
"sudah selesai?" tanya al ketika baru saja melihat sang istri dari ruang ganti.
"sudah sayang" jawab gisa sembari tersenyum.
"yasudah ayo pulang" ucap al sembari menarik tangan gisa tanpa memperdulikan kalau di situ ada gisel adik iparnya.
"heyy kenapa meninggalkanku. menyebalkan sekali" ucap gisel sembari membuang nafas kasar.
"kau pulang dengan alexs" ucap al sembari terus berjalan menarik istrinya
"alexs" gumam gisel pelan.
"tapi alexs masih di rumah sakit menemani kakak alice kak"
"aku sudah menghubunginya untuk menjemputmu, jadi tunggulah. jangan ikut denganku, telingaku sungguh panaa mendengar ocehanmu" jawab al tanpa menghentikan langkahnya, dan tanpa memperhatikan gisel yang mulai kesal, bahkan gadis itu sudah mengutuknya ratusan kali
"dasar kakak ipar menyebalkan"
"apa kau bilang?" tanya al sembari menatap tajam gisel, hingga membuat gisel merinding ketakutan.
"tidak. aku tidak bilang apa-apa"
"kau fikir aku tuli"
"sayang sudah ayo kita segera pulang, jangan meladini gisel yang ada kamu akan terbawa emosi" ucap gisa sembari menarik tangan al.
"adikmu itu benar-benar sangat menyebalkan"
"iya aku tau, sudah jangan memperdulikannya. ayo kita pulang sekarang" ucap gisa sembari menyentuh dada al.
"iya, ayo masuk mobil"
"gisel kamu hati-hati ya. tunggu alexs jemput jangan pulang sendirian" ucap gisa kepada sang adik yang masih saja ngedumel, dan entah dia omong apa. tapi yang pasti gisa yakin saat ini adik kesayangannya itu tengah mengutuk suaminya.
"iya kak" teriak gisel
"kakak pergi dulu"
gisel hanya mengangkat kedua jempolnya sebagai tanda mengiyakan kakaknya.
"hah kakak al menyebalkan sekali, untung dia suaminya kakakku kalau tidak a..."
"kalau tidak apa?" tanya alexs tiba-tiba dan memutus perkataan gisel.
"kau ini mengagetkan sekali" ucap gisel dengan nada tinggi sembari memegangi dadanya.
"wehh kok ngegas"
"abisnya loe ngagetin"
"ya sorry habisnya loe ngomong-ngomong sendiri udah kayak orang gila aja"
"sialan ya loe"
"loe belum jawab pertanyaan gue sel"
"pertanyaan yang mana?"
"loe mau apain abang gue"
"gue mau tampol tuh si kak al"
"memangnya berani?"
"mmhh nggak" jawab gisel sembari tersenyum.
"huuu sok-sokan banget loe. udah ayo pulang"
"iya"
gisel segera mengikuti alexs ketempat dimana sahabatnya itu memarkir mobil. namun sesampainya disana gisel tak langsung masuk hingga membuat alexs yang sudah berada di dalam mobil melongokkan kepalanya.
"jadi pulang nggak sih?"
"alexs aku masih belum mau pulang"
"trus mau kemana?"
"kita ketempat biasa yuk"
alexs hanya bisa menghembuskan nafas pasrah, dia paham betul bagaimana sahabatnya itu. dia selalu saja bersifat kekanakan, sangat berbeda sekali dengan bella yang lebih anggun dan lebih dewasa.
"yeyy alexs baik deh" ucap gisel dengan girangnya dan dengan segera ia masuk kedalam mobil.
alexs segera melajukan mobilnya ketempat favorit mereka, tempat dimana mereka suka menenangkan fikiran kalau ada masalah. hampir 20 menit mereka menempuh perjalanan akhirnya mereka pun sampai disebuah taman yang ada danau kecil.
gisel segera turun dari dalam mobil dan berjalan menuju taman, hingga pada akhirnya ia duduk dibangku taman itu sembari menengadahkan wajahnya.
"loe lagi ada masalah?" tanya alexs yang baru saja duduk di samping gisel.
"tidak lexs"
"trus kenapa?"
"loe tau kan seberapa galaknya kak al"
"abang gue nggak galak sel, dia hanya tegas"
"sama saja"
"trus kenapa?"
"gue takut kak al nyakitin kakak gue lagi" jawab gisel sembari menatap alexs.
"maksud loe"
"kakak gue mencintai kak al sudah sedari dulu lexs, tapi kakak al cuek-cuek aja sama kakak gue. bahkan setelah menikah pun dia masih bersikap dingin sama kakak gue"
"tapi sekarang kan sudah nggak sel"
"gue takut kalau itu cuma akal-akalan mereka biar kita semua tidak mengkhawatirkan rumah tangga mereka lexs"
"itu tidak mungkin sel, aku tau betul bagaimana abangku"
"aku sangat menyayangi kakakku lexs, aku tidak mau kalau kakakku kenapa-kenapa. aku tidak mau kalau kakakku bersedih" ucap gisel, bahkan air matanya pun mulai menetes.
"heyy jangan menangis kau jadi tambah jelek jika menangis" ucap alexs sembari menghapus air mata gisel.
"alexs kau ini sialan sekali" ucap gisel sembari memukul lengan alexs.
"auu sakit sel. aku tau kamu sangat menyayangi kak gisa, aku pun sama. kau jangan khawatir, aku akan menjadi orang pertama yang akan menghajar kak al jika dia berani menyakiti kakak cantik kita" ucap alexs sembari membawa gisel kedalam pelukannya, mencoba memberi kehangatan kepada gadis itu, agar dia merasa sedikit tenang.
"janji ya" ucap gisel sembari mengulurkan jari kelingkingnya. sedangkan alexs hanya tertawa sembari menautkan jarinya kejari mungil gisel.
"iya aku janji, sudah jangan bersedih lagi. nanti kamu nggak cantik lagi"
"iya" jawab gisel sembari menenggelamkan wajahnya pada dada bidang alexs.
"sudah manja-manjanya kalau pacar gue tau cowoknya di peluk-peluk cewek lain bisa marah dia"
"huu dasar buaya buntung" ucap gisel sembari terkekeh.
"sialan" alexs pun ikut tertawa dan mengusap pelan pucuk kepala gisel.
"alexs ambilkan fotoku"
"kau ini masih saja narsis, padahal make up mu sudah luntur"
"walaupun make up ku sudah luntur tapi aku tetap saja masih cantik. cepat ambilkan fotoku"
"iya-iya"
"yang bagus"
"iya-iya crewet sekali kau ini"
gisel hanya tersenyum melihat sahabatnya itu mulai kesal. sedangkan alexs pun ikut tersenyum ketika melihat senyum manis gisel, karna tidak dapat alexs pungkiri gisel adalah wanita yang memiliki senyum termanis.
"sudah belum"
"sudah, akan aku kirim kepadamu"
"awas saja kalau sampai jelek"
"sudah tuh, lihat sendiri"
"waw kau memang sangat bisa di andalkan dalam hal ini lexs. aku akan mengunggahnya kesosial media"
"tentu saja alexsander putra efendi gitu loh" ucap alexs dengan bangganya sembari mengusap surai legam miliknya.
"dasar narsis" ucap gisel gemas sembari mencubit kedua pipi alexs.