
pagi itu jam menunjukkan pukul 06.00 silau sinar matahari yang masuk dari sela-sela gorden begitu menyilaukan mata al dan membuatnya terbangun.
"astaga dia belum bangun. dia ini wanita sungguhan atau bukan" gumam al sembari menatap gisa yang masih tertidur pulas.
al pun segera beranjak dari ranjang dan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya setelah hampir 15 menit ia pun keluar.
"astaga dia juga masih belum bangun, gisa-gisa kau ini sudah seperti kerbau saja, susah bangunnya" ucap al sembari membuka almari pakaian dan mengambil baju gantinya.
"hey gisa bangunlah" ucap al sembari menepuk lengan gisa.
"emmt papa ini masih pagi, kenapa papa membangunkan gisa" ucap gisa sembari masih menutup matanya.
"astaga, dia memanggilku papa, dia fikir aku ini papa gio. menyebalkan sekali anak ini"
"gisa bangun, atau kalau tidak akan ku guyur air dirimu" teriak al dengan suara yang lantang.
"astagfirullah" ucap gisa sembari terbangun dari tidurnya.
"kenapa kau malah beristifar?"
"kakak al kenapa berada di dalam kamarku?"
"kau ini gila ya, aku ini memang suamimu gisa. jelas saja aku berada di kamar yang sama denganmu"
"astaga aku lupa kakak al, maaf"
"cepat bangun dan mandilah, nanti aku akan suruh pelayan mengantarkan makanan kemari"
"tapi aku ingin ikut sarapan di bawah kak"
"apa kau mau sarapan di bawah dengan pakaian seperti ini?"
"astaga iya aku lupa. ini semua pasti kerjaan kak alice" ucap gisa sembari mencebikkan bibirnya.
"sudah mandilah, aku mau kebawah dulu" ucap al sembari berlalu pergi.
"astaga aku benar-benar masih tidak menyangka kalau aku akan dapat melihat wajah tampan kakak al setiap hari" gumam gisa sembari tersenyum.
********
"pagi semuanya" sapa al yang baru saja datang dan bergabung bersama keluarga besarnya.
"pagi"
"istrimu mana nak?"
"gisa di kamar mi, dia tidak bisa keluar kamar karna baju-bajunya di curi oleh rubah nakal" sarkas al
"enak saja abang mengataiku rubah" ucap alice dengan memberengut.
"aku tidak mengataimu rubah tapi jika kau mengakuinya ya alhamdulilah" ucap al sembari tersenyum licik, sedangkan alice segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"kakak apa yang kamu lakukan?" tanya papi varo sembari menatap tajam alice
"maaf pi"
"alice mengambil semua baju-baju gisa dan menggantinya dengan lingerie"
"kakak kenapa kamu bersikap lancang dan tidak sopan sepertib itu?"
"maaf mi, alice hanya ingin cepat-cepat punya keponakan yang lucu"
"tapi caramu salah kak, untuk urusan momongan itu terserah abang dan juga gisa. mereka mau langsung proses atau menunda dulu, lain kali jangan lancang seperti itu, itu sungguh tidak sopan kak"
"maaf mi"
"sekarang kau kembalikan baju gisa, atau kau mau melihat sahabatmu itu seharian didalam kamar. karna aku tidak mau membawanya pulang jika pakaian yang ia kenakan masih seperti itu"
"iya, abang crewet sekali"
"kau ini sudah salah, tapi bisa mengataiku crewet" ucap al sembari memberikan tatapan tajam kepada alice.
"maaf abang"
setelah selesai sarapan alice segera menuju kamar gisa dan mengembalikan baju gisa.
"kak alice ini jail sekali, aku sangat malu kepada kakak al karna menggunakan pakaian seperti kemarin kak"
"kau ini kenapa harus malu sama abang, dia itu suamimu gisa. apa kalian tadi malam sudah melakukannya?" tanya alice dengan penuh semangat.
"melakukan apa kak?"
"astaga kau ini bodoh sekali gisa. kalian itukan pengantin baru, jelas saja melakukan hubungan suami istri"
"kak alice ini ngomong apa, kakak al saja tidak mencintai diriku. mana mungkin dia mau menyentuhku"
"astaga jadi kalian belum melakukannya?" tanga alice, dan dijawab gelengan kepala oleh gisa.
"astaga kenapa abang bisa menahannya, padahal kau sudah menggunakan pakaian yang super seksi"
"kak alice jangan seperti itu lagi, aku sungguh malu"
"dia itu suamimu gisa. suatu saat dia akan tau setiap inci tubuhmu, jadi tidak perlu malu. dan satu lagi, kau jangan biarkan aleta dekat-dekat dengan abang"
"memangnya kenapa kak?"
"banyak tanya kau ini. pokoknya turuti saja apa yang aku bilang"
"mana bisa kak. aleta kan sekertaris kakak al, selain itu bukannya aleta temannya kakak al, sama seperti arya dan galih"
"iya memang, tapi aku tidak suka dia dekat-dekat dengan abang. dan sekarang tugasmu lindungi suamimu dari aleta"
"kenapa harus aku, kakak al sudah besar dia bisa menjaga dirinya sendiri"
"jangan banyak membantah, lakukan saja apa yang barusan aku katan. apa kau mengerti?"
"iya kak aku mengerti" jawab gisa penuh dengan keterpaksaan.
"bagus"