My Introvert Husband

My Introvert Husband
meredup



"woi ngelamun aja loe?"


"sialan ngapain loe masuk ruangan gue nggak ketuk pintu dulu, kebiasaan banget"


"matamu nggak ketuk pintu. gue ketuk sampe puluhan kali tapi loe nggak nyaut men, loe kenapa sih? gue perhatiin setelah kepergian laras jadi sering bengong"


"masak sih?"


"iya bege, apa jangan-jangan loe baru sadar ya kalau sebenarnya loe suka sama laras!" ucap galih sembari menaik turunkan alisnya.


"bukan"


"terus kenapa?"


"gue cuma mikir kenapa setiap perempuan deket sama gue selalu meninggal gal, apa gue pembawa sial?"


"ngomong apa sih loe" ujar galih sembari menampol kepala Al, galih jadi kesal sendiri dengan al.


ya ini sudah hampir 2 bulan kepergian laras, dan selama itu juga al memang banyak melamun. dia merasa kalau dirinya pembawa sial dulu istrinya yang pergi meninggalkannya dengan putri kecilnya, sekarang laras perempuan yang sudah al anggap seperti adiknya sendiri.


"hidup, mati, rejeki, dan jodoh itu udah di atur sama Allah men. loe nggak boleh salahin diri loe kayak gini, ini semua udah kehendak Tuhan. nggak usah mikir yang macem-macem. fokus sama perusahaan, demi masa depan star"


"hmttt"


"gue serius al"


"hmmt"


"hamt hemt hamt hemt, bisu loe"


"bachot" geram al sembari memijat pangkal hidungnya karena merasa kepalanya sangat pening.


galih yang melihat kondisi al seperti ini hanya mampu menatapnya sahabatnya dengan prihatin. galih tau betul jika saat ini al sedang sangat kacau, padahal kepergian laras sudah hampir 2 bulan. galih tau tanpa al sadari kalau pria itu sudah sangat bergantung kepada laras untuk urusan starla.


pintu ruangan al di ketuk dari luar, tak lama aleta masuk dan segera duduk disamping suaminya. dan tatapannya pun tak lepas dari sahabatnya yang nampak kacau.


"kenapa?" tanya aleta kepada galih.


"biasa masih galauin laras"


"apa tanpa al sadari dia suka sama laras ya yank"


"aku rasa nggak. dia hanya bergantung sama laras, selama ini laras sudah seperti sosok ibu untuk star. setelah kepergian laras, star seperti kehilangan sosok ibu dan itu membuat dia sedih, itu yang buat al jadi berantakan kayak gini"


"aku rasa kamu bener"


aleta sendiri juga melihat gimana starla setelah di tinggal pergi laras. anak itu selalu murung dan tidak seceria dulu lagi. padahal sebisa mungkin alice, gisel, bella, dan juga dirinya berusaha menggantikan sosok laras untuk starla. namun kelihatannya hasilnya nihil karena bintang mereka memang sudah meredup dan mulai kehilangan sinarnya, seiring dengan kesedihan yang tengah ia rasakan.


"al loe udah makan?" tanya aleta basa-basi, padahal ia tau betul kalau sahabatnya itu belum keluar dari ruangannya dari pagi tadi.


"gue tadi udah pesen makanan, kita makan bareng-bareng ya. jangan terlalu difikirkan, ikhlasin al. yang terpenting sekarang adalah gimana caranya kita kembaliin star kayak dulu lagi, gue sedih lihat keponakan gue yang selalu ceria sekarang berubah jadi murung terus"


"hmttt" dehem al singkat, al rasa aleta benar. ia harus bisa kembaliin putrinya seperti dulu lagi.


******


siang ini felix turun dengan kondisi yang memprihatinkan rambut acak-acakan, matanya memerah dan juga bengkak, mata itu juga sudah seperti mata panda karena sudah tiga hari ini ia tidak tidur sama sekali. pikirannya kacau, ia sangat merindukan adiknya.


"mas felix kenapa?" tanya asisten rumahnya ketika melihat felix turun sudah seperti zombie.


"saya gapapa bik"


"mas felix sakit? apa perlu saya telfon ibuk"


"nggak perlu bik, jangan kasih tau mama kalau saya nangis lagi. saya nggak mau buat beliau sedih lagi"


ya sekarang rani memang sedang tidak dirumah, beliau sedang pergi keluar kota selama seminggu. dan hal itu dimanfaatkan oleh felix untuk menyalurkan semua rasa sesak dihatinya setelah ditinggal pergi oleh adik kesayangannya, kalau ada rani felix harus terlihat baik-baik saja agar sang mama tidak menghawatirkannya atau lebih tepatnya ia tidak ingin mamanya juga ikut sedih lagi.


"iya mas. mas felix mau makan? kalau gitu biar bibi angetin makanannya"


"nggak perlu bik, saya cuma mau ambil minum"


"tapi mas felix dari kemarin belum makan"


"saya sedang nggak nafsu makan. yasudah saya ke kamar dulu bik" pamit felix ketika sudah selesai mengambil orange juice dari dalam kulkas.


"seenggaknya makan sedikit aja mas. mas felix jangan nyiksa diri seperti ini"


"saya nggak lapar bik" jawab felix sembari pergi meninggakkan bibi yang masih berdiri mematung sembari menatap punggungnya yang mulai menjauh.


sesampainya di lantai dua langkah felix terhenti tepat di depan kamar laras, kamar yang sudah tidak ia masuki selama hampir dua bulan ini. terakhir kali ia memasuki kamar itu waktu sang adik baru saja meninggal.


dengan langkah berat felix mendekat dan memutar kenop pintu kamar laras. semua masih sama seperti terakhir kali ia masuk kedalam kamar ini, kamarnya pun masih terlihat bersih dan terawat, mungkin saja mama atau bibi yang selalu membersihkannya.


dengan perlahan felix mendudukan dirinya di tepi ranjang lalu mengambil sebuah figura kecil di atas nakas, didalamnya terdapat foto dirinya dan juga seorang gadis cantik tengah tersenyum dan memeluknya dari belakang, ya siapa lagi gadis itu kalau bukan adik kesayangannya.


"dek kakak kangen" lirik felix.


demi Tuhan rasanya ini semua masih seperti mimpi untuk Felix. kembali lagi ingatan-ingatan tentang laras berputar didalam otak felix seperti kaset rusak. dimana gadis itu selalu mengeluh kalau dia sangat merindukan felix, sangat ingin bertemu dengan felix. tapi felix hanya bisa berjanji dan berjanji, pada kenyataannya felix selalu mengingkari karena pekerjaannya terlalu banyak.


andai saja felix tau kalau semuanya akan seperti ini mungkin ia akan selalu luangkan waktunya untuk laras, ia akan menetap saja di indonesia. padahal laras dulu selalu bilang 'laras nggak butuh hidup mewah kak, bagi laras kakak ada buat laras itu udah lebih dari cukup' tapi sekali lagi felix mengabaikan omongan gadis itu, yang felix fikirkan hanya bagaimana ia bisa memberikan kehidupan yang layak untuk mama dan juga adiknya.


"semua ini gara-gara bajing*n itu, coba aja dia nggak ninggalin kita mungkin gue nggak akan pernah pergi ninggalin mama dan juga laras" gumam felix sembari meremat kuat seprai.


ingatan dimana sang papa meninggalkan dirinya, laras dan juga mama kembali berputar di fikiran felix. dimana papanya tega meninggalkan sang mama demi wanita lain. waktu itu felix benar-benar tak habis fikir dengan sang papa kenapa dia bisa setega itu dengan keluarganya sendiri.


"demi Tuhan gue nggak akan maafin si tua bangka itu, gara-gara dia mama jadi berjuang buat besarin gue sama laras"