My Introvert Husband

My Introvert Husband
janji menikah



"gara kenapa dari tadi lihatin aku terus sih?" tanya starla sembari memiringkan kepalanya.


"star cantik" ucap gara sembari tersenyum.


"gara gombal deh" star benar-benar malu, ini untuk pertama kalinya gara memujinya. bahkan kini pipinya telah bersemu merah seperti tomat.


"dihh gombalan buaya darat" gumam nana namun masih bisa di dengar jelas oleh starla dan juga gara.


"gara nggak gombal, star emang cantik. nanti kalau kita udah besar, gara mau nikahin star"


"ehh bocah ngapain kamu udah bahas nikah-nikah" ucap nana kaget.


"nggak usah baperin saudariku ya gar" ucap nono angkat bicara.


"gara nggak baperin, ini janji gara"


"gara ihh masih kecil juga, udah main janji-janji nikah segala" ucap biru.


"siapa yang bikin janji nikah?" tanya alfin yang baru saja datang.


"gara" jawab nana, nono, dan juga biru secara bersamaan.


"sama siapa?"


"starla" jawab biru.


"APA?"


"biasa aja dong, nggak usah ngegas gitu" ketus nono.


"NGGAK BOLEH"


"kamu kenapa sih fin. atau jangan-jangan kamu juga mau nikahin star juga?" tanya nana.


"YA IYALAH"


"buset ni bocah ngegas mulu" ucap biru sembari melempar buku milik nana tepat di kepala alfin.


"alfin mau nikahin star juga?" tanya starla.


"iya. star punya alfin" ucap alfin sembari menepuk dadanya sebanyak dua kali.


"nggak bisa kan gara dulu yang janji buat nikahin star" ucap gara tidak terima.


"nggak boleh. yang kenal star kan aku dulu, jadi gara ngalah dong"


"gara nggak mau ngalah sama alfin" ucap gara sembari mencebikkan bibirnya.


"udah jangan berantem. kita tanya star aja dia mau nikah sama siapa" final biru.


"bener tuh"


"star jadi kamu mau nikah sama alfin atau gara?" tanya biru.


"kalau bisa dua-duanya kenapa harus satu" jawab star sembari tersenyum.


"STAR" ucap gara dan alfin secara bersamaan, dan dengan tajamnya mereka berdua menatap starla.


"bercanda"


"nggak usah milih star" ucap nono.


"kenapa gitu? nono nggak suka kan kalau star nikah sama alfin" ucap alfin tidak terima.


"ya karena jodoh itu ada di tangan Tuhan. lagian masih kecil juga udah bicarain nikah-nikah segala, lap ingus aja belum bisa udah bicarain nikah" ucap nono mulai kesal.


sementara itu bik titik yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan keenam bocah itu tidak bisa menahan tawanya.


"emang den nono yang paling waras" ucap bik titik sembari memegangi perutnya yang mulai kaku karena kebanyakan tertawa.


********


"pak boss nih laporan yang loe minta" ucap aleta sembari memberikan berkas yang di minta oleh al.


"hemmt makasih ta"


"iya sama-sama. tidur gih"


"kenapa?"


"mata loe menghitam al. gue tau loe jarang tidur akhir-akhir ini, gue tau star harta yang paling berharga buat loe. tapi loe juga harus jaga kesehatan jangan sampai ikutan sakit, star aja kuat al. nih makan, habis itu tidur, biar semua kerjaan gue yang handel"


"maaf ya ta, gue jadi ngerepotin loe"


"nggak ada istilah ngerepotin di dalam persahabatan al. udah makan gih, gue balik kerja dulu"


"iya, thank ta"


"santai aja al" jawab aleta sembari berlalu keluar dari ruang kerja al.


"hai sayang, udah lama?" sapa aleta ketika melihat galih sudah duduk di sofa yang berada di dekat meja kerjanya.


"belum, baru aja datang. al lagi ngapain?"


"tadi aku anterin makanan buat dia. aku suruh dia makan terus istirahat. aku nggak tega lihat dia kayak gini, kantung mata dan lingkaran hitamnya semakin terlihat dengan jelas, semakin memperjelas kalau dia kurang tidur akhir-akhir ini"


"aku nggak tega lihat al yang kayak gitu yank" ucap galih sembari memijat pangkal hidungnya.


"aku pun sama"


andai saja ginjal galih cocok untuk keponakannya itu suda pasti ia akan mendonorkannya, akan tetapi hasilnya ginjalnya dan ginjal milik star tidak cocok.


"star, om harus gimana buat bikin kamu sembuh, semua udah om lakuin tapi kenapa masih juga belum dapat pendonor yang cocok" ucap galih dengan suara bergetar, air matanya oun mulai jatuh.


"heii jangan salahin diri kamu, yang terpenting kita semua udah berusaha. Tuhan pasti bakal kasih jalan yang terbaik" ucap aleta sembari memeluk galih.


"kamu benar yank, rencana Tuhan pasti lebih baik"


*******


"nana, biru , alfin jangan lari-larian nak" teriak gisel ketika tiga bocah itu tengah main tembak-tembakan dan berlari-larian.


ya sore ini gisel mengajak anak-anak ke taman kota.


"MAMA" teriak starla ketika melihat laras yang kebetulan juga berada di taman itu.


ketika mendengar teriakan star dengan segera laras menghampiri putri kecil kesayangannya itu.


"anak mama disini juga?"


"iya ma. mama sama siapa?" tanya starla sembari menatap pria yang berada di samping laras.


"oh ini kenalin namanya om felix. dia ini kakaknya mama" jawab laras sembari mengelus sayang kepala starla.


"kakaknya mama!" beo star.


"iya, kakaknya mama"


"hai tuan putri kenalin aku om felix" ucap felix sembari berjongkok menyamakan tingginya dengan tinggi star.


"iya, karena om baru pulang dari jerman"


"om di jerman ngapain?"


"om kerja sayang"


"om kerja buat apa?"


"buat sekolahin mama kamu, tapi mama kamu nggak mau sekolah lagi dan memilih pulang ke indonesia biar bisa deket kamu terus"


"emang gitu ma?"


"nggak. jangan di dengerin omongan om felix"


"dia kakak loe ras?"


"ahh iya mbak, aku sampai lupa ngenalin sama mbak gisel" ucap laras cengengesan. "kak kenalin ini mbak gisel, mbak gisel kenalin ini kakak aku Felix"


"hai, gue felix kakaknya laras" ucap felix sembari tersenyum dan mengukurkan tangannya.


"gue gisel, tantenya starla" ucap gisel sembari menjabat uluran tangan Felix.


"adik ayahnya star?"


"adik dari mommynya star" jawab gisel.


"ohh, sorry gue nggak tau"


"gapapa santai aja" jawab gisel sembari tersenyum.


*"cantik*" gumam felix dalam hati.


"tante laras kok mainan anjing sih, kan air liur anjing najis" ucap gara.


"iya ma, mama kok mainan anjing"


"gara, star. mama kan non muslim, di agama mama nggak ada istilah najis untuk anjing"


"mama non muslim?"


"iya sayang"


"pantes star nggak pernah lihat mama solat"


"apa star nggak sayang sama mama lagi, ketika star tau mama non muslim?" tanya felix.


"star tetep sayang mama kok om"


"makasih sayang" ucap


laras sembari memeluk starla.


"mama sakit" ucap nana yang berjalan di papah oleh biru dan juga alfin.


"tuh kan mama kan udah bilang, jangan lari-larian" ucap gisel dengan wajah khawatir ketika melihat luka di lutut nana.


"maaf ma"


"saya ambilin p3k di mobil ya, tunggu bentar" ucap felix sembari berlari menuju mobilnya.


"nana kok bisa jatuh gini sayang?" tanya laras yang juga ikut khawatir


"tadi nana kesandung tan"


"ini obatnya"


"makasih" ucap gisel sembari menerima kotak p3k dari felix, dan langsung membersihkan luka nana.


"sakit nggak nak?"


"nggak kok ma"


"kalau sakit bilang, jangan di tahan-tahan. mama nggak akan marah kok"


"iya ma. ini udah agak mendingan kok"


*"ternyata wanita ini udah punya anak. ahh bodohnya gue, mana mungkin wanita secantik dia belum punya pasangan"* gumam felix sembari terus memandang gisel yang tengah sibuk mengobati luka nakula.


laras yang sadar kakaknya terus memperhatikan gisel dengan segera menyenggol lengan sang kakak.


"kakak suka mbak gisel ya? nggak usah macem-macem, mbak gisel ini istrinya mas riko pemilik rumah sakit tempat aku kerja" bisik laras tepat di telinga felix.


"nggak kok"


"nggak apanya?" tanya gisel, ketika mendengar felix bicara sendiri.


"ahh ini gue ngomong sama laras" jawab felix kikug.


"ohh gue fikir loe ngomong sendiri"


"gue belum gila kalik" ucap felix sembari terkekeh.


******


"aleta, galih. al dimana?"


"ada di ruangnya om tap...."


belum sempat aleta menyelesaikan ucapannya varo sudah lebih dulu masuk kedalam ruang kerja al.


"AL BANGUN KAMU" teriak papi varo ketika melihat sang putra tengah tidur sembari menelungkupkan kepalanya di atas meja.


"papi kenapa pi?"


"keterlaluan kamu, cucu papi sakit keras dan kamu menutupinya dari papi"


"maaf pi. al sama sekali nggak ada maksud buat nyembunyiin dari papi dan mami, al cuma takut kalau mami tau masalah ini nanti mami drop lagi pi"


"kalau ada apa-apa ngomong nak, papi tau ini pasti berat banget buat kamu" ucap papi varo sembari memeluk al


amarahnya yang tadi meluap-luap hilang begitu saja ketika melihat betapa kacaunya penampilan sang putra, terlihat jelas kalau al kurang istirahat.


"maafin al pi" ucap al sembari terisak dalam pelukan sang ayah. "al telah gagal menjaga cucu kesayangan papi"


"kamu nggak gagal nak. papi tau kamu udah berusaha semaksimal mungkin, Tuhan nggak pernah tidur nak. Tuhan pasti punya rencana yang luar biasa"


"iya pi"


"jangan sedih lagi, kita berusaha bersama nak" ucap papi varo sembari mengelus pelan pundak sang putra.


"makasih pi"


"bocah bodoh, untuk apa berterimakasih kepada papi"


"papi selalu jadi ayah yang bisa di andalkan. apapun masalah kami, papi selalu ikut cari jalan keluarnya"


"bocah bodoh. itu memang kewajiban seorang ayah, mana mungkin papi biarin anak-anak papi menderita sendirian"