
"starla"
"kak adrian"
"gimana udah sembuh? jangan sakit lagi ya, pas kamu sakit alfin murung terus tau"
"dia murung gara-gara aku sakit kak?" tanya starla sedikikit tidak percaya dengan apa yang baru saja adrian bilang.
"iya, oh iya nih kakak bawain kamu boneka sapi" ucap adrian sembari memberikan boneka sapi yang sedari tadi ia pegang kepada starla.
"makasih ya kak"
"iya sama-sama, yaudah kakak pulang dulu. kamu cepet sembuh ya"
"kakak kok buru-buru pulang sih"
"kakak masih ada les tambahan star. kan ada alfin yang nemenin"
"emtt, kakak semangat belajarnya"
"iya adik manis" jawab adrian sembari mengelus puncak kepala starla.
"giliran sama kakak aja manis, nah giliran sama aku nggak ada manis-manisnya star"
"ya karena kak adrian ganteng"
"lah emang aku nggak ganteng star?"
"nggak"
"tega bener sih star"
"aku bicara sesuai dengan fakta fin"
"asalamualaikum" ucap gara yang baru saja datang dan masuk kedalam kamar starla.
"walaikumsalam" jawab starla dan alfin secara bersamaan.
"gara kamu kesini?" ucap starla dengan senyum merekah.
"iya, bagaimana mungkin aku tidak kemari, sedangkan sahabatku yang paling cantik sedang sakit sekarang"
"mulutmu manis sekali hari ini"
"nih aku belikan permen kapas buat kamu"
"makasih gara ganteng" ucap starla sembari menerima permen kapas gara, dan langsung membuka dan dilahap penuh antusias oleh starla.
"star kamu kebangetan banget sih. disini ada aku dan gara tapi kamu memakannya sendiri tanpa menawarkan kepada kami berdua"
"ngomong aja kamu pengen. tapi tolong di catat di otak kamu ya fin, aku tidak akan membaginya denganmu, karena gara memberikannya untukku"
"dasar pelit" ucap alfin sembari mengerucutkan bibirnya, hingga membuat gara dan starla terkekeh karena tingkah lucunya itu.
******
"woiilah diem-diem baek. lagi pada ngapain nih?" tanya galih yang baru saja masuk dan melihat kedua sahabat baiknya dan juga tunangannya tengah melamun.
"gal loe bisa nggak sih serius sedikit" ketus aleta.
"maaf sayang. emang beneran belum ada yang cocok ya?"
al menggelengkan kepalanya pelan, terlihat sangat jelas kalau pria itu tengah banyak pikiran dan jarang tidur akhir-akhir ini.
"gak ada kabar dari riko?"
"riko juga belum berhasil gal" jawab arya.
"jangan nangis dong yank" ucap galih sembari memeluk aleta, dan mengelus punggung aleta pelan.
"Tuhan tolong beri aku jalan. tolong jangan kau ambil harta yang paling berharga dalam hidupku, apa masih kurang kau ambil istriku, bahkan sekarang engkau juga mau mengambil putriku, separuh dari hidupku. ku mohon jangan Tuhan" gumam al sembari beruraian air mata. arya, galih, dan aleta tau betapa hancurnya al saat ini, mereka saja sangat sakit apalagi al yang notabene adalah ayah kandung starla.
"KAK..... KAKAK AL" teriak riko yang baru saja datang dengan nafas terengah-engah.
"bocah loe kenapa? udah kayak di uber setan aja"
"kenapa sih ko? tarik nafas, buang" ucap arya mencoba membantu riko merilekskan diri.
"gue dapet pendonornya"
"LOE SERIUS?" tanya al, arya, galih, dan aleta secara bersamaan. ke empat orang itu ngegas karena terkejut dengan apa yang di beritau riko barusan.
"gue serius. tapi......"
"tapi kenapa?" tanya al begitu riko menggantung ucapannya.
"tapi satu ginjalnya bermasalah, dan itu akan sangat berbahaya untuk si pendonor kak" ucap riko lesu.
"kenapa seperti ini" ucap al lesu, rasa bahagia yang baru saja datang berubah menjadi kesedihan lagi. baru saja akan ada secerca harapan untuk kesembuhan putrinya namun, harus di hadapkan dengan kenyataan pahit lagi.
"cari lagi, jangan sampai kita korbanin nyawa orang untuk kesembuha keponakan kita" ucap arya.
"masalahnya orang itu bersikeras untuk mendonorkan ginjalnya mas"
"memangnya siapa orang itu?" tanya arya dengan mengangkat sebelas alisnya.
"orangnya nggak mau kalau identitasnya dibeberkan"
"sok misterius banget sih, terus dia minta imbalan apa dari kita?" tanya galih.
"nggak minta imbalan apa-apa"
"WHAT? LOE NGGAK BERCANDA KAN KO!" ucap galih nggak bisa santai.
"gue serius mas. orang itu memang tidak mengharapkan imbalan apapun, orang itu hanya berharap kesembuhan starla"
"aneh, kenapa janggal seperti ini. apa dia orang terdekat kita?" tanya aleta kepada riko.
"aku tidak bisa memberi tahu. aku kemari hanya meminta pendapat kak al, jadi gimana? apa kak al mengizinkan"
"aku ingin bertemu dengan orang itu dulu"
"dia akan menolak kak"
"lalu apa motif orang itu. karena sangat tidak mungkin dia mu mengorbankan nyawanya sendiri tapi tanpa imbalan apapun"
"betul kata al, ini bener-bener nggak masuk akal" timpal aleta.
"yang terpentingkan kesayangan kita sembuh" ucap riko.
"ko kita juga nggak bisa mengorbankan hidup orang hanya untuk kesembuhan keponakan kita, jangan jadi manusia yang egois" ucap arya.
"terus kita harus gimana. mau sampai kapan seperti ini terus? bahkan sekarang starla sudah mulai cuci darah, harusnya kalian tau itu rasanya sakit. dengan persetujuan kalian atau pun nggak aku akan tetap melakukan operasi starla"
"ko kamu jangan egois seperti itu. apa loe nggak mikirin star kedepannya gimana, kalau dia tau dia hidup tapi mengorbankan hidup orang lain. dia akan merasakan penyesalan seumur hidupnya ko" ucap arya.
"terserah kalian. tolong pikirkan lagi baik-baik, karena pihak keluarga pun juga sudah menyetujui jika pendonor memberikan ginjalnya untuk star. aku pamit dulu kak, mas, mbak" ucap riko sembari berlalu pergi dari ruangan al.
"al!" panggil galih sembari menunduk.
"kenapa?"
"boleh nggak kita egois sekali ini aja. gue nggak mau kehilangan keponakan gue"