My Introvert Husband

My Introvert Husband
dijenguk omma



"selamat siang cucu omma"


"omma, oppa, kakek, nenek. kalian kemari?"


"iya sayang, gimana keadaan kamu sayang?"


"star udah baik-baik aja omma"


"bisa-bisanya kalian menyembunyikan hal sebesar ini dari kita. nanti malam jangan harap bisa tidur di kamar" ucap omma melati dengan berapi-api.


"betul. kamu juga gio, nanti malam tidur di luar" timpal nenek sarah tak kalah kesal.


"star lihatlah omma dan nenekmu. oppa dan kakek dihukum, nggak boleh tidur di kamar" ucap kakek gio dengan wajah memelas.


"apa-apaan kamu gio, bisa-bisanya kamu mengadu kepada cucumu"


"biarkan, biar dia tau betapa galaknya omma dan juga neneknya"


"iya star. omma dan nenek sering sekali menindas oppa dan juga kakek" ucap varo ikutan mengadu.


"omma, nenek udah ya. jangan marahin oppa dan kakek lagi. oppa nggak memberitahu omma karena omma baru saja sembuh, sementara itu kakek nggak memberitahu nenek karena kakek nggak mau nenek sedih. lagian itu juga atas perintah daddy"


"ohh jadi anak kurangajar itu yang menyuruhmu untuk tutup mulut?"


"iyalah kalau bukan anakmu siapa lagi, lagian ini juga demi kesehatan kamu"


"kalian para lelaki bener-bener nggak bisa ngertiin perasaan wanita ya" ucap omma melati sembari mendengus sebal.


"omma, oppa, kakek, nenek" panggil nana dan nono secara bersamaan.


"ehh cucu ganteng omma udah pulang" ucap omma melati sembari memeluk nana dan nono "gara ngapain disitu sayang? sini deketan sama omma"


dengan segera gara mendekat dan omma juga langsung memeluk dirinya.


"ahh gantengnya cucu-cucu omma" ucap omma sembari mencium pipi nono, nana, dan juga gara secara bergantian. bahkan nenek sarah juga ikut menciumi dan memeluk mereka.


"sagara sayang, apa papa gara masih suka pukulin gara?" tanya oppa sembari berjongkok di depan gara untuk menyamakan tingginya dengan bocah kecil itu.


"nggak oppa. akhir-akhir ini papa jarang sekali pukulin gara"


"bagus, oppa seneng mendengarnya"


"gisel kenapa kamu nggak ajak anak-anak pulang dulu nak. kenapa langsung dibawa kemari"


"itu atas kemauan mereka sendiri ma, aku mana bisa menolak. mama kan tau sendiri gimana manisnya mereka kalau lagi merayu"


"ahh kamu menar. mereka memang begitu menggemaskan"


"ma, mi gisel titip anak-anak dulu ya. gisel mau ke kantin beli makanan untuk mereka"


"iya sayang"


"apa mama dan mami ingin di belikan sesuatu?"


"tidak nak" jawab mama sarah dan mami melati secara bersamaan.


"papi mau sesuatu?"


"papi tolong belikan kopi ya nak, untuk papamu juga"


"siap pi. ya udah gisel pergi dulu"


"gio kemana?"


"ke kamar mandi. apa kamu sudah merindukannya?" goda oppa varo kepada nenek sarah.


"varo jangan mulai ya. sudah tua bangka juga"


"kau saja yang tua. aku tidak"


"lihatlah mel, suamimu benar-benar nggak ingat umur"


"sudah jangan perdulikan dia, kita fokus aja sama cucu-cucu kita"


"kau benar"


*******


"hai ras"


"virda loe kesini?"


"tentu, gue ingin lihat kondisi loe. bagaimana apa sudah membaik? maaf ya gue baru sempat jengukin loe, karena kemarin-kemarin gue juga sakit"


"iya gapapa. tapi loe sudah baikan kan?"


"loe tuh ya ditanya malah balik nanya" ucap virda sembari cemberut.


"gue udah baikan vir, jangan terlalu khawatir"


"beneran udah gapapa?"


"iya" jawab laras mencoba meyakinkan sahabatnya yang satu itu, padahal pada kenyataannya laras merasa kalau tubuhnya tidak baik-baik saja, entahlah akhir-akhir ini laras merasa tubuhnya semakin melemas dan nggak bertenaga, terkadang ia juga merasakan sakit pada bekas operasinya.


"jangan banyak gerak dulu. loe harus cepat pulih, ingat loe udah janji sama gue buat nggak kenapa-kenapa"


"iya bawel" ucap laras sembari memeluk virda. "makasih ya vir, loe care banget sama gue. gue jadi ngerasa punya kakak perempuan"


"gue sayang sama loe ras. gue emang udah anggep loe kayak adik gue sendiri, walaupun umur kita cuma terpaut beberapa bulan aja"


"gue beruntung punya sahabat kayak loe"


"gue kangen starla vir, loe mau kan anterin gue ke ruangan dia"


"nggak" jawab virda dengan tegas.


"ayo dong, katanya loe sayang sama gue. masak nggak mau nurutin keinginan gue sih vir"


"ras loe belum pulih, dan starla juga baru sadar dari komanya. biarin dia istirahat dulu ya"


"gue kangen putri kecil gue vir"


"loe sayang banget ya ras sama starla?"


"banget. dari dulu gue udah anggep star kayak adik kandung gue sendiri, dulu waktu di jerman gue suka kangen dan pengen cepet-cepet pulang untuk ketemu dia. rasanya 4 tahun begitu lama buat gue vir, bahkan karena gadis kecil itu gue gak jadi lanjutin S2 dan memilih pulang ke indonesia"


"apa yang buat loe sesayang ini sama starla? loe sayang sama dia bukan karena rasa bersalah loe kan ras"


"nggak, gue emang bener-bener sayang sama dia vir. dia separuh hidup gue, dia putri kecil gue walau pun nggak terlahir dari rahim gue"


"loe gadis yang baik ras"


"gue jadi besar kepala nih gara-gara loe bilang gue baik"


"serah loe markonah''


********


"kak. kakak ngapain disini?"


"gisel kamu disini?"


bukannya menjawab pertanyaan gisel Al justru malah bertanya balik.


"iya aku mau cari makan buat anak-anak"


"apa mereka nggak sekolah?"


"udah pulang kak. tadi dari sekolah terus langsung kesini, makannya ini mau beli makan siang untuk mereka. kakak udah makan?"


"belum"


"makan dong kak. aku kan udah bilang jangan terlalu sering minum kopi, nggak baik untuk kesehatan kak" ucap gisel sembari melirik kesal ke arah cangkir kopi milik al.


"iya kakak minta maaf karena nggak dengerin kamu, tapi sekali-sekali boleh kan? kakak ngantuk banget sel"


"iya deh. yaudah aku pesen makanan dulu kak"


"iya" jawab al sembari tersenyum.


Al merasa beruntung punya adik ipar seperti gisel. anak itu begitu perhatian, sebagian sifatnya sama persis seperti almarhumah istrinya.


tak berselang lama gisel kembali dengan sebuah nampan di tangannya.


"makan kak, aku nggak mau kakak sampai sakit" ucap gisel sembari meletakkan sepiring nasi goreng dan juga jus jeruk untuk al"


"kakak nggak laper dek"


"kakak makan sediri atau aku yang suapi" ucap gisel kesal karena al tetep kekeh nggak mau makan.


"iya-iya kakak makan" ucap al sembari terkekeh ketika melihat wajah lucu gisel ketika sedang marah.


"ya udah aku balik dulu kak, kasihan anak-anak nanti kelaparan"


"iya"


"dimakan ya, awas aja kalau nggak dimakan"


"iya bawel"


setelah kepergian gisel, al kembali menatap kosong. makanannya hanya masuk beberapa suap saja, entahlah setelah starla operasi al kehilangan nafsu makannya.


"sayang aku kangen kamu" monolog al dengan mata berkaca-kaca.


"aku ke makam aja tengokin gisa" guman al sembari bangkit dari duduknya.


Al berjalan keluar dari rumah sakit dan langsung menuju parkiran dimana mobilnya berada.


"loe mau kemana al?"


"gue mau keluar sebentar, loe sendirian?"


"iya, nanti alice nyusul"


"gue kan suruh loe gatiin kerjaan gue, kenapa loe malah kesini disaat jam kerja?"


"santai aja dong, semua kerjaan udah beres. gue kangen sama keponakan gue yang paling cantik, udah ah males gue debat ama loe bye" ucap arya sembari pergi meninggalkan al


"bocah sialan"


setelah kepergian arya al segera melanjutkan niat awalnya. dengan segera ia melompat masuk kedalam mobilnya dan melajukannya menuju tempat tujuannya.


setelah berkendara hampir lebih 30 menit al akhirnya sampai di area pemakaman.


"hai sayang, apa kabar? maaf ya akhir-akhir ini aku jarang berkunjung. aku terlalu sibuk sama kerjaan dan putri kita, kamu nggak marah kan?" ucap al sembari menaruh buket bunga krisan di atas makam gisa.


"aku kangen kamu. makasih karena kamu nggak bawa putri kita untuk ikut kamu di atas sana, makasih karena kamu masih izinin aku buat bersama dengan starla"


diusapnya pelan nisan istrinya penuh dengan sayang sebelum akhirnya pamit untuk pulang.


"sayang, aku pulang ya. kasihan putri kita pasti nyariin aku" pamit al sembari mencium nisan gisa dan setelahnya beranjak pergi.