
"sayang kamu kenapa?" tanya al begitu memasuki ruang rawat inap starla dan tengah melihat putrinya itu tengah melamun.
"daddy kenapa mama nggak pernah kesini? apa mama belum sembuh, mama baik-baik aja kan dad?"
"mama laras baik-baik aja sayang"
"terus kenapa mama nggak temani star" ucap starla sembari mengerucutkan bibirnya.
"mama kan belum pulih, jadi biar mama istirahat dulu ya. nanti kalau kesehatan mama udah pulih, mama pasti akan temani starla main lagi" ucap al sembari mengelus surai hitam legam starla.
"ini gara-gara star, mama jadi ikut-ikutan sakit" ucap starla dengan wajah sedih.
"apa star ingin bertemu mama?"
"emang boleh dad?"
"boleh, daddy akan bawa star ke ruang rawat mama laras"
"asik daddy memang yang terbaik" ucap starla sembari memeluk sang ayah.
dengan segera al meletakkan starla di atas kursi roda, dan segera al mendorongnya menuju ruang rawat laras.
entah mengapa al merasa kalau gadis itu tidak baik-baik saja, bahkan sudah satu minggu akan tetapi kondisi laras justru semakin melemah.
"bang mau kemana?" tanya alexs yang baru saja datang bersama bella.
"star kangen laras. kalian tunggu aja di dalam, nggak akan lama kok"
"baiklah" ucap alexs sembari menghembuskan nafasnya kasar, sebenarnya alexs masih membenci gadis itu. akan tetapi karena gadis itu sudah rela mengorbankan nyawanya untuk keponakannya, maka ia akan mencoba menerima gadis itu berada didekat starla, hanya untuk dekat saja bukan untuk menjadi kakak iparnya.
****
"mama" panggil starla begitu mereka sampai di ruang rawat laras.
"heii anak mama, gimana keadaannya nak? udah baikan kan?"
"star baik-baik aja ma. mama kenapa pucat seperti itu?"
"mama gapapa sayang"
"tapi mama benar-benar pucat"
"mama kamu gapapa sayang" ucap mamanya laras sembari mengelus pipi starla, starla memang sudah beberapa kali melihat ibu dari laras, karena ia sering menjenguk starla di ruang rawatnya.
"nenek nggak bohong kan"
"mana mungkin nenek bohong sama cucu nenek yang cantik ini"
"star takut mama kenapa-kenapa, maafin star ya ma. gara-gara star mama jadi kayak gini" ucap star mulai terisak.
"hei anak mama ngomong apa sih nak, mama gapapa kok. jangan nangis ya, mama nggak suka lihat starla nangis"
"star sedih lihat mama kayak gini"
"mama jauh lebih sedih kalau lihat star sakit, jadi mending mama kayak gini. dari pada anak kesayangan mama harus merasakan sakit"
"mama harus cepat sembuh ya"
"iya sayang"
"mama janji" ucap starla sembari mengangkat jari kelingkingnya.
"mama janji" ucap laras sembari menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking starla.
*"maafin mama star, mama sendiri juga nggak tau sampai kapan mama bisa bertahan. tapi mama selalu minta sama Tuhan supaya Tuhan kasih mama waktu sedikit lebih lama buat bareng sama starla"* gumam laras dalam hati.
"star mama capek pengen tidur, apa star mau menemani mama tidur"
"star mau ma"
"sini bobok bareng mama" ucap laras sembari menepuk ruang kosong disebelahnya.
"daddy angkat aku" ucap starla sembari menoleh kepada sang ayah.
dengan segera al mengangkat tubuh starla dan membaringkannya di dekat laras.
setelah starla tidur disampingnya laras segera memeluk tubuh itu dengan erat, dan ia pun dengan segera memejamkan matanya.
"mama ngantuk banget ya?" tanya star sembari menatap langit-langit kamar rawat inap itu.
"mama kok nggak jawab star sih?"
"mamanya udah bobok sayang"
"star juga ikut bobok gih"
"iya nek" jawab star sembari mulai memejamkan matanya.
"buk apa saya boleh titip starla, saya ada urusan sebentar"
"tentu nak, star akan aman disini"
"kalau begitu saya permisi"
"iya. hati-hati nak" ucap ibunda laras, dan di jawab anggukan oleh al.
******
"lah star mana bang?" tanya alxes begitu melihat sang kakak yang baru saja datang namun tanpa keponakan kesayangannya.
"star tidur diruang rawat laras"
"yah padahal aku kangen sama tu bocah"
"kenapa kamu kemari?"
"aku kangen keponakanku"
"pulang sana, datang lagi nanti sore"
"abang ngusir aku?"
"nggak ngusir, cuma keponakanmu kan nggak ada. lebih baik kamu kembali bekerja, ini masih jam kantor ya''
"elah bang kerja terus capek"
"kalau kamu capek memangnya anak dan istrimu mau kamu kasih makan batu"
"iya" jawab alexs cuek
"enak aja kamu mau kasih makan aku batu" ucap bella sembari memukul alexs dengan tas jinjingnya.
"bercanda sayang" ucap alexs sembari nyengir.
******
"gara"
"kenapa kal?" tanya gara sembari mengangkat sebelah alisnya, ia begitu heran kenapa tumben sekali sekala mau dekat dengan dirinya bahkan kini anak itu duduk disebelahnya.
"kamu kenapa?"
"aku nggak kenapa-kenapa. kamu ngapain disini? jangan dekat-dekat aku, nanti papa sama mama marah"
"maaf gar"
"kenapa kamu minta maaf?"
"ini semua salahku, harusnya aku nggak nglimpahin kesalahanku sama kamu. maafin aku gar"
"percuma kal, maaf kamu nggak akan bisa buat mama sama papa sayang lagi sama aku kan!"
"maafin aku gar, aku belum bisa jadi kakak yang baik buat kamu"
"gapapa. semenjak kepergian kak sean aku memang udah nggak punya keluarga lagi kal, aku berasa sebatang kara. mama, papa, sama kamu seperti nggak menganggap keberadaanku"
"kamu tetap adikku gar. tapi maaf aku terlalu pengecut untuk mengakui kesalahanku"
"gapapa biar aku yang tanggung semuanya kal. pergi, nanti kalau papa dan mama lihat mereka bisa marah kalau kamu dekat-dekat aku"
"apa aku boleh peluk kamu, aku kangen kamu gar"
"aku bilang pergi kal, kalau kamu nggak mau pergi biar aku yang pergi" ucap gara sembari terus memandang kedepan, bahkan sedari tadi ia nggak mau menatap kakak kembarnya itu walau sedetik saja, bukan tanpa alasan gara melakukan itu. ia hanya takut menangis, takut jika sisi lemahnya di lihat oleh sekala.
sebenarnya sagara pun juga ingin memeluk sekala, tidak bisa di pungkiri kalau sagara juga sangat merindukan kakak kembarnya itu. ia juga sangat ingin memeluk sekala, tapi ia tidak mau kalau sekala dekat-dekat dengan dirinya mama dan papanya akan memarahi sekala, atau lebih parahnya lagi ia akan disiksa lagi oleh sang papa.
"maafin aku gar"
"aku udah maafin kamu kok kal, sekarang kamu pergi ya. apa kamu mau aku dipukuli papa lagi, karena kamu dekat-dekat aku. pergi kal, aku nggak mau di pukul lagi. aku juga nggak mau kamu dimarahi sama mereka"
"baiklah, aku masuk dulu" ucap sekala sembari menatap sagara, sedangkan sagara tetap tidak mau menatap dirinya barang sedetik saja.
setelah kepergian sekala dengan perlahan air mata sagara jatuh, rasanya sudah lama ia tidak berbincang-bincang dengan sekala, sudah lama pula ia tidak bisa sedekat itu dengan sekala. sagara ingin membenci kakak kembarnya itu, karena dia sagara kehilangan kasih sayang dari mama dan papa, tapi entahlah sagara selalu gagal untuk membenci sekala, karena pada kenyataannya rasa sayang sagara lebih besar dibandingkan rasa bencinya.