My Introvert Husband

My Introvert Husband
buaya kecil



"star nanti kita kalau udah gede kayak om galih sama tante aleta ya" ucap alfin sembari terus melihat ke arah galih dan juga aleta yang tengah duduk di kursi pelaminan.


ya setelah acara akad, langsung di susul dengan acara resepsi.


"gimana maksudnya fin?"


"kita menikah kayak om galih dan tante aleta"


"emang alfin beneran mau nikah sama star ya?" tanya starla


"iya. emang star nggak mau nikah ama alfin?"


"emtt tapi nanti kita nikahnya kalau star udah nikah sama gara ya fin"


"lah kok gitu?"


"kan yang ngajakin star nikah gara duluan. jadi star harus nikah sama gara dulu, nanti baru deh sama alfin"


"star nikah itu cuma sekali seumur hidup, masak star mau punya suami dua" ucap alfin sembari menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.


"memangnya kenapa? gara ganteng, alfin juga ganteng kan sayang kalau cuma dinikahi satu" jawab star dengan santainya sembari terus memasukkan cake kedalam mulutnya.


"gila ajaran gue nih" ucap biru sembari bertepuk tangan.


"ajaran loe sesat bir" ucap juno sembari berdecak kesal.


sementara tak jauh dari tempat anak-anak itu duduk para ayah yang sedari tadi mendengarkan obrolan mereka hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar, mereka benar-benar tidak menyangka dengan obrolan para bocah cilik itu.


"buset itu kenapa anak-anak kita dewasa sebelum waktunya" ucap ardian ayah alfin.


"anak mu doang mas"


"starla juga ar. mana mau suami dua katanya" ucap ardian masih dengan alis mengkerut.


"ini kalau nana sama nono terus-terusan berteman sama alfin, biru, dan gara bisa rusak kepolosannya" ucap riko sembari menggelengkan kepalanya. "nggak bisa, anak gue nggak boleh hilang kepolosannya"


"bapaknya aja modelannya kayak elo ko, gimana si nana bisa polos. yang ada malah kelewat polos" sarkas arya.


"emangnya gue kenapa mas?"


"raja mesum" ucap arya sembari ngakak.


"sialan"


"raja mesum kok teriak raja mesum" sarkas al.


seketika tawa arya memudar begitu mendengar ucapan savage dari seorang Alfian Akbar Efendi.


"kena mental boss" ucap riko dan ardian secara bersamaan.


"anjir, seneng banget loe al bikin mental gue down"


"terserah, gue mau pulang. kasihan anak gue di kelilingi sama buaya-buaya kecil"


"kampret loe kak, anak gue kagak buaya ya. anak sepolos itu disebut buaya" ucap riko tidak terima.


sedangkan al tidak ambil pusing dengan perkataan riko barusan. ia dengan segera berdiri dan menghampiri meja dimana putrinya duduk bersama teman-temannya.


"star ayo pulang sayang"


"star masih mau disini dad"


"star masih harus istirahat nak, ayo pulang. gara juga ayo pulang"


"iya om. star ayo kita pulang"


"ya udah deh ayo"


"kita duluan ya teman-teman" pamit gara kepada nana, nono, biru, dan juga alfin.


"siap"


"hati-hati dijalan" teriak nana, dan segera diangguki oleh gara dan juga starla.


******


"mama"


"star kamu kesini sama siapa sayang?"


"sama tante bella dan abel ma"


"terus tante bella dan abel nya mana?"


"tante laras" panggil abel sembari berlari dan segera menghambur memeluk laras.


"ya ampun abel makin gemesin aja sih" ucap laras sembari mencubit gemas pipi gembul abel.


"iya dong tan, abel dari dulu emang gemesin"


"kamu dikasih makan apa sih sama mama kamu? kenapa bisa ngegemesin gini"


"dikasih makan ayam goreng tan" jawab abel dengan polosnya, hingga membuat laras dan bella tertawa.


"gimana keadaan kamu ras?"


"aku baik mbak"


"cepet sembuh ya, pokoknya kamu harus kuat"


"iya mbak" jawab laras dengan tersenyum.


sungguh laras tidak tau harus bagaimana lagi, semua orang berharap dirinya untuk kuat, berharap dirinya bisa bertahan. tapi mereka semua lupa kalau sakit itu yang bisa merasakannya hanya laras, mereka semua nggak ada yang tau gimana sakitnya yang laras rasakan saat ini.


laras hanya mampu tersenyum getir. rasanya ia benar-benar ingin menyerah saat ini juga, tapi hatinya mencelos ketika melihat wajah starla. sejujurnya ia tidak ingin berpisah dengan putri kecil kesayangannya, tapi rasa sakitnya juga sudah tidak mampu untuk ia tahan lagi.


"mbak alice sama mbak gisel nggak kesini mbak?"


"bentar lagi mungkin, masih jemput anak-anak. kenapa kamu kangen sama mereka?"


"iya mbak, aku juga kangen nana, nono, gara, alfin, dan juga biru"


"tunggu sebentar lagi juga pasti datang"


"kalau mas al?"


"kenapa kamu pengen ketemu kak al?" tanya bella sembari mengangkat sebelah alisnya.


"ada yang ingin aku omongin sama mas al mbak"


"yaudah aku telfon kakak al dulu biar dia kesini"


"makasih mbak" ucap laras sembari tersenyum, sedangkan bella hanya mengangguk sembari mengelus tangannya sebelum pergi untuk menelfon al.


"mbak laras" panggil nana dan juga nono yang baru saja sampai.


"hai ganteng. gimana sekolahnya hari ini?"


"seru mbak. tapi agak sepi karena star belum masuk sekolah"


"makannya nana doain starnya biar cepat pulih dan bisa sekolah lagi"


"itu pasti mbak. nana juga doain mbak laras, supaya mbak laras cepet sembuh dan bisa main bareng kita lagi"


"makasih ganteng"


"ehh rame banget ini" ucap felix yang baru saja kembali dari kantin rumah sakit dan mendapati ruang inap adiknya sudah penuh dengan celotehan anak kecil.


"om ganteng" panggil starla


"ehh kesayangannya om" ucap felix sembari mengangkat starla dan membawanya kedalam gendongannya. "gimana udah enakan kan sayang?"


"star udah baik-baik aja kok om"


"syukurlah om seneng dengarnya"


"loe dari mana lix?" tanya alice.


"dari kantin mbak"


"tante mana?"


"mama tadi keruangan dokter esa mbak"


"assalamualaikum" ucap al, arya, dan juga riko.


"walaikumsalam"


"iya yank, tadi abis jemput anak-anak langsung kesini"


"laras kenapa? apa yang ingin kamu bicaran dengan saya?"


"emt gimana ya mas ngomongnya" ucap laras dengan mimik wajah bingung.


"ngomong aja, kamu mau apa?"


"ehhh ini pada kumpul semua ya" ucap bundanya laras.


"iya tante. tante nggak keganggu kan kalau kita semua disini?" tanya arya.


"ya jelas nggak dong, tante malah seneng. apalagi ada cucu-cucu tante"


perlahan laras menatap bunda, kakaknya dan al secara bergantian.


"sebenarnya kamu mau ngomong apa sih dek?" tanya felix sembari mengusap puncak kepala laras.


"aku cuma minta mas al buat tuntun aku syahadat"


"kamu serius ras?" tanya al.


"aku serius. boleh kan kak, ma?"


"boleh sayang, apapun keputusan kamu mama dan kakak kamu pasti akan selalu mendukung"


"makasih ma, kak"


"sama-sama sayang"


"ayo mas tuntun aku"


"ikuti saya ya ras"


"iya mas"


"Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah"


"Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah"


"aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah"


"aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah"


semua orang yang berada dalam ruangan itu tersenyum haru ketika laras dengan fasihnya mengucapkan dua kalimat syahadat, bahkan felix dan sang mama tak sanggup untuk membendung air matanya.


apapun yang telah di ambil oleh laras felix akan tetap mendukungnya. walaupun sekarang laras sudah menjadi seorang muslim, laras tetaplah adik kesayangannya.


"alhamdullilah" ucap Al lega ketika laras dapat mengikuti tuntunannya dengan lancar.


"aku ngantuk"


"kamu baru aja bangun dek, masak udah ngantuk lagi sih" ucap felix sembari mengelus puncak kepala laras.


"iya kak, aku ngantuk banget" jawab laras sembari menganggukkan kepalanya lemah. "star sini bobok sama mama" ucap laras sembari menepuk ranjang.


"tapi star nggak ngantuk ma"


"temani mama ya, mama pengen bobok sambil peluk star"


"baiklah ma"


dengan segera felix mengangkat tubuh starla dan membaringkannya di sebelah laras. dan dengan penuh kasih sayang laras merengkuh tubuh mungil itu, membawanya kedalam pelukannya.


"mama bobok ya, star bakal terus jagain mama sampai mama bangun nanti" ucap starla sembari membalas pelukan laras.


"iya sayang"


dengan perlahan laras memejamkan matanya. ada sedikit rasa lega di hatinya ketika tadi baru saja mengucapkan dua kalimat syahadat. entah mengapa laras merasa kalau tidurnya nanti akan sangat nyenyak.


"kenapa wajah laras terlihat damai sekali" ucap gisel sembari terus menatap wajah laras yang tengah terpejam.


"namanya juga tidur dek"


"tapi kenapa gue merasa sedih ya kak"


"kenapa?"


"gue juga nggak tau"


"daddy kenapa mama nggak gerak? mama nggak nafas dad" ucap starla polos sembari memegangi dada laras yang ia rasa tak ada gerakan naik turun.


"star jangan bercanda nak"


"star nggak bercanda dad, daddy pegang deh kalau nggak percaya"


dengan segera al memeriksa nafas dan juga nadi gadis itu, dan benar saja apa yang dikatakan starla memanglah tidak bohong. gadis itu memang telah pergi, gadis itu sudah tidur untuk selama-lamanya.


"Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" ucap al dengan suara bergetar.


semua yang berdiri disitu hanya diam terpaku, air mata mereka sudah mulai meleleh membasahi pipi. mereka seolah tidak percaya bahwa gadis cantik yang tengah terbaring di depannya itu telah tiada.


"kak jangan bercanda" ucap gisel sembari mengguncang kedua bahu al.


dengan segera al membawa tubuh gisel kedalam pelukannya, berusaha menguatkannya walaupun pada kenyataannya ia sendiri tak kalah hancurnya dengan gisel "kita harus ikhlas dek"


"bilang kakak cuma bercanda, ayo kak bilang sama aku kalau kakak bercanda"


"kita harus ikhlas dek" ucap alice ikut memeluk gisel.


"kenapa dia pergi secepat ini kak"


"itu tandanya Tuhan lebih sayang sama laras"


melihat putri kecilnya sudah tidak lagi bernafas membuat ibunda laras jatuh pingsan, dan felix segera memanggil fokter.


"kak al gue titip adik gue, gue mau urus mama dulu"


"loe urus dulu tante,, biar pemakaman laras gue yang atur" ucap al sembari menepuk pundak Felix.


"makasih"


"daddy ini mama kenapa nggak mau bangun dad?" ucap starla sembari mengguncang-guncang tubuh laras namun hasilnya nihil mama kesayangannya tak kunjung membuka matanya.


"star sini sama tante sayang" ucap alice sembari membawa starla kedalam gendongannya.


"mama kenapa tante? kenapa mama nggak gerak, mama juga nggak nafas, bahkan starla udah coba bangunin mama, tapi mamanya nggak bangun-bangun"


"star sayang kita harus ikhlasin mama laras ya"


"kenapa harus di ikhlaskan tante?" tanya starla lagi, gadis cilik itu benar-benar tidak faham dengan apa yang terjadi sekarang ini.


"mama larasnya udah pergi sayang"


"pergi kemana tante? orang mama masih disitu kok"


"mama laras pergi nyusulin mommynya starla. pergi menuju surga"


"tante pasti bohongkan! tadi aja mama masih baik-baik aja, mama juga masih ngobrol sama star" ucap starla sembari terisak.


"sayang star nggak boleh sedih kayak gini ya, nanti mama laras juga ikutan sedih"


"star mau mama tante"


"star jangan kayak gini ya. kita harus ikhlasin mama ya nak, Tuhan lebih sayang sama mama laras. makannya Tuhan ambik mama larss dari kita"


"berarti Tuhan sayang mommy, tante billa, dan juga mama laras dong tante"


"iya sayang"


"berarti Tuhan nggak sayang starla dong"


"kok star ngomongnya gitu sih"


"karena Tuhan nggak ambil nyawa star. padahal yang sakit star, tapi kenapa yang pergi mama hikss,,, hiskkk"


"itu namanya takdir sayang. udah jangan nangis lagi"


"star juga gak pengen nangis tapi air mata star terus saja menetes tante. kelihatannya star ketularan alfin kalau nangis nggak bisa berhenti"


semua orang yang berada di ruang rawat laras menangis tersedu-sedu. mereka benar-benar masih tidak percaya bahwa gadis cantik itu telah pergi untuk selama-lamanya.


"