My Introvert Husband

My Introvert Husband
sudah tua masih genit



"asalamualaikum"


"walaikumsalam daddy" jawab starla sembari berlari dan langsung memeluk al.


"cantiknya daddy, baru beberapa jam tidak bertemu makin cantik aja ya"


"iya dong anak daddy al"


"abang kenapa baru pulang?" tanya alice yang baru saja keluar dari dapur sembari membawa nampan berisi biskuit dan minuman.


"iya tadi ada beberapa pekerjaan penting. kamu dan laras sudah lama?"


"aku dan gisel dari sore tadi, kalau laras baru aja datang"


"ohh ya udah abang mandi dulu. star sayang di lanjut ya belajarnya, daddy mandi dulu"


"iya dad"


"mbak alice kenapa?" tanya laras ketika melihat alice sedari tadi menatap al.


"aku merasa ada sesuatu yang di fikirkan abang"


"masak sih mbak?"


"iya. apa kau tidak lihat wajah abang tadi, terlihat sangat jelas kalau abang sedang memikirkan sesuatu"


"pak al mungkin masih memikirkan tentang donor ginjal mbak"


"iya juga sih, tapi aku akan tetap bertanya nanti. rasanya melihat abang seperti itu ganjal banget di hati"


"ikatan anak kembar emang kuat ya mbak" ucap laras sembari tersenyum.


"itu pasti. bahkan kalau abang terluka aku juga bisa merasakan sakitnya"


"cupcake udah jadi" ucap gisel sembari membawa dua piring cupcake buatannya.


"yey" sorak starla, nono, dan nana bersamaan.


"hati-hati sayang, masih panas. jangan berebut ya, mama bikin banyak kok"


"cupcake buatan tante gisel emang yang paling top"


"kalau buatan tante?" tanya alice.


"emang tante bisa bikin cupcake? star belum pernah lihat tante bikin cupcake" ucap starla sembari mengetuk-etukkan jarinya di dahinya mencoba untuk mengingat-ingat apakah tantenya yang satu itu pernah membuatkannya cupcake.


"jangankan membuat cupcake, mama goreng telur aja gosong" ucap nono sembari melahap cupcakenya.


"nono kenapa kalau ngomong suka jujur sih nak" ucap alice sembari tersenyum miris, sedangkan gisel dan laras tidak mampu menahan tawanya.


"asalamualaikum"


"walaikumsalam"


"bel kamu cuma sama abel aja?"


"iya kak, alexs nggak ikut. tadi masih ada kerjaan yang harus dia kerjakan"


"ada bagusnya sih anak itu nggak ikut, jadi dia nggak bikin gara-gara sama laras" timpal gisel.


"SAYANG"


"arya. kamu nih apa-apaan sih masuk rumah bukannya ucap salam malah teriak-teriak kayak di hutan"


"maaf" ucap arya sembari cengengesan.


"dosa apa aku punya suami kayak kamu. untung ganteng, untung juga sayang. kamu ngapain kesini? aku kan udah bilang kalau aku temani nono dulu bentar, karena nono pengen nginep di sini"


"nono mau bobok di rumah om al nak?"


"iya pa"


"ahh sial"


"kenapa wajahmu di tekuk seperti itu?"


"seharusnya ini kesempatan bagus untuk kita bermesraan tanpa adanya tuyul satu itu, tapi aku malah di lempar sama al untuk pergi ke bogor"


"arya mulutmu, bisa di kondisikan nggak" ucap alice sembari menutup wajahnya karena malu dengan tingkah suaminya, sedangkan di situ masih ada gisel, bella, dan juga laras.


"tenang sayang, aku akan minta kompensasi sama al"


"kompensasi ndasmu" ucap alice kesal.


"nono, nono bobok sini seminggu ya nak"


"kenapa papa jadi ngatur-ngatur nono"


"kan papa orang tua kamu nak, kalau bukan papa yang ngatur siapa lagi. nono pengen punya adik nggak?" tanya arya sembari menaik turunkan alisnya.


"nono nggak mau. papa ini sudah tua tapi masih aja genit"


"astaga dosa apa papa sampai punya anak mulut tajem kayak kamu no" ucap arya mendramatis.


sedangkan laras, gisel, bella, dan alice tak mampu menahan tawanya ketika arya mendapat jawaban savage dari sang putra.


"kenapa ramai sekali?" tanya al yang baru saja menuruni tangga.


"al kenapa harus gue sih yang pergi. galih aja deh"


"kenapa kau menawar"


"apa kau tidak lihat, anakku sekarang mau tidur disini. ini kesempatan yang bagus bu...."


"hilangkan fikiran kotormu, cepat berangkat atau aku akan mengirimmu ke afrika" ucap al memotong omongan arya.


"menyebalkan"


"cepat berangkat, kalau kau tidak cepat-cepat berangkat nanti sampai sana keburu malam"


"iye bawel" jawab arya sembari memberengut. "sayang aku pergi dulu ya"


"iya hati-hati ya. aku dan putra kita selalu menunggu kepulanganmu" ucap alice sembari mencium tangan arya.


"iya sayang. nono papa pergi dulu, jangan nakal ya nak"


"iya pa, papa hati-hati"


"iya. asalamualaikum"


"walaikumsalam"


*******


"dokter esa, ada yang bisa saya bantu?"


"saya hanya ingin menanyakan tentang yang saya bicarakan pagi tadi pak"


"lakukan saja" ucap riko dengan tegas.


"apa bapak yakin?"


"ya saya yakin. lagian pihak keluarga juga sudah setujukan"


"lalu bagaimana dengan pak al?"


"kamu tenang saja, kalau masalah kakak biar saya yang membujuknya"


"baiklah pak"


"yasudah, saya pulang dulu" ucap riko sembari menepuk pundak dokter esa sebelum ia berlalu pergi dari hadapan dokter esa.


********


"kalian mau pada nginep?"


"iya bang, memangnya nggak boleh?"


"boleh lah. abang malah seneng karena rumah jadi rame. tapi bella, gisel kalian udah izin suami kalian kan?"


"udah kak" jawab bella dan gisel secara bersamaan.


"bagus. laras kamu juga mau nginap?"


"iya pak. boleh kan?"


"boleh sih, tapi apa kamu sudah izin orang rumah?"


"sudah pak, tadi saya udah bilang mama dan kakak saya"


"ahh syukurlah. kalau tidak mereka pasti akan khawatir"


"om al" panggil nono.


"iya no kenapa?"


"om bisa bantu kita kan?"


"bantu apa nak?"


"om bantu kita supaya gara nggak di pukuli terus-terusan sama papanya, kita sedih kalau lihat gara terluka"


"iya om, bantu kita ya" timpal nana


"om sudah memikirkan tentang itu, keponakan-keponakan om yang ganteng nggak usah khawatir ya"


"beneran om?"


"iya na. kapan sih om pernah bohong sana nana dan juga nono"


"om al emang yang terbaik" ucap nana dan nono secara bersamaan sambil menghampur memeluk al.


"jelas yang terbaik, daddynya star gitu"


"anak-anak kalian masuk kamar dulu ya. mama mau ngomong sama om al" ucap alice.


"bell kamu temani anak-anak dulu ya" timpal gisel.


"iya. anak-anak ayo kita naik ke atas, ayo kemasi buku-buku kalian jangan sampai ada yang berserak"


setelah bella mengajak anak-anak kelantai atas dengan segera alice mencecar saudara kembarnya.


"bang, abang kenapa sih?"


"kenapa apanya?"


"abang seperti lagi banyak pikiran"


"sebenarnya abang lagi pusing" jawab al sembari memijat pangkal hidungnya.


"pusing kenapa kak. cerita dong, kalau ada apa-apa jangan di pendam sendiri" ucap gisel.


"riko berhasil dapat pendonor untuk star"


"bagus dong" ucap alice, gisel, dan laras secara bersamaan. kebahagiaan terpancar jelas dimata ketiga wanita itu.


"tapi ada masalah lain" ucap al pelan dan nyaris saja tidak terdengar.


"masalah apa pak?" tanya laras.


"satu dari ginjal pendonor mengalami kerusakan. kalau dia mendonorkan ginjalnya untuk star, sudah sangat jelas kalau nyawa orang itu akan terancam"


"yaTuhan baru saja kami merasa lega, tapi kenapa ada lagi masalah" ucap gisel sendu.


"terus gimana bang?"


"abang nggak tau. kata riko pihak keluarga dari pendonor menyetujuinya, tapi abang juga nggak mau jadi orang egois. kita nggak bisa kan ngebiarin star sembuh tapi harus menghilangkan satu nyawa orang"


"abang bener. kita harus berusaha lebih keras lagi, kita harus cari pendonor yang lainnya"


"kalau kita nggak dapat?"


"laras kenapa kamu ngomong gitu" ucap alice tidak suka.


"kita udah bawa banyak orang untuk donorin ginjalnya buat star mbak, tapi tidak satu pun ada yang cocok"


"tapi kita juga nggak bisa korbanin nyawa orang ras"


"apa kita nggak bisa egois sekali saja untuk bintang kita yang paling berharga?" tanya gisel sembari terisak.


"mbak gisel benar. apa kita nggak bisa egois sekali ini aja? saya sungguh tidak bisa membayangkan jika harus kehilangan bintang yang paling terang di hidup saya" ucap laras sembari terisak.


"laras dan gisel ada benarnya sih bang. berapapun yang keluarga mereka minta, kita kasih aja bang"


"masalahnya si pendonor tidak meminta imbalan apapun lice"


"abang nggak bercandakan?"


"iya kak. kakak nggak bercanda kan? mana ada di jaman seperti sekarang ada orang yang mau membantu tapi secara cuma-cuma" timpal gisel.


"entahlah abang juga tidak mengerti"


"apa dia orang terdekat kita kak?"


"entahlah, kau tanya saja sama suamimu. karena suamimu itu terus bungkam ketika aku bertanya siapa pendonor itu"