
"pagi virda cantik" sapa laras ketika baru saja datang diruang kerjanya dan juga virda.
"pagi juga ras. bahagia banget kelihatannya"
"bukannya pagi memang harus di awali dengan senyuman!"
"iya deh"
"nih gue bikinin sarapan buat loe"
"tumben loe baik!" ucap virda sembari menerima kotak bekal dari laras.
"sialan loe. gue baik salah, nggak baik juga salah. bawa sini lagi kalau gitu"
"hehehe canda doang gue buk. sensitif banget, lagi dapet ya!"
"terserah loe deh. gue pergi dulu"
"kemana loe ras?"
"ada janji sama pasien" jawab laras sembari berlalu pergi.
"loe gadis yang baik ras. tuhan yesus memberkatimu" gumam virda sembari tersenyum.
*******
"selamat pagi sayang. gimana keadaanmu kamu hari ini?"
lagi dan lagi al bicara sendiri dengan seonggok gundukan tanah di depannya. seolah ia berharap angin akan menyampaikan rasa rindunya kepada wanita yang begitu amat ia cintai, wanita yang memiliki tahta tertinggi dihatinya setelah ibu dan juga adiknya. wanita yang menjadi cinta pertamanya, wanita yang mengajarkannya tentang apa artinya mencintai yang sesungguhnya, wanita yang selalu mengajarinya sebuah kesabaran.
"sayang aku kangen" ucap al dengan suara gemetar, air matanya pun mulai jatuh membasahi pipinya.
"suara kamu, bentuk jari kamu, genggaman hangat tangan kamu, mata indah kamu, senyum manis kamu, wangi parfum kamu, gimana manjanya kamu. semua tentang kamu masih terekam jelas di otak aku sayang" dengan penuh tenaga al menahan rasa sesak di dadanya.
sesak? sakit? pasti hampir 7 tahun ia lewati tanpa wanita yang begitu amat ia cintai. kadang al suka berandai-andai kalau saja dulu ia tidak mementingkan gengsinya, mungkin ia akan memiliki banyak moment bersama gisa.
"cara kamu panggil nama aku, cara kamu nyisir rambut aku, cara kamu siapin semua kebutuhan aku, cara kamu nenangin aku kalau aku kelewat emosi. aku suka semua itu, aku suka semua tentang kamu. kecuali, kepergian kamu" gumam al dengan air mata yang semakin membanjiri pipinya.
"sayang andai aja kamu masih ada, kamu pasti bisa tenangin aku kayak biasanya. aku kangen kamu belai lembut rambut aku, aku kangen tidur di paha kamu. aku kangen semua tentang kamu sayang"
"sayang aku mohon bilang sama Tuhan untuk jangan ambil putri kecil kita. tolong bilang sama Tuhan jangan siksa pria lemah ini, aku benar-benar lemah jika berurusan dengan putri kita. aku sudah kehilangan kamu, aku nggak mau kehilangan putri kita juga"
"bilang sama Tuhan buat angkat penyakit starla ya. aku nggak tau lagi akan jadi apa hidup aku kalau tanpa putri kita"
"maaf aku sekarang menjadi pria yang lemah, aku bukan lagi suami kamu yang dulu. aku menjadi lemah semenjak kamu pergi, dan aku semakin lemah ketika putri kita di uji dengan penyakit mematikan itu"
"maaf aku gagal. aku telah gagal menjadi suami, dan ayah yang baik. maaf sayang, maaf. aku benar-benar minta maaf, aku benar-benar gagal" ucap al sembari memeluk nisan gisa.
sementara itu tak jauh di belakang al ada seseorang yang terus mengamatinya, dan bahkan ia juga ikut meneteskan air matanya.
"begitu besarnya rasa cinta kamu buat dia. maaf pak al, maafkan saya. gara-gara saya, bapak jadi kehilangan mbak gisa untuk selama-lamanya" gumam laras, sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi, ia batalkan niatnya untuk berziarah ke makam gisa karena tak ingin menggangu al.
******
"cocok, kenapa emang?"
"kenapa kita nggak jodohin mereka berdua aja. lagian starla juga sayang banget sama laras"
"iya juga sih, tapi emang kamu yakin kalau abang mau?"
"ya kan kita belum nyoba kak"
"boleh juga sih"
"menurut loe gimana sel?" tanya bella ketika dari tadi gisel hanya diam saja. ya mereka bertiga kini tengah berkutat di dapur membuat cupcake kesukaan anak-anak.
"apanya?"
"astaga loe nggak dengerin omongan gue ama kak alice barusan?"
"kagak"
"ngeselin banget. menurut loe kak al sama laras gimana?"
"cocok"
"kalau kita jodohin mereka gimana?"
"gue nggak setuju"
"kenapa?"
"ingat kak al pergi ke masjid, laras pergi ke gereja. karena yang berseberangan nggak akan pernah bisa bersatu" jawab gisel sembari terus fokus pada adonan cupcake nya.
"ahh gue lupa laras non muslim" ucap alice sembari menepuk jidatnya.
"emangnya iya laras non muslim?" tanya bella dengan sedikit tidak percaya dengan fakta yang baru saja ia ketahui.
"iya, emang loe nggak pernah lihat salib yang melingkar di lehernya?"
"nggak pernah" jawab bella dengan menggelengkan kepalanya.
"tapi emang laras jarang lihatin kalungnya. biasanya selalu dia masukin kedalam baju"
"gagal dapet kakak ipar" ucap bella dengan bahu merosot.
"udah nggak usah sok-sokan mau jodoh-jodohin kakak al"
"kenapa?" tanya alice.
"nggak akan mempan kak. karena sampai sekarang, tahta tertinggi masih dipegang sama kak gisa. yang terpenting adalah kita selalu support kakak al, apapun yang terjadi"
"itu pasti" jawab alice dan bella secara bersamaan.