My Introvert Husband

My Introvert Husband
melepas rindu



Al baru saja bangun dari tidurnya, rasanya Al baru saja bangun dari tidur yang sangat panjang hingga membuat seluruh tubuhnya terasa sakit.


"aku ada dimana" ucap Al sembari melihat ke sekelilingnya, semuanya nampak asing bagi al.


sekarang al berada disebuah ladang bunga yang begitu luas, disana terdapat berbagai macam bunga yang nampak begitu indah.


"starla, dimana putriku" ucap al sembari mulai bangkit dan berusaha mencari putri kesayangannya.


"star,,,, star kamu dimana sayang" ucap al sembari pandangannya mengawasi kesekitar.


"kakak Al"


suara ini, suara yang sangat familiar untuk al, suara yang selama ini begitu ia rindukan. ya ini suara istrinya.


dengan segera al berbalik badan, dan benar didepannya sekarang ada gisa yang tengah tersenyum manis kepadanya.


"gisa sayang" ucap al sembari berlari dan langsung membawa tubuh gisa kedalam dekapannya.


"aku sangat merindukanmu sayang" ucap al sedikit bergetar, sekuat tenaga ia menahan tangisnya.


akhirnya setelah sekian lama ia dapat kembali memeluk istrinya, wanita yang selama ini sangat ia rindukan, wanita yang sangat ia cintai.


"aku juga sangat merindukanmu sayang" ucap gisa sembari mengusap punggung al.


"ehemmmt"


"billa, laras" beo al sembari melepas pelukannya bersama gisa.


"tolong hentikan keuwuan ini bapak Al yang terhormat. mohon hormati kami yang tidak memiliki pasangan ini" sindir billa.


"sini peluk, abang sangat merindukanmu" ucap al sembari merentangkan kedua tangannya.


"aku juga kangen kakak al" ucap billa sembari menghambur kedalam pelukan al.


"adik manja kakak, adik polos kakak. kakak sangat merindukanmu" ucap al sembari mencium puncak kepala billa.


"kakak aku yang paling dingin kayak kutub utara, yang paling nyebelin" ucap billa sembari tersenyum.


"laras kamu nggak kangen sama mas?" tanya al sembari menatap laras.


"tentu aku merindukan mas"


"sini" ucap al sembari merentangkan sebelah tangannya.


dan dengan segera laras masuk kedalam pelukan al.


"adik mas yang paling baik. terimakasih untuk kebaikan kamu selama ini, terimakasih untuk segala pengorbanan kamu. maaf karena kamu menolong starla, kamu jadi harus mengorbankan nyawa kamu"


"mas al jangan pernah merasa bersalah ya, itu murni kemauanku. yang aku inginkan mas al sama starla hidup bahagia. aku sekarang juga juga sudah bahagia kok mas, disini ada mbak gisa, ada mbak billa juga"


"laras udah yuk, kita pergi. biarkan kakak al bersama gisa" ucap billa sembari mengurai peluknya.


"iya mbak" jawab laras ikut mengurai peluknya.


"kakak al kita pergi dulu ya"


"kamu mau kemana billa?"


"aku tau kakak kangen sama gisa, makanya aku pengen kakak habisin waktu berdua" ucap billa sembari mengerling genit, dan dengan segera billa menarik tangan laras agar segera menjauh dari keduanya.


"kangen banget ya sama billa?"


"iya bocah polos itu masih saja menyebalkan" ucap al sembari menatap punggung billa dan laras yang mulai menjauh dan mengecil dari pandangannya, dan tak lama sebuah cahaya terang muncul billa dan laras pun masuk kedalamnya namun sebelum itu keduanya menyempatkan melambaikan tangannya kepada gisa dan juga al.


"sayang, itu kenapa billa dan laras masuk kedalam cahaya itu mereka mau kemana?"


"mereka mau kembali ketempat dimana kami harusnya berada" ucap gisa sembari mengelus dada bidang suaminya.


"kamu nggak akan pergi ninggalin aku lagikan?" tanya al sembari merengkuh pinggang gisa.


"ayo kita jalan-jalan, sudah lama kita nggak jalan-jalan berdua"


bukannya menjawab pertanyaan al gisa justu menarik tangan al untuk mengelilingi taman bunga yang indah itu.


kini keduanya tengah duduk disebuah ayunan, di tepi kolam susu yang begitu indah, sembari melepas rindu.


"sayang lihat lah langitnya begitu indah" ucap gisa sembari menunjuk langit yang kini berwarna jingga.


"kamu masih saja suka langit sore" ucap al sembari menyingkirkan beberapa sulur rambut gisa kebelakang telinga.


"cantik" beo al sembari terus menatap gisa dari samping.


"apanya yang cantik?" tanya gisa sembari menoleh kearah al.


"kamu"


"sudah punya anak masih aja suka gombal" ucap gisa sembari terkekeh.


"tapi kamu memang cantik sayang"


"itu karena aku memang seorang wanita"


"dan karena kamu istri Alfian Akbar Efendi makannya kamu cantik"


"jadi kalau bukan istri kamu nggak cantik?" tanya gisa sembari menaikkan sebelah alisnya.


"tentu saja tidak" ucap al sembari memajukan kepalanya menepis jarak diantara keduanya, dengan perlahan al mengecup mesra bibir ranum gisa.


"i love you Gisa Anastasia Aroran"


"i love you too Alfian Akbar Efendi suamiku yang paling dingin" balas gisa sembari tersenyum manis.


senyum yang selama ini selalu berhasil memikat hati al, senyum yang selalu berhasil membuat al jatuh cinta berulang-ulang kali.


"makasih ya sayang" ucap gisa sembari menatap jauh kedepan sana.


"makasih untuk apa sayang?"


"makasih karena kamu masih bertahan sejauh ini, makasih karena kamu sudah menjadi seorang ayah yang hebat untuk putri kita"


"itu sudah tugasku sayang"


"jaga putri kita baik-baik ya sayang" ucap gisa sembari menggenggam tangan al.


"aku pasti akan selalu menjaganya sayang"


"kalau kamu mau menikah lagi, menikahlah sayang"


"tidak gisa, sampai kapanpun kamu akan menjadi satu-satunya istriku. tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi kamu"


"aku sangat senang mendengarnya. tapi hidup akan terus berlanjut sayang, kamu butuh pendamping untuk menemanimu merawat putri kita"


"aku tida butuh pendamping sayang, aku bisa merawat putri kita sendiri. jika saja kamu bertanya apa mauku? maka akan aku jawab kamu"


"tapi itu tidak akan pernah bisa sayang, kita sudah berbeda"


"aku tau itu"


tak lama sebuah cahaya terang muncul kembali, cahaya yang sama dengan cahaya yang membawa billa dan laras pergi.


"sayang aku pamit" ucap gisa sebari memeluk al.


tanpa terasa air mata al jatuh begitu saja, Tuhan rasanya al ingin sekali menghentikan waktu. al tidak ingin kembali terpisah dengan istrinya.


"sayang tidakkah bisa kamu tinggal lebih lama lagi bersamaku?" ucap al sembari memeluk erat gisa.


"aku ingin. aku sangat ingin bersama kamu lebih lama lagi, tapi aku tidak bisa sayang. tolong jaga putri kita, bilang sama dia kalau aku sangat menyayanginya" ucap gisa sembari mengurai peluknya.


perlahan gisa berjalan menghampiri cahaya itu sedangkan al hanya mampu terisak ditempatnya. sebelum masuk kedalam cahaya itu gisa menyempatkan diri untuk melambaikan tangannya kepada sang suami, air matanya pun masih menetes tetapi senyum manisnya tak pernah luntur dari bibirnya.


"GISA" teriak al begitu tubuh gisa masuk kedalam cahaya itu.


"gisa.... gisa... gisa jangan tinggalin aku sayang, aku mohon jangan tinggalin aku" racau al dengan keringat yang bercucuran.


"kak kakak kenapa kak? kakak bangun kak" ucap gisel sembari mengguncang tubuh al, disampingnya pun sudah ada starla, nana, nono, gara, oma syifa, oma dahlia, dan juga mami melati.


"GISA" teriak Al sembari membuka kedua matanya.


"al sayang kamu kenapa nak?" tanya mami sembari mengelus pundak al.


"iya dad. daddy kenapa? kenapa daddy manggil-manggil nama mommy"


"daddy tadi mimpiin mommy sayang" ucap al sembari membawa starla kedalam dekapannya.


"mungkin karena kakak terlalu kangen sama kak gisa kak"


"mungkin iya"


al merasa mimpi tadi terasa begitu nyata, pelukan gisa tadi terasa begitu nyata.


"kamu udah baikan al?" tanya oma syifa.


"oma. al baik-baik aja kok oma" ucap al sembari mencium tangan oma syifa dan juga oma dahlia secara bergantian. "oma kapan pulang?"


"oma baru saja sampai pagi tadi. ehh tapi begitu sampai rumah malah dengar kabar kalau kamu sakit dan masuk rumah sakit" jawab oma syifa.


"tapi kamu bener-bener nggak kenapa-kenapa sayang?" tanya oma dahlia.


"al baik-baik aja oma. oma jangan khawatir"


*******


"al mamen gimana keadaan loe" ucap galih yang baru saja datang dan langsung memeluk tubuh al.


"lepasin nggak?"


"gue khawatir sama loe bego" ucap galih ngegas.


"mulut loe bisa dikondisikan nggak, disini ada anak kecil anjir" ujar al tak kalah ngegas.


"woi kalian berdua sama aja tolol" timpal arya tak kalah ngegasnya.


"astagfirullah, kalian bertiga sama aja" ucap riko sembari mengelus dadanya. setidaknya dia masih sedikit waras dibandingkan al, arya, maupun galih.


"heyy sudah-sudah jangan berteman" ucap aleta berusaha menengahi suami dan juga kedua sahabatnya.


"bertengkar ta bukan berteman" ucap alice sembari memutar bola matanya malas dengan tingkah aleta yang sebelas dua belas sama suaminya.


"hehehe iya maksud gue juga itu mbak" ucap aleta cengengesan.


"kalian ini kalau bertemu selalu heboh" ucap ardian yang kebetulan juga berada disitu.


"ardian mamen, gue udah lama banget nggak ketemu sama loe" ucap galih mendaramatisir.


"nggak usah drama, jijik gue"


"alfin ayah kamu itu wajib banget sisambit ya"


"om galih mau sambit papanya alfin?"


"iya, bolehkan"


"lawan dulu alfin sama kak adrian" ucap alfin sembari berkacak pinggang.


"mampus hadapi dulu dua jagoan gue, baru loe lawan gue" ucap ardian sembari terkekeh.


"assalamualaikum" ucap andre yang baru saja datang bersama dewi, sekala, dan juga sagara.


"walaikumsalam" jawab mereka semua secara bersamaan.


"pak al gimana keadaannya?" tanya andre.


"saya baik-baik saja" jawab al sembari tersenyum.


"om al sakit apa? om al jangan sakit lagi ya, nanti starnya sedih kalau om sakit" ucap gara sembari menggenggam tangan al.


"iya sayang. kalau gara sedih nggak?"


"gara sedih om"


"oke kalau gitu om janji sama gara kalau om nggak akan sakit lagi" ucap al sembari mencium pipi gembul sagara.


"janji ya om" ucap gara sembari mengulurkan jari kelingkingnya, dan dengan segera al menautkan jari kelingkingnya pada jari mungil sagara.


"janji sayang" ucap al sembari tersenyum.


andre dan dewi yang sedari tadi melihat interaksi putranya dengan al hanya bisa menatap heran, sebenarnya sedekat apa mereka.


******


pagi ini al sudah diperbolehkan pulang, karena kondisinya sudah membaik.


"kakak udah siap?" tanya gisel sembari mengemasi barang-barang al.


"iya dek"


"yaudah yuk kita pulang"


pagi ini memang gisel yang menjemput al. karena yang lainnya ada pekerjaan yang mendesak jadi tidak bisa ikut menjemput al, sedangkan alice memilih mengantar anak-anak pergi ke sekolah.


"hati-hati kak" ucap gisel.


"kakak baik-baik aja" ucap al sembari mengacak puncak kepala gisel.


"kakak kan jadi berantakan rambut aku" ucap gisel sembari mengerucutkan bibirnya.


"tante gisel lucu banget sih kalau lagi cemberut gini" ucap starla sembari terkekeh.


"tante kamu ini emang sama lucunya sama mommy kamu sayang"


"emang iya dad?"


"iya"


"udah-udah ayo pulang"


*******


"gisel"


"iya kak kenapa? kakak lagi pengen sesuatu?" tanya gisel sembari menoleh kepada al yang kini duduk disebelahnya.


"mampir ke makam kakak kamu ya"


"boleh" jawan gisel sembari tersenyum.


tak lama mereka pun telah sampai di area pemakaman. ketiganya langsung turun dan segera menuju ke makam gisa, namun sebelum itu ketiganya menyempatkan diri untuk membeli bunga krisan putih.


"apa kabar sayang?" ucap al sembari berjongkok. "kemarin kita bertemu ya, rasanya pelukmu begitu nyata sayang"


"mommy, apa mommy tau daddy kangen banget sama mommy. masa kemarin daddy tidur sambil manggil-manggil nama mommy sih" ucap starla sembari mengelus makam sang mommy.


"lihatlah sayang putrimu tukang ngadu ya" ucap al sembari terkekeh.


"star nggak ngadu dad. star cuma ngomong sesuai yang star lihat kok"


"iya deh iya tuan putri"


"sayang makasih ya karena kamu udah kasih aku seorang peri kecil yang sangat cantik. makasih juga karena kamu sudah mau menjadi istriku" ucap al sembari mengecup batu nisan sang istri.


"daddy jangan nangis ya, nanti kalau mommy lihat mommy bisa sedih" ucap starla sembari memeluk sang daddy.


"iya sayang"


"udah pulang yuk kak, jangan terlalu lama berdiri dibawah sinar matahari. kakak baru aja pulih"


"iya, bawel banget sih adek ipar aku ini" ucap al sembari kembali mengacak rambut gisel, hingga sang empunya memberengut kesal.


dengan terpaksa al mengikuti gisel dan juga starla yang telah lebih dulu berjalan meninggalkannya.


"aku pulang dulu cantik" ucap al sembari tersenyum.


"hidup bahagia terus ganteng" ucap seorang wanita cantik yang sedari tadi berdiri didekat al.


yah wanita itu adalah gisa. dan dengan segera billa dan laras memeluk gisa. ketiganya tersenyum bahagia sambil memandang al, dan starla.


END.....