My Introvert Husband

My Introvert Husband
kelinci kecil



"kakak al kau baru pulang?" tanya gisa sembari mengambil alih tas kerja al dan membantu al melepaskan jasnya.


"iya. aku mandi dulu"


"iya kak"


tokk.... tokk.... tokk


"kak alice ada apa?" tanya gisa ketika baru saja membuka pintu kamarnya.


"gisa ayo kita makan, aku sudah sangat lapar" ucap alice sembari mengusap-usap perutnya.


"kita tunggu kakak al dulu ya kak"


"hah baiklah"


"oh iya gisa apa kalian sudah melakukannya?"


"melakukan apa kak?"


"kau ini selalu saja seperti itu, tentu saja hubungan suami istrilah."


"belum kak" ucap gisa sembari menggelengkan kepalanya, dan wajahnya pun berubah menjadi murung.


"gisa bersabarlah, aku yakin suatu saat nanti abang pasti akan membuka hatinya untukmu"


"harus sampai kapan kak?"


"aku mohon bersabarlah, hanya kamu yang pantas untuk abangku gisa."


"kakak alice tenang saja, aku akan berusaha keras untuk selalu mempertahankan rumah tanggaku. akan tetapi aku akan benar-benar menyerah jika kakak al yang menginginkan perpisahan itu, karna kebahagiaan kakak al adalah yang terpenting untuk diriku" ucap gisa sembari tersenyum manis.


"oh astaga gisa, kau memang wanita hebat gisa" ucap alice sembari bangkit dari duduknya dan langsung memeluk gisa.


"kenapa kalian berpelukan seperti itu?"


"memangnya tidak boleh?"


"terserah kalian saja, ayo makan aku sudah sangat lapar"


hening tak ada satupun diantara mereka yang membuka pembicaraan, hingga pada akhirnya al membuka pembicaraan.


"alice apa kau mau menginap disini?"


"iya, memangnya tidak boleh ya bang?"


"apa kau sudah minta izin papi dan juga mami?"


"tentu saja sudah abang"


"oh, yasudah kalian lanjutkan makannya"


"aku masih ada pekerjaan, aku keatas dulu"


"apa kakak al sudah selesai makannya?"


"sudah, aku sudah kenyang. kalian berdua lanjutkan saja makannya" ucap al sembari berlalu pergi.


"abang-abang kapan kau ini akan sadar betapa besar cinta istrimu ini untukmu"


"sudahlah kakak alice biarkan saja, aku yakin suatu saat nanti kakak al pasti mencintaiku"


"aku juga memikirkan hal itu. sekeras apapun batu, kalau ditetesi terus oleh air maka ia akan berlubang juga. sama seperti abang, sekeras apapun dia kalau kau memberinya cinta yang begitu luar biasa dia pasti akan luluh juga gisa"


"iya kakak benar"


*******


sementara diruang kerjanya al terlihat tengah sibuk dengan laptopnya, ia juga tengah melakukan panggilan video dengan arya.


"al ayolah cerita kepadaku siapa wanita yang kau cintai itu"


"untuk apa aku cerita kepadamu, nanti yang ada kau malah ember dan membeberkannya kepada alice"


"tidak akan al, ayolah sob aku ini sahabatmu. aku akan menjaga rahasiamu, aku janji. dan lagian aku ini bukan galih, yang bermulut ember"


"hemmt baiklah" ucap al sembari membuka salah satu laci berisikan foto-foto gadis yang ia cintai selama ini.


"ini gadis yang aku cintai selama ini"


"kau gila, kenapa kau menunjukkan fotonya sewaktu masih kecil"


"lalu kau minta yang bagaimana?"


"aku menginginkan fotonya ketika ia sudah dewasa bodoh"


"aku tidak akan menunjukkannya padamu"


"ah kau ini. kalau seperti ini sama saja dengan bohong al"


"yang penting aku sudah menunjukkannya kepadamu" ucap al sembari terkekeh karna melihat ekspresi wajah arya yang terlihat sebal.


"kau ini menyebalkan sekali, ya sudah selesaikan pekerjaanmu. lebih baik aku menelfon kekasihku, dari pada menelfon calon kakak iparku yang sungguh sangat gila" ucap arya sembari mematikan panggilan videonya.


"dasar bocah gila" gumam al sembari tersenyum.


al kembali membuka laca yang tadi sempat ia buka. ia mengambil semua foto-foto wanita yang ia cintai, foto-foto itu terlihat sangat lengkap dari gadis itu masih kecil hingga ia sudah dewasa.


"kau dari dulu hingga sekarang masih sama. senyummu selalu saja membuat jantungku bergetar tidak karuan, aku hanya bisa berharap semoga kau juga mecintaiku. meskipun kamu tidak mencintaiku tapi aku berjanji, aku tidak akan pernah melepaskanmu apapun yang terjadi, aku sangat mencintaimu kelinci kecilku"