
"yank" panggil bella ketika alexs sedari tadi hanya melamun, bahkan sedari tadi abel mengajaknya bicara tapi tidak di hiraukan sama sekali oleh alexs.
"ALEXS" panggil bella dengan ngegasnya.
"ahhh iya kenapa yank?"
"kamu kenapa sih ngelamun aja. bahkan abel dari tadi ngajak kamu ngobrol tapi kamu cuekin loh, kamu itu kenapa?"
"aku masih nggak nyangka tu cewek udah nggak ada"
"kenapa? kamu nyesel! bahkan sampai akhir hayatnya kamu belum minta maaf sama laras lexs"
"nyesel!" beo alexs.
"iya"
"ngapain aku nyesel. biarin aja dia mati, biar dia rasain apa yang dirasain kak gisa"
"alexs kamu keterlaluan ya, bahkan sampai laras nggak ada pun kamu masih segitu bencinya sama dia. dia udah korbanin hidup dia buat keponakan kita lexs, apa itu masih kurang buat kamu?"
"nyawa memang harus dibalas dengan nyawa kan bel. dan menurut aku ini impas" ucap alexs dengan tersenyum sinis, sebelum akhirnya meninggalkan bella yang masih mematung karena terkejut dengan jawaban alexs barusan.
bella benar-benar tidak menyangka kenapa suaminya itu bisa begitu membenci laras. padahal kepergian gisa nggak sepenuhnya kesalahan laras.
"papa kenapa sih ma, kok malah-malah telus. abel takut ma"
"gapapa sayang, mungkin papa lagi banyak kerjaan makanya papa marah-marah. ya udah dilanjut warnainnya, mama bikinin susu buat abel"
"siap ma" jawab abel sembari memberi hormat.
*******
dengan perlahan felix mendorong pintu kamar sang adik. ditatapnya kamar itu dengan dada yang semakin sesak, hari-hari berikutnya kamar ini akan sepi tanpa ada sosok laras didalam nya.
kamar ini masih sama seperti terakhir kali di tinggal sang pemilik. dengan perlahan felix duduk dipinggir ranjang, diraihnya foto adik kesayangannya yang berada di atas nakas.
"kenapa kamu pergi secepat ini sayang, kenapa kamu tinggalin kakak dan mama" gumam felix sembari mengelus foto laras.
dengan perlahan felix membaringkan tubuhnya ke atas ranjang. bahkan aroma tubuh laras masih tercium dengan jelas, hingga menambah rasa sesak di hati felix.
air mata terus saja berjatuhan dari kedua sudut matanya. laras benar-benar kelemahan felix, kepergiannya benar-benar membuat Felix hancur.
"gue nggak boleh lemah, kasihan mama kalau gue kayak gini" gumam felix sembari mulai memejamkan matanya.
******
tokkk..... tokkk...tokkk
nakula terus mengetok pintu rumah sagara karena dari tadi pintunya belum juga terbuka.
"nana cukup jangan diketok lagi"
"tapi gara lama banget no, tau gini kita langsung aja kerumah star"
"ehh anak-anak kalian nyari sekala ya?" tanya wanita itu dengan tersenyum.
"siapa juga yang nyari anak jahat itu, kami kemari mencari sagara tante" jawab biru sembari menatap tajam wanita yang ia ketahui sebagai ibu dari sekala dan juga sagara.
"ohh kalian temannya gara. sagaranya nggak ada, tadi dia keluar"
"tuhkan no, gara pasti udah duluan kerumah star"
"yaudah kami permisi tante" pamit juno kepada dewi.
"iya silahkan"
juno, nakula, dan biru segera mengayuh sepedanya menuju rumah rumah starla
ya hari ini adalah hari minggu jadi mereka semua tengah menikmati libur sekolah, jadi mereka semua memutuskan untuk pergi kerumah starla dan menghibur gadis itu.
*****
"star jangan sedih terus dong, gara jadi ikutan sedih kalau star sedih"
"gara, star sedih kenapa mama tinggalin star. kenapa mama malah nyusulin mommy dan ninggalin star"
"star tau nggak mungkin sekarang tante gisa dan mbak laras udah berkumpul disurga sana. kalau mereka lihat star sedih pasti mereka akan ikut sedih, star jangan sedih lagi ya"
"star juga nggak ingin sedih gara, tapi rasanya hati star sakit banget"
"gara juga tau gimana sakitnya kehilangan. bahkan rasanya masih begitu menyakitkan ketika gara ingat kak sean berlumuran darah dan terbujur lemah dihadapan gara, dan semenjak itu juga gara harus hidup tanpa kasih sayang dari mama dan papa" ucap gara dengan mata yang mulai memerah, mati-matian ia tahan air matanya agar tidak jatuh. ia ingin menguatkan star saat ini, ia tidak boleh terlihat lemah lagi di depan starla.
"gara janji sama star ya, jangan tinggalin star" ucap starla sembari mengangkat jari kelingkingnya.
"gara janji nggak akan ninggalin star, gara bakal terus jagain star" ucap gara dengan menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking starla.
senyum indah yang selama ini menguatkan gara mulai terpatri lagi di bibir mungil starla. senyum manis yang menjadi alasan untuk gara tetap bertahan hidup hingga sekarang.
"lagi pada ngapain sih?" tanya nakula yang baru saja datang bersama juno dan juga biru.
"gar loe nggak kira-kira ya. kan kita kemarin udah janji bakal kerumah star bareng-bareng, ini loe malah ninggalin kita. bikin kita tadi ketemu mak lampir aja" ucap biru kesal.
"mak lampir siapa?" tanya gara dengan mengangkat sebelah alisnya, dia bingung memangnya ada mak lampir di kehidupan nyata.
"mama kamu" celetuk nana.
"biru kamu berdosa sekali, dia mama aku ya"
"abisnya dia galak banget sama kamu, udah kayak mak lampir"
"jangan gitu, aku nggak suka kamu jelek-jelekin mama aku"
"iya maaf"