
siang ini setelah pulang sekolah nana, nono, dan gara sudah berkumpul di rumah starla. karena tadi guru memberi tugas mereka untuk menggambar sesuai dengan cita-cita mereka.
"nono cita-cita kamu mau jadi apa?" tanya starla.
"aku ingin jadi dokter star. biar bisa obati orang-orang yang aku sayang"
"jadi nanti nono juga mau obatin aku?"
"iya star. makannya kamu sembuh ya, dan kamu harus terus-terus bareng sama kita sampai kita menua"
"minta sama Tuhan no. biar Tuhan mau kasih aku umur yang panjang"
"selalu" jawab nono dengan wajah sendu.
"kalau nana mau jadi apa?"
"aku mau jadi profesor. aku mau bikin robot-robot yang canggih"
"cita-cita yang bagus. kalau gara mau jadi apa?"
"aku mau jadi pilot star"
"kenapa mau jadi pilot?"
"biar bisa keliling dunia"
"kalau kamu keliling dunia. berarti kamu bakal ninggalin aku, nana, sama nono"
"ya kan nggak setiap hari terbang star"
"iya juga ya. nanti gara pasti ganteng banget kalau pakai seragam pilot"
"helleh dasar ganjen" ucap nana sembari menyentil kening starla.
"kalau kamu sendiri mau jadi apa star?" kini giliran gara yang bertanya kepada starla.
"aku mau jadi desainer kayak almarhum mommy, dan juga nenek. aku mau terusin usaha butik nenek"
"wah hebat. tapi lebih hebat lagi kalau kamu mau jadi istri aku dan jadi ibu dari anak-anak aku star" ucap gara cengengesan.
"bukan temanku" ucap nono sembari melengos.
"bocah gila. kebanyakan di pukul sama om andre jadinya otak gara melenceng sangat jauh"
"aku dengar ya kalian ngomong apa" ucap gara sembari menatap nono dan juga nana secara bergantian.
"ya bagus kalau kamu denger. berarti kamu belum budeg" ketus nono.
"udah ahh, ayo kita lanjut lagi gambarnya"
"asalamualaikum orang ganteng datang" ucap biru dan juga alfin yang baru saja datang.
"dari mana kalian berdua? tumben banget baru nongol" ucap nana.
"biasa orang ganteng banyak urusannya" jawab biru.
"sok sibuk lu marpuah"
"kalian lagi pada ngapain?" tanya alfin sembari duduk disamping gara.
"dapet tugas gambar cita-cita" jawab nono.
"cita-cita nono jadi dokter, star jadi desainer, gara jadi pilot, nana jadi profesor"
"iya" jawab nana, nono, starla, dan gara secara bersamaan.
"nana kamu nggak salah cita-cita kan?"
"nggak. kenapa emangnya bir?"
"muka kamu nggak pantes jadi seorang profesor" ucap biru sembari terkekeh.
"temen dakjal ya kamu"
"diem. kalian berdua kalau mau rusuh mendingan pulang" ucap nono kesal, karena kedatangan kedua temannya itu sangat menggangu.
"buset galak banget sih no"
"abisnya kalian berdua rusuh banget, kita itu lagi ngerjain tugas. awas aja ya kalau kalian ngerjain tugas dan nggak bisa lagi, aku nggak mau bantuin lagi" ucap gara mengancam kedua temannya.
"gara mah gitu, mainnya ngancam" ucap alfin sembari mencebikkan bibirnya.
"fin kamu masih mau nikah sama starla?" tanya nana secara tiba-tiba.
"masih lah"
"tapi kelihatannya aku sama nono lebih setuju kalau starla sama gara deh"
"kenapa gitu?" tanya alfin dengan sedikit tidak terima.
"ya karena otaknya gara utuh, nggak kayak otakmu mahmud" ucap biru sembari terkekeh.
"cakep bir, tumben kamu pinter"
"na aku itu akan pintar kalau bareng sama kamu atau pun nono, dan akan jadi bodoh kalau bareng sama alfin"
"sama-sama bodoh tapi masih suka nyela temennya" timpal nono.
"no mulutmu tajem banget sih"
"diem. sekali lagi kalian berisik, aku tonjok kalian" ucap gara mulai kesal.
"gara mah gitu, ngancem mulu"
"makannya diam"
"iya kapten gara yang terhormat"
********
"asalamualaikum"
"walaukumsalam" jawab al, alice, dan juga gisel.
"sayang kamu kesini?"
"iya sayang, aku ada urusan sama kak al"
"ada urusan apa ko?"
"bisa kita bicara berdua kak ?"
"yaudah ayo keruang kerja aku"
"oke"
"dek kita tinggal dulu ya" pamit al kepada alice dan juga gisel.
"iya" jawab alice dan gisel secara bersamaan.
"riko kenapa sel?"
"mana aku tau kak"
"kaukan istrinya"
"aku memang istrinya. tapi bukan berarti apapun yang di lakukan suamiku aku harus tau kan kak"
"iya juga sih. kenapa bocah itu sangat mencurigakan"
"dia itu bapak anak satu kalau kakak lupa. bisa-bisanya kakak manggil dia bocah"
"mau kalian punya anak banyak pun, kalian berdua tetep bocah cilik dimataku"
"5 tahun itu banyak ya"
"terserah kakak aja"
*****
"apa ada yang penting hingga kamu mau bicara berdua aja" tanya al begitu sampai di ruang kerjanya.
"nggak juga sih kak"
"bocah, serius dikit kenapa"
"hehe iya-iya. jangan marah-marah mulu napa, nih aku cuma mau kakak tanda tangani ini" ucap riko sembari mengeluarkan map dari tas kerjanya.
"apa ini?"
"baca aja"
dengan segera al membuka map yang di berikan oleh riko, dan segera membacanya.
"surat persetujuan operasi!"
"iya"
"masih dengan pendonor yang sama?" tanya al sembari menatap intens riko.
"iya" jawab riko sembari menganggukkan kepalanya.
"aku tidak akan menandatangani ini"
"kalau kakak nggak mau tanda tangan yasudah, berarti tinggal aku sendiri yang menandatanganinya"
"kamu nggak punya hak atas ini riko"
"kakak jangan lupa. walau bagaimana pun aku om nya starla. dan lagian aku udah pernah bilang, mau kakak setuju atau pun nggak, aku akan tetap lakuin operasi ini"
"tapi kita juga nggak bisa korbanin hidup orang dong ko"
"kita nggak ngorbanin hidup orang kak, dia sendiri yang bersedia buat donorin ginjalnya. atau kakak lebih milih korbanin hidup starla! kalau iya, aku nggak akan tinggal diam"
al hanya bisa diam, dia benar-benar diambang kebingungan sekarang ini.
"jangan diem aja, cepet tanda tangan" ucap riko dengan lantang. sebenarnya riko agak sedikit takut karena telah membentak al, entah dapat keberanian dari mana dia tadi telah membentak seorang Alfian Akbar Efendi.
"tapi aku takut ko"
"cepet tanda tangan. aku ini masih menghormatimu sebagai ayahnya starla ya kak, kalau aku tidak menghormatimu. sudah pasti akan aku tanda tangani sendiri, cepetan jangan buang-buang waktu"
dengan sedikit ragu akhirnya al menandatangani berkas itu.
"nah ginikan enak" ucap riko sembari mengambil map dari tangan al, sebelum al berubah pikiran dan akhirnya merobek kertas itu.
"tapi apa boleh aku ketemu sama si pendonor?"
"nanti setelah selesai operasi, dia baru mau nemuin kita semua. yasudah aku pulang dulu kak, dan maaf karena tadi aku telah membentakmu" ucap riko sembari lari meninggalkan ruang kerja al, sebelum kakak iparnya itu menyadari bahwa ia tadi telah membentaknya.
"ah iya juga. berani-beraninya bocah tengik itu tadi membentak diriku, adik sialan" gumam al dengan kesal.
*******
tokk...tokk..tokkk
"masuk"
"al, diluar ada pak andre" ucap aleta begitu memasuki ruang kerja al.
"papanya gara?"
"iyapp betul"
"langsung suruh masuk"
"oke pak boss" jawab aleta dan segera keluar meninggalkan ruang kerja al.
"silahkan masuk pak, pak al telah menunggu didalam" ucap aleta mempersilahkan andre masuk kedalam ruang kerja al.
tokkk... tokkk... tokk
"masuk"
"permisi pak"
"ahh pak andre, silahkan masuk"
"terimakasih pak"
"silahkan duduk pak"
setelah al mempersilahkannya duduk, andre segera mendudukkan dirinya tepat di depan al.
"jangan terlalu gugup pak andre. anak kita saja berteman kenapa kita tidak bisa berteman" ucap al ketika melihat raut wajah al yang nampak gugup.
"ahh benarkah?"
"iya putri saya berteman dengan putra anda"
"ternyata sekala punya teman dekat, tapi kenapa sekala nggak pernah ajak temannya main kerumah"
"memang bukan sekala teman putri saya. melainkan sagara"
"ohh ternyata temannya gara" ucap andre semakin gugup, ia takut bagaimana jika al mengetahui semua kelakuannya terhadap gara, bisa-bisa kerja sama mereka bisa gagal.
"saya kan sudah bilang jangan terlalu gugup pak andre, kenapa anda masih saja sungkan seperti itu"
"bagaimana saya tidak gugup, sekarang saya sedang duduk di depan seorang pengusaha sukses seperti pak al"
"pak andre ini bisa saja"
"oh iya pak, bagaimana dengan proposal yang saya ajukan kemarin?"
"proposalnya lumayan menarik"
*"apa dia bilang, lumayan menarik. padahal aku mempersiapkan itu sudah berhari-hari sampai kurang tidur"* gumam andre dalam hati.
"kenapa pak andre malah melamun?"
"ahh tidak pak, saya sedang tidak melamun kok" jawab andre sembari tersenyum.
"saya akan mengambil kerja sama ini"
"benarkah pak?" tanya andre dengan mata berbinar.
"benar. tapi....."
andre kembali di buat was-was ketika al menjeda ucapannya.
"tapi apa pak?"
"tapi tolong jangan siksa sagara lagi. kalau tidak akan saya pastikan samudra grup akan hancur hanya dalam hitungan detik" ucap al sembari menaikan sebelah alisnya.
dengan susah payah andre menelan salivanya, benar sesuai dengan dugaannya kalau al benar-benar mengetahui perlakuan kasarnya kepada sagara. kalau sudah seperti ini mau bagaimana lagi, rasanya andre seperti makan buah simalakama.
"kenapa diam. atau anda ingin perusahaan anda hancur sekarang juga?"
"ti... tidak pak. saya tidak akan menyiksa gara lagi pak, tapi tolong jangan hancurkan perusahaan saya. itu satu-satunya pendapatan keluarga kami"
"bagus. sekarang keluar dari ruangan saya, mat saya sakit kelamaan melihat anda"
"ba... baik kalau begitu saya permisi pak" ucap andre sembari undur diri.
ahh ternyata benar kata orang-orang kalau alfian itu bukan orang sembarangan. rasanya andre sangat kesal, kenapa anak sialannya itu bisa kenal dengan al. hingga membuatnya susah seperti sekarang ini