My Introvert Husband

My Introvert Husband
taman bermain



"sayang sebenarnya kita mau kemana sih?" tanya gisa ketika mereka sudah berada diperjalanan.


"kau bisa diam atau tidak? nanti juga kau akan tau, kenapa harus bawel"


"kau bilang aku apa tadi?"


"kamu bawel"


"coba ulangi lagi"


"kamu bawel gisa"


"menyebalkan sekali" ucap gisa sembari mencebikkan bibirnya hingga membuat al tersenyum karna gemas dengan tingkah sang istri.


"apa kau ketawa-ketawa?"


"habisnya kamu lucu"


"tadi kau mengataiku bawel, sekarang kau bilang aku lucu. plin-plan sekali anda tuan alvian akbar efendi"


"kau memang bawel dan menyebalkan tapi aku tetap mencintaimu" ucap al tepat di dekat telinga gisa, hingga gisa pun bisa merasakan helaan nafas al.


seusai al mengatakan itu wajah gisa berubah menjadi merah padam. hingga membuat al kembali lagi tertawa menyaksikan wajah istrinya yang sudah memerah semerah tomat.


"mukamu kenapa merah seperti itu? sudah seperti udang rebus saja" sarkas al sembari terkekeh, hingga membuat gisa salah tingkah.


"hihh kamu menyebalkan" ucap gisa sembari memukuli lengan al.


setelah menempuh perjalanan hampir 40 menit mereka pun telah sampai ditempat yang dituju oleh al.


"kita ketaman bermain?" tanya gisa dengan girangnya.


"iya, kamu kan pernah mengajakku ketaman bermain. tapi aku nggak bisa menepati janjiku karna ada pekerjaan mendadak, jadi sekarang mumpung aku ada waktu luang aku mengajakmu kemari"


"terimakasih sayang" ucap gisa sembari melompat kedalam pelukan al.


*"astaga ternyata membuatmu bahagia semudah ini gisa, aku sungguh beruntung bisa memilikimu. aku berjanji akan selalu membahagiakanmu, tak akan kubiarkan siapapun melukai ataupun menyakitimu. aku mencintaimu gisa anastasia aroran"* gumam al dalam hati sembari menghujani puncak kepala gisa dengan ciuman bertubi-tubi.


"yasudah ayo kita masuk. aku akan membelikan apapun yang kau mau"


"serius?"


"iya"


"apapun itu?"


"iya sayang"


"baiklah ayo kita masuk" ucap gisa sembari menarik tangan suaminya.


"sayang aku pengan kerumah hantu" ucap gisa sembari menunjuk rumah hantu yang ada didepannya.


"aku tidak mau"


"tadi katanya kau akan menuruti semua keinginanku"


"iya tapi jangan rumah hantu ya. aku tau kau pasti akan ketakutan nanti kalau sudah didalam"


"apa kau bilang tadi?"


"kamu penakut"


"enak saja, aku ini seorang pemberani ya"


"dasar keras kepala"


"ayolah sayang. ya.... ya.... ya aku mohon" ucap gisa sembari memasang muka semelas mungkin.


"hemtt baiklah. ubah ekspresi mukamu itu, kau sangat jelek kalau seperti itu"


"hehehe trimakasih. aku sangat mencintaimu" ucap gisa sembari mencium pipi al, dan segera berlari menuju rumah hantu untuk mengantri tiket masuk.


setelah mendapatkan tiket masuknya mereka berdua segera masuk kedalam rumah hantu itu. dan al pun dengan segera berjalan mendahului istrinya, karna ia tahu betul kalau gisa sangat takut dengan hal yang berbau horor.


"sayang tunggu aku" ucap gisa sembari berlari menyusul al.


"kenapa? kau takut ya?"


"ti... tidak siapa juga yang takut"


"kalau kau tidak takut, lantas kenapa lari-larian?"


"habisnya kamu meninggalkanku"


"siapa yang meninggalkanmu, jelas-jelas aku hanya berjalan duluan"


"itu sama saja kau meninggalkanku"


"tinggal bilang kalau kau takut saja apa susahnya"


"aku tidak takut"


"ya.. ya... ya terserah kau saja nyonya efendi"


"tolong lepaskan kaki istriku, dia seorang penakut. akan sangat berbahaya kalau dia sampai pingsan" ucap al kepada salah satu anggota rumah hantu itu.


"begitu saja takut. gitu ngakunya pemberani" ucap al sembari berlalu pergi meninggalkan gisa.


"sayang tunggu" ucap gisa sembari berlari dan langsung melompat kepunggung al.


"hey kau ini apa-apaan?"


"gendong aku. aku nggak mau jalan sendiru, nanti mereka jahil dan memegang kakiku lagi"


"tuhkan aku kan sudah bilang tadi, kau pasti akan takut. tapi kau malah keras kepala, sekarang menyusahkan"


"maaf sayang. sudah ayo cepat kita keluar dari sini, aku sungguh takut" ucap gisa sembari menyembunyikan kepalanya dipundak al.


setelah beberapa saat mereka pun telah berhasil keluar daru dalam rumah hantu itu.


"mau sampai kau minta gendong? ayo turun"


"aku tidak mau. aku sangat takut sayang"


"tapi kita sudah keluar dari dalam rumah hantu yank. coba bukalah matamu"


"benarkah?"


"iya, ayo buka matamu"


"baiklah" dan dengan perlahan gisa membuka matanya.


"ahh akhirnya kita keluar juga" ucap gisa dengan lega.


"dasar penakut"


"terus saja meledku"


"penakut"


"menyebalkan" ucap gisa sembari berlalu pergi.


"hey kau mau kemana?"


"pergi"


"begitu saja marah" ucap al sembari tersenyum.


"sayang" panggil gisa.


"apa. bukanya kau marah kepadaku?"


"mana berani aku marah kepadamu. aku ingin itu"


"kau ingin arum manis gulali?"


"iya"


"apa kau tidak salah?"


"tidak"


"astaga kenapa istriku sudah seperti bocah saja"


"kau meledekku lagi"


"tidak-tidak yasudah ayo kita beli"


setelah selesai membeli arum manis gulali gisa pun mengajak al untuk berfoto bersama.


"sayang ayo kita foto bersama"


"aku tidak mau"


"ayolah, sekali saja"


"aku bilang aku tidak mau, jangan memaksa" ucap al sembari menatap tajam gisa.


"baiklah. kalau begitu tolong fotokan aku" ucap gisa sembari memberikan ponselnya kepada al.


dan dengan segera al menuruti permintaan sang istri.


"ahh aku tidak menyangka kalau hasil jepretan suamiku begitu bagus"


"apa kau baru sadar kalau kau memiliki suami yang multitalenta?"


"mungkin" ucap gisa sembari tersenyum.


hari ini mereka menghabiskan waktu ditaman bermain itu hingga sore hari, banyak wahana yang mereka naiki, dan banyak sekali makanan yang mereka beli. al sangat senang sekali hari ini, karna dia bisa melihat senyum bahagia diwajah istrinya.