My Introvert Husband

My Introvert Husband
mengajak liburan



"sayang"


"iya yank ada apa?"


"bagaimana kalau kita liburan!"


"liburan?" tanya gisa memastikan kembali perkataan al.


"iya, selama kita menikah kita belum pernah pergi liburan"


"tapikan kamu lagi sibuk kerja yank"


"aku akan kosongkan waktu untuk pergi berlibur bareng kamu"


"nggak perlu yank, pekerjaan kamu lebih penting, lagian aku nggak apa-apa kok kalau kita nggak berlibur"


"kamu beneran?"


"iya yank"


"betapa beruntungnya aku mempunyai istri seperti kamu, udah cantik, baik, pengertian lagi sama suami"


"kamu tuh bisa aja ngegombalnya"


"aku tidak menggombal yank"


"terserah kamu saja, yasudah ayo kita tidur. aku sangat ngantuk"


"yasudah ayo"


******


"bella bagaimana keadaan kak billa?" tanya gisel yang baru saja datang dengan alexs. ya pagi ini gisel dan alexs memutuskan untuk pergi ke rumah sakit untuk menemani bella menjaga billa yang tengah terkapar lemah di rumah sakit.


"iya bel bagaimana kak billa?"


"belum ada perubahan sel, lexs" ucap bella sembari memeluk gisel, air matanya pun sudah tak bisa ia bendung lagi ketika mengingat kakak kesayangannya, kakaknya yang paling bawel, dan lemot sekarang sedang terbaring lemah di bangsal rumah sakit, bella hanya berharap semoga pelakunya cepat tertangkap.


"jangan menangis, aku tau kamu sedih tapi sekarang yang di perlukan kak billa adalah doa kita bel" ucap gisel sembari mengelus puncak kepala bella.


"iya sel"


"apa kak alice sudah tau keadaan kak billa?"


"belum, sejauh ini mami melati dan mama sarah masih bisa meyakinkan kak alice bahwa kak billa baik-baik saja"


"gue benar-benar nggak bisa ngebayangin gimana reaksi kakak gue kalau tau kak billa sekarang tengah kritis, dia pasti akan sangat terpukul dan merasa gagal melindungi kak billa"


"aku juga berfikir seperti itu" ucap bella dan gisel bersamaan.


"gue keruang rawat kak alice dulu, loe temenin bella disini ya sel"


"iya lexs"


setelah mendapat jawaban dari gisel, alexs segera pergi menuju ruang rawat alice.


"pagi wanita-wanita cantikku" sapa alexs ketika baru masuk kedalam ruang rawat alice.


"pagi anak ganteng" jawab mami melati dan mama sarah bersamaan.


"anak ganteng apaan, orang dia jelek seperti itu"


"hih kakak menyebalkan sekali, asal kau tau aku ini anak paling tampan di keluarga efendi"


"kau tadi sarapan apa? kenapa tingkat percaya dirimu bertambah 180°"


"astaga berdosa sekali kau ini kak"


"prett" ucap alice sembari menjulurkan lidahnya.


"sudah-sudah kenapa jadi bertengkar" lerai mama sarah


"hey berkacalah kau pun juga menyebalkan lexs"


"sudah-sudah mami pusing melihat kalian bertengkar. oh iya lexs apa kamu datang sendirian, apa kamu tidak mengajak gisel"


"gisel sedang bersama dengan bella mi"


"oh iya mi aku ingin menemui billa" ucap alice secara tiba-tiba.


"besok saja sayang, keadaanmu belum pulih betul"


"iya sayang besok saja ya"


"kenapa mami dan mama selalu berusaha mencegahku untuk menemui billa, ini sebenarnya ada apa?"


"tidak ada apa-apa sayang, mami cuma ingin kamu fokus pemulihan dulu"


"tapi aku sudah tidak apa-apa mi. aku bahkan sekarang sudah baik-baik saja"


"alice jangan membantah terus, mama liyla di samping juga tengah fokus pada kesembuhan billa. pokoknya kalian harus segera cepat pulih" timpal mama sarah


"baiklah mi, ma" jawab final alice.


"selamat pagi semuanya"


''mama liyla, sini"


"hai anak cantiknya mama, bagaimana keadaanmu sayang?" ucap mama liyla sembari memeluk dan menciumi alice.


"alice baik-baik saja ma. bagaimana dengan billa ma? mami dan mama sarah selalu melarang alice untuk menemui billa" ucap alice sembari memberengut.


"adikmu baik-baik saja cantik, dia juga sedang istirahat diruangannya. mama harap kamu fokus pada kesembuhan kamu ya, jangan fikirkan billa anak nakal itu baik-baik saja sayang"


"ahh syukurlah ma, alice bisa bernafas dengan lega kalau mendengar itu dari mama"


"iya sayang, istirahatlah jangan berfikir yang tidak-tidak adikmu baik-baik saja"


"iya ma" jawab alice sembari tersenyum.


******


"bagaimana hasil penyelidikanmu?" tanya papi varo kepada bawahannya.


"kami sudah menemukan dalang di balik kecelakaan yang menimpa nona alice dan nona billa tuan"


"bagus. lalu siapa yang berani-beraninya mengusik keluargaku?"


"raina davis, putri keluarga davis"


"kurang ajar lalu apa motifnya?" ucap papi varo sembari mengepalkan kedua tangannya.


"menurut infor masi yang saya dapat dari bawahannya yang sudah kami tangkap. raina davis melakukan ini untuk melenyapkan nona gisa, karna dia menyukai tuan muda al"


"sialan, berani-beraninya dia berencana membunuh menantu kesayanganku."


"segera akusisi perusahaan milik keluarga davis, buat mereka hancur sampai tak tersisa"


"baik tuan"


"kau boleh pergi"


"kalau begitu saya permisi tuan"


"iya"


"raina davis lihat saja apa yang akan aku perbuat kepada dirimu, kelihatannya kamu salah memilih lawan. tunggu pembalasanku bocah ingusan" gumam papi varo sembari tersenyum smirk.


papi varo segera merogoh ponselnya yang berada pada saku jas, dan dengan segera ia menyambukan panggilannya kepada bawahannya.


"lakukan rencana kita sekarang juga" ucap papi setelah panggilan itu terhubung, setelah mengucapkan kalimat itu papi segera memutuskan sambungan telfonnya, dan bergegas menunggalkan ruangannya untuk pergi menemui papa gio, dan juga papa bima.