerima garis takdir, semua akan kembali kepada yang maha kuasa"
ya virda rasa riko benar. semua orang pada akhirnya akan berpulang, tinggal menunggu kapan gilirannya saja.
"ayo pulang, kamu bisa sakit kalau hujan-hujanan seperti ini"
"maafin saya pak, gara-gara saya bapak jadi ikut hujan-hujanan kayak gini"
"it's oke"