
"sayang bagaimana kondisi alice" tanya mami melati yang baru saja datang secara bersamaan dengan papi varo, mama sarah, papa gio, dan al.
"kak alice baik-baik saja mi. dia hanya lecet-lecet saja"
"lalu bagaimana dengan bila?"
"billa masih kritis pi, itu diakibatkan oleh benturan keras dikepalanya"
"kenapa ini bisa terjadi" tutur papa varo sembari memijat keningnya.
"entahlah pi gisa juga tidak tau. kita tunggu saja hasil penyelidikan polisi, lebih baik kita sekarang masuk lihat kondisi kak alice"
mereka semua pun segera masuk kedalam ruang rawat alice.
"kakak bangun kak, ini mami sayang" ucap mami melati sembari membelai lembut pipi alice, dan tak lupa air matanya sedari tadi terus berjatuhan karna melihat putri terbaring lemah, dengan luka-luka lebam dan lecet akibat kecelakaan itu.
"sudah mi jangan menangis terus, kasihan kakak kalau dia sadar dan melihat mami menangis seperti ini"
"tapi mami nggak tega melihat kakak seperti ini pi"
"kakak nggak kenapa-kenapa mi, sekarang kita doakan supaya anak kita lekas sadar'' ucap papi varo sembari memeluk mami melati dari belakang.
"iya pi"
"kakak" teriak alexs yang baru saja datang.
"alexs kau bisa tidak pelankan suaramu, ini rumah sakit"
"maaf bang"
"kakak bangun kak ini alexs, kakak jangan buat alexs khawatir"
"sudah-sudah jangan seperti anak kecil. biarkan alice istirahat dulu''
"lalu bagaimana dengan kak billa, kenapa kak billa ada diruang ICU? kak billa nggak kenapa-kenapa kan?"
"billa kritis leks. kita doakan saja semoga billa segera sadar"
"iya bang"
dengan perlahan alice pun mulai sadar, dia dapat melihat dengan samar wajah orang-orang yang berada disekitarnya.
"kakak kamu sudah sadar sayang" ucap mami sembari menciumi tangan alice.
"mami, aku ada dimana? kenapa tubuhku terasa sakit semua"
"kamu dirumah sakit sayang"
"rumah sakit. billa mana mi? billa dimana? billa baik-baik saja kan mi?"
"billa ada di kamar samping nak, billa baik-baik saja" jawab papi.
"kenapa kamu merasa gagal lice?" tanya abang al.
"alice gagal melindungi billa bang, alice gagal menjadi kakak yang baik untuk billa" tutur alice sembari beruraian air mata.
"kakak nggak gagal kak, ini memang musibah. dan kita nggak akan pernah tau kapan itu akan terjadi. bagi alexs kakak tetaplah kakak yang terbaik"
tokkk.... tokk.... tokk
"permisi, kami dari pihak kepolisian ingin menyampaikan hasil olah TKP"
"kita bicara diluar saja pak" jawab papi varo.
"baik pak"
dengan segera papi varo, dan al keluar mengikuti polisi tersebut.
"jadi bagaimana hasil penyelidikannya pak?" tanya al.
"hasil penyelidikan kami memnunjukkan bahwa kecelakaan yang dialami saudari alice dan saudari billa adalah unsur kesengajaan, itu dikarenakan oleh rem mobil yang sengaja diputus"
"apa" ucap papi dan al secara berasamaan.
"kurangajar berani-beraninya dia berusahaa mencelakai istriku'' ucap al dengan rahang gemetar.
"apa maksud saudara al mencelakai istri anda?"
"karna mobil yang digunakan saudara kembar saya adalah mobil istri saya pak, sudah pasti targetnya adalah istri saya"
"kurangajar berani-beraninya dia berusaha mencelakai menantu keluarga efendi. saya minta bapak usut kasus ini sampai tuntas"
"baik pak. kalau begitu kami permisi dulu" ucap polisi itu.
"baik pak"
"berani-beraninya dia berusaha mencelakai menantuku, kamu mencoba bermain-main dengan keluarga efendi. kurasa kamu salah memilih lawan" ucap papi varo sembari mengepalkan kedua tangannya.
dan dengan segera papi al mengeluarkan ponselnya dan mencari kontak seseorang didalamnya.
"halo, aku ada tugas untukmu" ucap papi setelah panggilan telfonnya sudah terhubung.
"tugas apa pak?" tanya bawahan papi.
"selidiki siapa yang berniat mencelakai menantuku."
"baik pak"
"segera bertindak"
"siap pak"