My Introvert Husband

My Introvert Husband
pernikahan



tak terasa hari yang di tunggu-tunggu telah tiba, dimana hari ini adalah acara pernikahan abang al dan juga gisa di selenggarakan. meskipun pernikahan ini terjadi karna perjodohan al tetap berusaha bersungguh-sungguh mengucap janji sehidup semati itu kepada Tuhan.


setelah acara prosesi ijab qabul selesai di lanjutkan dengan acara resepsi. ya acara itu di adakan di salah satu hotel milik keluarga al.



"selamat ya sob akhirnya loe udah nggak jomblo akut lagi, gue seneng banget lihat loe sekarang udah punya pasangan" ucap arya sembari memeluk al.


"loe seneng karna sebentar lagi bisa menikahi saudari kembarku kan?"


"aku ini sedang bersungguh-sungguh al. aku senang kau menikah dengan gisa. gisa adalah wanita yang baik, aku harap kamu bisa menjaganya sama seperti kamu menjaga alice"


"iya crewet. sudah jangan melo seperti itu, aku sangat jijik melihat matamu merah karna akan menangis"


"sialan kau ini"


"selamat menempuh hidup baru bro, gue harap loe bahagia selalu. gue titip bidadari gue ya, jangan pernah loe sia-siain dia" ucap galih sembari memeluk al


"iya"


"al selamat ya. aku doakan semoga kalian berdua bahagia" ucap aleta sembari menjabat tangan al.


"terimakasih ta"


"sama-sama"


"aku harap kamu juga segera menyusul dengan pria yang kau taksir selama ini"


"pasti al, doakan saja ya"


"tentu"


*"bagaimana aku bisa bersatu dengan pria yang kucintai selama ini al, jika pria itu adalah dirimu. dan dirimu sudah menjadi milik nona gisa, dan kalau pun di suruh memilih aku yakin kau tetap akan memilih nona gisa. selain dia cantik, dia juga sangat baik. dia sangat cocok untuk dirimu al, tidak seperti diriku ini"* gumam aleta dalam hati, ia berusaha mengerjap-erjapkan matanya berharap air matanya tak jatuh membasahi pipi mulusnya.


"oh iya al, dimana bidadariku?"


"gisa masih di ruang ganti. alice sedang menjemputnya untuk segera turun"


"aku bertanya kepada al, kenapa kau yang menjawabnya"


"biarkan saja, lagian al juga tidak keberatan jika aku yang menjawabnya"


sementara itu disisi lain gisa tampak duduk dengan melamun, ia benar-benar tidak menyangka kalau sebentar lagi ia akan menjadi seorang istri dari alvian akbar efendi. pria tampan yang sudah ia sukai sedari masih duduk dibangku sekolah dasar.


"gisa kenapa kau melamun?"


"ah tidak kak, aku tidak melamun. aku hanya tidak menyangka saja kalau aku sekarang sudah menjadi seorang istri"


"aku sangat bahagia sekali gisa, akhirnya kau yang menjadi kakak iparku" ucap alice sembari memeluk erat gisa, bahkan tak terasa air matanya telah jatuh membasahi pipinya karna saking haru dan bahagianya alice.


"kalau kakak bahagia, lantas kenapa kak alice menangis?" ucap gisa sembari menghapus air mata alice.


"aku menangis karna terharu bodoh"


"ya sudah ayo turun, semua orang telah menunggumu"


"apa kita tidak menunggu mama kak?"


"mama dan mami disini sayang" ucap mama dan mami bersamaan.


"ayo sekarang kita turun"


"iya mi"


gisa pun berjalan di tengah-tengah mama sarah dan juga mami melati. sedangkan di belakangnya ada alice, gisel, billa, dan juga bella. setelah sampai di balroom semua mata tertuju kepada gisa, mereka semua menatap kagum atas kecantikan sang mempelai wanita.


"iya benar, gisa sangat cantik sekali" ucap arya tak mau kalah dengan galih.


"kalau kau capek, lebih baik istirahat saja" ucap al yang melihat gisa mulai kelelahan karna menyalami begitu banyak tamu.


"ahh tidak kok kak, aku sama sekali tidak lelah" dusta gisa


"terserah kau saja"


acara itu berlangsung sangat meriah, dan dihadiri oleh rekan kerja orang tua mereka. jam menunjukkan pukul 22.00 dan acara resepsi pernikahan al dan gisa pun baru selesai. setelah acara itu selesai, al dan gisa segera masuk kedalam kamar mereka untuk beristirahat.


sesampainya didalam kamar al segera menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa sangat lengket.


"kenapa dia tidak mau mengalah kepada diriku" gumam gisa sembari mencebikkan bibirnya.


gisa merasa seluruh tubuhnya pegal-pegal karna dijadikan pajangan sehari suntuk. ia segera membongkar almarinya dan memilih baju yang akan ia kenakan seusai mandi.


"astaga kenapa semua pakaiannya seperti ini, ini semua pasti kerjaan kak alice. menyebalkan sekali dia ini"


setelah al keluar gisa segera masuk dan membawa salah satu lingerie yang ada didalam almari.


"astaga kenapa gaun ini sudah sekali di bukanya. aduhh bagaimana ini, hanya ada kakak al di dalam kamar ini. apa iya aku harus meminta tolong kepadanya"


"ahh yasudahlah dari pada aku tidak mandi" ucap gisa sembari keluar dari dalam kamar mandi.


"kakak al"


"ada apa?" tanya al sembari melirik tajam kearah gisa.


"apa kakak al bisa menolongku, membukakan resleting gaun ini"


"kau ini menyusahkan sekali" ucap al sembari bangkit dari duduknya, dan segera membantu gisa membuka resleting gaun yang tengah gisa gunakan. hingga memperlihatkan punggung mulus gisa


"sudah" ucap al sembari kembali duduk di sofa tempat duduknya semula.


"terimakasih kakak al" ucap gisa sembari kembali masuk kedalam kamar mandi untuk meneruskan ritual mandinya.


setelah hampir 20 menit menghabiskan waktunya di dalam kamar mandi, dengan sedikit keberanian gisa keluar menggunakan lingerie.


"astaga apa kau tidak ada pakaian yang lainnya?" tanya al ketika melihat gisa baru saja keluar dari dalam kamar mandi sembari menggunakan lingerie.


"maaf kakak al, habisnya semua baju yang berada di dalam almari seperti ini. bahkan aku sudah memilihnya dan ini adalah baju yang lumayan panjang" ucap gisa sembari menunduk karna tak berani menatap mata suaminya.


"ini semua pasti kerjaan alice. yasudah tidurlah, kau pasti lelah"


"iya kak, selamat malam" ucap gisa sembari merebahkan tubuh lelahnya ke atas ranjang.


"dan dengan segera al juga merebahkan tubuhnya disamping gisa"


"kakak al sedang apa?"


"mau tidurlah, aku ini sekarang suamimu. mau tidak mau, kau harus mau berbagi ranjang denganku" ucap al sembari memunggungi gisa.


"baik kak"


dan tak butuh waktu lama mereka berdua pun telah terlelap di buai oleh mimpi.