My Introvert Husband

My Introvert Husband
bodoh urusan cinta



setelah mengantar alice dan gisa pulang, albpun kembali lagi kekantor.


"woi sob dari mana aja loe?" tanya galih yang ternyata telah menunggu al diruang kerjannya.


"sejak kapan kalian berdua disini?"


"sudah dari tadi, loe dari mana saja? gue telfon juga nggak loe angkat"


"sorry ponsel gue ketinggalan di mobil, tadi gue habis fitting baju sama gisa"


"what? loe fitting baju"


"iya. biasa aja muka loe, nggak usah melotot kayak gitu juga. tuh mata lepas baru tau rasa"


"memangnya loe dan gisa kapan menikah?"


"iya al, loe dan gisa kapan menikahnya?"


"minggu depan"


"apa, minggu depan?" ucap galih dan arya bersamaan.


"iya"


"kenapa cepat sekali"


"mana gue tau. oma yang mengatur semuanya, mau tidak mau papi dan mami hanya bisa pasrah menuruti keinginan oma"


"aduhh dadaku sakit sekali" ucap galih sembari memegangi dadanya.


"hey lih, loe kenapa?" tanya arya dengan panik.


"dada gue sakit banget ar. sesek banget denger bidadari gue mau menikah dengan gunung es itu"


"ahhh sialan loe, gue fikir loe sakit beneran" ucap arya sembari memukul lengan galih.


"loe fikir gue mau menikah dengan bidadari loe itu"


"nyatanya loe mau"


"gue terpaksa menikah dengannya hanya karna orang tua gue, nggak lebih dari itu"


"tapi loe tetep aja beruntung bisa menikahinya"


"siapa yang mau menikah?" tanya aleta yang tiba-tiba saja masuk kedalam ruang kerja al.


"teman kita si gunung es" jawab galih cuek.


"maksud loe lih?"


"siapa lagi kalau bukan al"


"ti tidak, tidak mungkin. kau pasti bercanda kan?"


"untuk apa aku bercanda, kurang kerjaan sekali"


"ar galih sedang bercandakan?" tanya aleta kepada arya.


"tidak ta, yang di bilang galih memang benar. al memang mau menikah"


"dengan siapa?"


"nanti kau juga tau, sekarang kembalilah bekerja. aku masih ada hal penting yang ingin kubicarakan dengan al dan galih"


"kenapa aku tidak boleh disini ar?"


"ini jam kerja, dan lebih baik kau kembali bekerja. ini urusan kami para pria" ucap arya sembari menatap tajam aleta.


"baiklah, aku permisi dulu" ucap aleta sembari keluar dari dalam ruangan al.


"kau mau membicarakan apa kepadaku dan al, sampai-sampai kau mengusir aleta. dari dulu kita kemana-mana selalu berempat ar"


"kau ***** atau bagaimana sih"


"karna kau dan al dari dulu memang bodoh untuk urusan wanita, dan cinta"


"maksudmu?"


"kau masih bertanya maksudku. astaga aku yakin kalian berdua tidak paham kalau aleta mempunyai perasaan lebih kepada al"


"apa?" ucap al dan galih bersamaan sembari menatap kearah arya.


"biasa aja kalik, nggak usah kompakan gitu. makanya jadi pria itu yang peka"


"kau tidak sedang bercanda kan ar?" tanya galih memastikan"


"tidak, untuk apa aku bercanda. sejak kuliah dulu aku diam-diam selalu memperhatikan aleta ketika dia menatap al, tatapan yang dia berikan kepada al selalu berbeda dengan tatapan yang dia berikan kepadaku dan juga kepada galih"


"aku sungguh tidak percaya itu ar. lalu kalau itu benar, kenapa aleta bisa memendamnya seorang diri"


"karna dia takut kepada alice"


"maksudmu? kenapa juga aleta harus takut kepada adikku"


"karna alice juga tau kalau aleta menyukaimu al, itu sebabnya dia selalu bersikap dingin kepada aleta"


"kenapa aku sama sekali tidak tau hal itu" gumam galih.


"karna kau dan al sama saja, kalian itu sekumpulan pria tidak peka. sebenarnya dulu waktu kuliah alice menyukaimu lih, tapi kau selalu bersikap dingin kepadanya. hingga pada akhirnya karna aku yang sangat mencintainya ini selalu berusaha menghiburnya, hingga akhirnya dia berpindah hati kepadaku"


"wah kau menikungku" ucap galih sembari menunjuk arya.


"mana ada. kau sama sekali tidak menyukai alice bodoh, jadi dari mananya aku menikungmu. dari dulu kau selalu saja melihat kepada gisa"


"berarti sekarang al yang menikungku, kalian berdua ini teman tukang tikung" ucap galih sembari menopang dagunya dengan kedua tangan"


"sekarang rasakan, kau masih menjomblo sampai sekarang karna kau terlalu dingin kepada setiap wanita yang menyukaimu"


"itu kulakukan karna gisa ar"


"nah itu bodohnya dirimu, sudah tau gisa tidak menyukaimu tapi kamu masih saja mengharapkannya"


"habisnya sia cantik sih"


"sekarang makanlah cantik. kau mendapatkannya saja tidak, ngejomblo sampai sekarang iya"


"al apa kau tidak bisa membatalkan perjodohan itu, dan biarkan aku yang menikahi gisa"


"kalaupun bisa gisa juga tidak akan mau menikah denganmu bodoh"


sedangkan disisi lain aleta tak henti-hentinya menangis, ia tidak pernah menyangka kalau pria yang selama ini ia cintai akan menikah dengan wanita lain, bahkan selama ini aleta tau betul kalau al tidak pernah dekat dengan wanita mana pun kecuali dengan dirinya dan alice saudari kembarnya.


"atau jangan-jangan al akan menikah dengan nona gisa, atau nona billa. karna selama ini dua orang itu yang dekat dengan nona alice" gumam aleta.


"yatuhan kenapa sesakit ini mencintai pria yang sama sekali tidak mencintai kita balik. kenapa selama ini al tidak bisa merubah perasaannya kepada diriku, kenapa dia selalu menganggap diriku hanya seorang teman" ucap aleta sembari berderaian air mata.


******


"gisa sayang, bagaimana apa kau dan al sudah fitting baju untuk pernikahan kalian?"


"sudah mama, tadi sama tante elly. karna mama, mami melati, dan mama liyla tidak ada di butik"


"iya sayang, kami tadi sedang mengecek hotel punya mami mel, yang akan dipakai untuk acara pernikahanmu"


"oh seperti itu"


"hey calon pengantin harus banyakin senyum ya sayang"


"mama apaan sih. gisa kekamar dulu ya ma"


"iya sayang"


dengan segera gisa naik kelantai atas dan menuju kamarnya.


"aku benar-benar tidak menyangka kalau aku akan menikah dengan kakak al. rasanya aku sangat bahagia sekali karna bisa menikah dengan pria yang selama ini aku cintai, tetapi aku juga sedih karna selama ini kakak al tidak pernah mencintai diriku" gumam gisa sembari meneteskan air mata.