My Introvert Husband

My Introvert Husband
kesepakatan



"mel kamu kenapa kok murung seperti itu?" tanya mama sarah.


"iya mel kau kenapa? apa kau ada masalah, ceritalah sama kita"


"iya mel, bagilah sedikit bebanmu kepada kami"


"aku sedang bingung sar, la"


"bingung kenapa?"


"bukan bingung sih lebih tepatnya khawatir"


"apa yang kamu khawatirkan mel?"


"aku khawatir kepada al sar, la. sekarang usianya sudah menginjak 27 tahun tapi tak pernah sekalipun dia berpacaran"


"lalu apa yang kamu khawatirkan mel, itu bukannya bagus. di jaman sekarang banyak anak yang terlibat pergaulan bebas, sedangkan al bisa menjaga dirinya. lalu apa yang kau takutkan mel?" tanya mama liyla.


"aku takut al menyukai sesama jenis" ucap melati dengan ragu-ragu.


"mel kamu itu bicara apa? mana mungkin pria setampan al menyukai sesama jenis, itu sungguh tidak masuk akal mel" ucap mama liyla sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"apa yang kamu takutkan sama persis dengan apa yang aku takutkan mel"


"maksudmu sar?" tanya mami melati.


"bukan hanya al yang sampai sekarang belum pernah memiliki seorang kekasih mel, gisa pun juga demikian. bahkan gisel yang adiknya saja sudah berganti-ganti pasangan, sedangkan gisa sekali pun belum pernah"


"apa kau tidak berbohong sar. anak secantik dan sebaik gisa belum pernah berpacaram?" tanya mami melati memastikan.


"iya mel. untuk apa aku berbohong" ucap mama sarah penuh dengan keseriusan.


"bagaimana kalau al dan gisa di jodohkan saja" usul mama liyla.


"ide yang bagus, aku setuju jika gisa bersama dengan al" ucap mama sarah dengan penuh semangat.


"bagaimana kalau anak-anak tidak mau?"


"mereka tidak akan menolak keinginan orang tuanya mel. apa lagi al, dia sangat hormat dan patuh kepadamu dan juga kak varo"


"iya mel aku rasa liyla ada benarnya. aku yakin al akan menerimanya, begitu pula dengan gisa"


"kalau begitu kita bicarakan ini dengan suami kita ya sar, bagaimanapun kita harus mendengar pendapat mereka"


"iya kau benar mel"


*********


"sayang aku ingin bicara kepadamu" ucap mama sarah kepada papa gio.


"bicaralah yank"


"tidak di sini, ayo kita ke kamar"


"mau ngapain kekamar, apa kau berniat membuatkan anak-anak adik"


"kau ini sudah tua tapi tidak tau malu" ucap mama sarah sembari melotot tajam kepada papa gio.


"bercanda sayang"


"iya sudah ayo kita ke kamar"


"iya ayo"


mama sarah pun segera menggandeng tangan papa gio menuju kamar.


"kau ini sebenarnya mau bicara apa sih yank?"


"duduklah yank" ucap mama sarah sembari menepuk sofa kosong di sampingnya.


"sekarang bilang sama aku, apa yang ingin kamu bicarakan?"


"yank bagaiman kalau,,,,,,,, kalau" ucap mama sarah ragu, kalau-kalau papa gio tidak setuju dan akan marah kepadanya.


"kalau apa? kau ini bicara yang jelas dong sayang"


"bagaimana kalau jita jodohkan gisa dengan al yank"


"apa menjodohkan gisa?"


"iya sayang. aku sungguh khawatir kepada putri kita, sampau umur 26 tahun tapi dia tak sekali pun memiliki seorang kekasih yank"


"iya kau benar sayang, tak bisa ku pungkiri hal itu juga membuat diriku takut.dulu sebenarnya aku dan varo mempunyai rencana untuk menjodohkan mereka, namun kami tidak mau memaksakan kehendak kami bagaimana pun anak-anak kami mempunyai jalannya masing-masing"


"yasudah berarti apa yang menjadi keinginanmu dan kak varo akan segera terwujud"


"iya kau benar sayang. aku akan video call varo"


papa gio segera meraih ponselnya dan melakukan panggilan video kepada papi varo. dan tak butuh waktu lama, papi varo pun sudah mengangkatnya.


"ada apa yo?" tanya papi varo ketika baru saja mengangkat panggilan video papa gio.


"apa melati sudah membicarakan sesuatu kepadamu?"


"tentang perjodohan anak kita?" tanya papi varo.


"iya. bagaimana menurutmu?"


"aku sebenarnya setuju saja yo. tapi aku takut anak-anak akan menolak"


"kita bilang saja, kalau mereka sudah kita jodohkan dari mereka masih bayi"


"kau gila yo"


"memang kita dulu merencanakan untuk menjodohkan mereka ro. lagian dengan begitu mereka tidak akan berani menolak keinginan kita kan"


"iya aku rasa kau ada benarnya yo. aku dan melati akan segera membicarakan ini kepada al"


"ya aku dan sarah juga akan segera membicarakan perjodohan ini dengan gisa"


"kalau gitu kita atur waktu yang pas untuk pernikahan mereka"


"kita bicarakan besok di cafe langganan kita, dan jangan lupa bawa melati, dan tante"


"oke siap"


"aku tutup dulu ya, aku sudah sangat mengantuk" ucap papa gio sembari mematikan panggilan video yang masih berlangsung.


******


"alexs kau mau kemana? kenapa pagi-pagi seperti ini kau sudah rapi sekali"


"aku ada janji dengan gisel dan bella kak"


"kakak untuk apa aku membohongimu, aku memang ada janji dengan gisel dan bella"


"mau kemana kalian?"


"kakak ingin tau saja urusan anak muda. aku pergi dulu ya kak, tokong pamitkan kepada mami, papi, dan abang" ucap alexs sembari berlalu pergi.


"kak tadi mami seperti mendengar suara adek"


"iya mi, alexs sudah pergi katanya ada janji dengan gisel dan bella"


"anak itu suka sekali berbaur dengan siapapun, kenapa abang tidak bisa seperti adek ya kak"


"mami jangan seperti itu. mami tidak boleh membanding-bandingkan abang dan juga alexs, mereka memiliki kelebihannya masing-masing mi"


"astagfirullah kamu benar kak. maafkan aku yaTuhan aku sudah lancang membeda-bedakan anakku"


"ada apa ini? kenapa wajahnya pada serius sekali" tanya oma


"tidak apa-apa oma sayang. oma duduk gih, alice akan mengambilkan makanan kesukaan oma"


"terimakasih princess kesayangan oma"


"ini oma, oma makan yang banyak ya. biar oma sehat dan gemuk" ucap alice sembari tersenyum.


"kau suka kalau oma gemuk?"


"iya, oma akan terlihat semakin menggemaskan"


"kau ini ada-ada saja kak"


"memang benar mi, oma akan terlihat menggemaskan"


"sudah-sudah jangan bercanda terus"


"pagi semua" ucap papi varo yang baru saja tiba di meja makan.


"pagi pi"


"pagi nak"


"selamat pagi" ucap al yang baru saja datang dan tersenyum semanis mungkin, setelah ia duduk tak lupa al mengacau gemas rambut alice.


"ihhh abang, menyebalkan sekali"


"habis abang suka"


"abang aku boleh meminta sesuatu?" tanya alice.


"kau mau meminta apa?"


"aku ingin di bonceng naik motor sama abang"


"kenapa kau tidak mengajak arya"


"aku inginnya abang"


"baiklah, kita jalan-jalan besok"


"abang serius?"


"iya adikku sayang" ucap al sembari kembali mengacau gemas rambut alice.


"terimakasih abang" ucap alice sembari mencium dan memeluk al.


"sama-sama"


"kalian habiskan sarapannya. papi, mami, dan oma pergi dulu"


"mami, papi, dan oma mau kemana?"


"papi, mami, dan oma ada janji dengan anak teman oma dulu"


"owh seperti itu. kalau seperti itu hati-hati pi"


"iya nak. kami pergi dulu ya" pamit papi vari kepada kedua buah hatinya.


setelah menempuh perjalanan hampir 30 menit mereka pun sampai di cafe langganan mereka, disana sudah nampak terlihat gio dan juga sarah.


"hai yo, sar. apa kalian sudah lama menunggu?" tanya papi varo.


"tidak ro, kami juga baru saja datang"


" tante apa kabar? maaf ya tan gio dan sarah sudah lama tidak mampir rumah" ucap gio sembari mencium tangan oma dan di ikuti oleh sarah.


"tante sehat yo. dasar kalian anak nakal untuk sekedar menjenguk orang tua ini sudah tidak mau, padahal tinggal mama satu-satunya orang tua yang tersisa" ucap oma syifa.


"maafkan gio tan. gio kemarin-kemarin sibuk bolak-balik indonesia, paris. dan ini semua gara-gara varo tan. katanya dia tidak mau pisah sama melati"


"kenapa kau jadi menyalahkan aku"


"memang kenyataannya seperti itu"


"sudah-sudah jangan berdebat. mama kemari karna mau membicarakan tentang cucu-cucu mama"


"maaf ma"


"jadi bagaimana?" tanya oma.


"bagaimana kalau acara pernikahannya di adakan bulan depan tan!"


"iya ma aku setuju dengan gio"


"mama yang tidak setuju"


"lalu mama maunya gimana?" tanya papi varo kepada oma"


"mama mau pernikahan al dan gisa di lakukan minggu depan"


"apa minggu depan?" tanya papi varo, papa gio, mami melati, dan mama sarah secara bersamaan.


"iya minggu depan. lebih cepat, lebih baik bukan. dan mama harap nanti malam kalian membicarakan perihal perjodohan ini kepada cucu-cucuku, mama rasa semuanya sudah jelas, mama harap kalian mau menyepakati apa yang telah mama tetapkan. ayo kita pulang"


"tapi ma...." belum sempat papi varo menyelesaikan perkataannya, oma sudah memotongnya.


"mama tidak menerima penolakan dari kalian semua"


"baiklah ma"


"iya tan, kami semua nurut saja apa kata tante"


"bagus, ayo kita kembali kekantor masing-masing" ucap oma sembari bangkit dari duduknya dan berlalu pergi menuju ke dalam mobil.