My Introvert Husband

My Introvert Husband
kepulangan mama



"dek"


"kakak kemari? sama siapa?" tanya gisel sembari celingak-celinguk.


"sendirian"


"kakak kalau kak al tau bisa ngamuk dia"


"tidak akan"


"udah tau suaminya galak banget kayak singa, tapi masih aja keluar-jeluar sendirian. mana tuh perut udah segitu gedenya"


"dihh kok adik kakak ini jadi bawel banget ya"


"ya harus dong kak, demi kebaikan kakak juga"


"kakak nggak kenapa-kenapa gisel. oh iya mama belum pulang ya?"


"belum kak"


"trus kamu tumben jam segini udah di rumah"


"hehe iya tadi bolos ngampus"


"ihh kok bandel sih"


"ini semua gara-gara riko" ucap gisel sembari mencebikkan bibirnya.


"emangnya riko kenapa?''


"masak dia nggak ngampus kak, udah gitu di telfon nggak aktif lagi. kan aku jadi khawatir"


"ciee khawatirin pacar nie"


"kakak apaan sih"


"jadi gimana hubungan kamu sama riko, udah ditahap apa?"


"nggak di tahap apa-apa kok kak. masih gini-gini aja" dusta gisel.


"kakak seneng akhirnya kamu berhasil menemukan pria yang berhasil membuat kamu melupakan alexs"


"kakak apa sih, itu lagi yang di bahas. nggak capek apa?"


"nggak. yang jelas kakak benar-benar bersyukur banget dek"


"aku juga bersyukur kak, semenjak ada riko aku merasa ada sesuatu yang mulanya kosong, tapi sekarang mulai terisi" ucap gise jujur dari lubuk hatinya yang paling dalam.


"kakak senang kalau kamu senang dek" ucap gisa sembari memeluk gisel.


"kak al tau kan kak kalau kakak mau kesini?"


"tentu saja tau, kakak udah izin tadi"


"syukur deh, jadi aku nggak perlu berhadapan sama singa ngamuk"


"kamu tuh ya, kakak iparnya di bilang singa"


"ya habisnya kak al galak banget"


"tapi kakak mencintainya"


"percaya deh, dasar bucin"


"dihh ngejek. lihat aja suatu saat nanti kamu pasti akan merasakannya"


"iyakah?"


"pasti"


"semoga saja tidak"


"tunggu aja tanggal mainnya"


"heyy jagoan lihatlah mamamu sangat menyebalkan" ucap gisel sembari mendekatkan kepalanya keperut sang kakak.


"tante tuh yang nyebelin bukan mama" jawab gisa sembari menirukan suara anak kecil.


"jelas-jelas mamamu. kalau kau sudah lahir ikut sama tante aja ya papa dan mamamu itu tukang bucin, kasihan kamu dek kalau ikut mereka kamu pasti tertekan sekali"


"ye ni bocah, keponakanmu belum juga lahir sudah kau ajari yang tidak-tidak"


"hehe bercanda kak."


tokkk... tokkk... tokkk


"tuan, nyonya" ucap bik rati ketika melihat papa dan mama riko.


"riko mana bik?"


"mas riko ada di kamar nyonya"


dengan segera mama menerobos tubuh bik rati dan langsung menuju kamar riko, mama bahkan meninggalkan papa yang masih saja berdiri mematung di depan pintu.


"riko" panggil mama ketika beliau telah sampai di kamar riko.


"mama" ucap riko sembari bangkit dari tidurnya


"riko mama kangen kamu nak" ucap mama sembari menghambur memeluk tubuh putra sematawayangnya.


"bukannya kemarin mama bilang akan pulang minggu depan?"


"mana bisa mama pulang minggu depan, sementara anak kesayangan mama tiba-tiba bilang kalau ia ingin menikah. dasar anak nakal'' ucap mama sembari terus menciumi pipi riko.


"ketika kamu bilang tentang pernikahan mamamu langsung mengajak pulang ko. lagian kamu mau menikah sudah kayak tahu bulat aja, dadakan" ucap papa yang baru saja masuk kedalam kamar riko.


"riko nggak mau kehilangan dia pa, dia gadis yang sangat sepesial buat riko. dia sangat istimewa"


"maafin mama ya sayang, mama terlalu sibuk dengan urusan mama sendiri. sampai mama dan papa mengabaikan dirimu, selama ini mama selalu berfikir kalau materi akan membuatmu bahagia. tapi mama salah, bik rati benar satu-satunya yang kamu inginkan hanya kasih sayang mama dan papa"


"riko gapapa kok ma" ucap riko sembari berusaha menahan air matanya, ya dia tidak boleh cengeng bukankah sebentar lagi ia akan menjadi seorang suami untuk wanita yang paling ia cintai, ya riko harus kuat sekarang. dia punya gisel, dan sekarang pun kedua orang tuanya sudah mulai menyadari kesalahannya.


"maafin papa juga ya nak" ucap papa sebari menepuk pelan pundak riko.


"mama dan papa nggak salah kok, riko tau mama dan papa bekerja keras buat masa depan riko"


"anak papa sudah dewasa sekarang" ucap papa sembari memeluk mama dan riko, air matanya jatuh begitu saja. hal ini benar-benar sudah lama tidak beliau rasakan. terakhir kali beliau memeluk istri dan anaknya mungkin saja ketika riko masih berusia lima bulan.


riko sangat bahagia sekali pagi ini, ia benar-benar tidak menyangka kalau kedua orang tuanya akan benar-benar pulang dari jepang.


"kamu mau kuliah nak?"


"iya ma ini riko mau berangkat"


"kenapa tadi masih rebahan?"


"masih nunggu gisel ma"


"pacarmu yang akan menjemputmu? astaga riko kamu ini laki-laki macam apa, bisa-bisanya kekasihmu yang kamu suruh menjeputmu"


"ahh tidak ma. aku yang jemput gisel kok, dia masih bersiap-siap ma jadi aku tinggal rebahan dulu"


"apa kekasihmu, kalau dandan lama seperti mamamu?"


"papa bilang apa tadi?"


"aku tidak mengatakan apapun" kilah papa.


"tidak pa, dia tidak dandan selama mama. dia justru tidak terlalu suka berdandan"


"bagus itu" ucap papa sembari mengacungi dua jempol untuk riko.


"kalian sama saja" ucap mama sembari berlalu pergi.


*"tuhan terimakasih karena kau telang mengabulkan permintaanku, keluarga yang hangat seperti ini yang selalu aku inginkan dari dulu. bukan materi yang berlimpah, namun tanpa kasih sayang dari keduanya"* gumam riko dalam hati, hatinya benar-benar menghangat.


*****


"pagi calon istri" ucap riko ketika gisel baru saja keluar dari rumah.


"riko kamu apaan sih, kalau ada yang denger gimana?"


"ya gapapa biar saja dunia tau kalau kamu gisel yang paling cantik adalah milikku"


"felix riko vansbhasten anda ini sudah seperti anak yang baru gede ya, bucin"


"biarin yang penting aku mencintaimu"


"udah ah ayo berangakat. aku ingin muntah kalau denger kamu ngomong terus"


"yaampun tega banget sih"


"bodo"