My Introvert Husband

My Introvert Husband
berdebat



malam ini semua berkumpul dimeja makan untuk menikmati santap malam, tak terkecuali gisa.


"gisa sayang apa kau sudah bilang sama mamamu kalau kau akan menginap disini?" tanya mami melati.


"sudah kok mi" jawab gisa sembari tersenyum.


"baguslah jadi nanti mami tidak di tuduh oleh mamamu karna menculik anak gadis orang"


"mami apaan sih. tanpa gisa pamit sama mama, mama pasti tau kalau gisa menginap di rumah mami melati atau pun di rumah mama liyla"


"tapi alangkah baiknya kamu tetap harus minta izin nak" ucap papi varo


"iya pi, gisa tau kok"


"bagus, kamu memang salah satu anak papi yang penurut dan pintar. tidak seperti alexs yang selalu membangkang papi"


"kenapa jadi alexs yang kena sih pi"


"makanya kau itu kuliah yang benar lexs, cepat bantu papi dan abangmu di perusahaan. jangan bisamu hanya bersenang-senang saja" ucap oma syifa.


"oma alexs ini juga kuliah dengan benar"


"tapi sering bolos hanya untuk pergi berkencan" sarkas alice.


"kakak kau ini apa-apaan. jangan memfitnahku seperti itu"


"aku tidak memfitnah, tapi ini adalah sebuah kenyataan"


"jadi kau masih sering bolos kuliah, hanya untuk pergi berkencan?" tanya al dengan menatap tajam alexs.


"ti tidak abang, jangan dengarkan kakak"


"awas saja kalau kau masih bolos kuliah, abang akan potong uang bulananmu"


"yahh jangan di potong dong bang"


"makannya kuliah yang benar"


"papi lihatlah, abang tega sekali kepadaku"


"papi rasa abangmu ada benarnya lexs"


"papi menyebalkan sekali, kenapa malah memihak abang. mami lihatlah papi dan abang, mereka begitu tega kepada alexs"


"alexs sayang. papi dan abang berbuat seperti itu untuk kebaikanmu nak"


"kebaikan apa sih mi"


"alexs kamu ini masih kecil, tetapi kamu selalu saja bergonta-ganti pasangan. lihatlah abang dan juga kakakmu, mereka tidak pernah berganti pasangan"


"kalau kakak emang udah cinta mati sama kak arya, lah kalau abang memang tidak pernah mempunyai pasangan, bahkan dia selalu bersikap dingin kepada para wanita mi, kadang-kadang alexs jadi berfikir apa abang tertarik dengan perempuan"


"alexs jaga bicaramu, yang sopan sama abangmu" bentak papi varo.


"bukannya alexs tidak bersikap sopan pi, tapi papi tau sendiri kan abang bagaimana. sampai usia 27 tahun saja abang belum punya kekasih pi, sedangkan papi mempunyai keinginan akan menikahkan anak-anak papi mulai dari yang tertua. kalau sampai saat ini saja abang belum punya pasangan, lalu sampai kapan kakak akan menunda pernikahannya dengan kak arya. oke fine papi belain abang karna abang memang anak kesayangan papi, tapi papi tolonglah pikirkan kakak. kakak seorang perempuan pi, tolong lah pi berfikir logis. maafkan alexs jika alexs tidak sopan, alexs hanya menyampaikan apa yang menjadi unek-unek alexs selama ini. alexs permisi ke kamar dulu" ucap alexs panjang lebar.


"al juga pamit dulu masih ada pekerjaan yang harus al urus"


"gisa sayang maaf ya kamu jadi harus melihat perdebatan alexs dan papi"


"tidak apa-apa mami, mami tidak perlu sungkan kepada gisa. karna bagi gisa keluarga ini sudah seperti keluarga gisa sendiri"


"kamu anak yang pintar sayang, mami sayang sekali kepadamu"


"sama aku tidak mi?" tanya alice.


"tentu saja dong, mami sayang kepada kalian semua" ucap mami melati sembari tersenyum.


"mami, kenapa mami dan papi tidak menjodohkan abang dengan gisa saja"


"kau diamlah, ini urusanku dengan mami dan papi"


"tapi kakak tidak boleh seperti itu"


"kau berbicara seperti itu agar bisa cepat menikah dengan arya kan sayang" tanya oma.


"tidak oma. sebenarnya apa yang di takutkan alexs sama persis dengan apa yang alice takutkan. abang pria yang baik, tampan, bahkan abang mempunyai segudang prestasi. tapi dia selalu bersikap dingin kepada semua wanita, alice takut kalau abang tidak tertarik kepada wanita" ucap alice bahkan air matanya sudah merembes membasahi pipi mulusnya.


"oma rasa kamu ada benarnya alice, abangmu terlalu dingin. dulu papimu juga sangat dingin kepada wanita, tapi dulu papimu juga pernah memiliki seorang kekasih. varo, melati fikirkanlan omongan alexs tadi, mama rasa perkataan alexs ada benarnya"


setelah membicakan banyak hal mereka semua kembali kedalam kamar masing-masing.


"kak mau kemana?" tanya gisa


"kekamar alexs dulu"


"aku ikut kak"


"ayo"


"lexs" panggil alice ketika sampai di kamar alexs dan melihat adiknya itu tengah membaca buku.


"ada apa kak?"


"kau berani sekali bicara seperti itu kepada papi?"


"alexs hanya mengeluarkan unek-unek alexs kak, alexs benar-benar takut kalau abang tidak tertarik kepada wanita. apa alexs salah kak?"


"kamu tidak salah lexs" ucap alice sembari memeluk alexs.


"coba kakak lihat, kak gisa kurang apa sih? dia cantik, imut, tapi abang tidak pernah meliriknya. padahal alexs tau dari tatap mata kak gisa kalau kak gisa menyukai abang"


"kau ini sok tau bocah"


"aku memang tau kakak"


"terserah kau saja, lanjutkan baca bukunya. kakak dan kak gisa kembali ke kamar dulu"


"iya kak. selamat beristirahat kakak, kak gisa"


"selamat istirahat juga alexs" jawab alice dan gisa bersamaan.


*******


"sayang aku rasa perkataan alexs memang ada benarnya. sampai kapan al akan seperti ini, kasihan alice yank, dia perempuan"


"lalu apa yang harus kita lakukan sayang"


"bagaimana kalau kita jodohkan al dengan gisa atau pun billa"


"apa al akan mau sayang?"


"aku rasa al tidak akan berani menolak permintaan kita"


"kalau gitu kamu coba bicara dengan sarah"


"kenapa hanya dengan sarah?"


"karna sebenarnya aku lebih suka kalau al dengan gisa sayang. gisa bukan hanya cantik dan baik, dia juga anak yang cerdas"


"maksudmu billa sama telminya dengan liyla?"


"mungkin" jawab papi varo sembari terkekeh.


"kau ini jahat sekali" ucap mami melati sembari mencubit gemas perut papi varo.


"awww sakit sayang" ucap papi sembari meringis menahan sakit.