My Introvert Husband

My Introvert Husband
cuci darah



"daddy" panggil starla sembari berlari dan menghambur dalam pelukan al.


"gimana sekolahnya hari ini sayang?" tanya al sembari mengangkat starla dalam gendongannya.


"menyenangkan. tumben daddy yang jemput, biasanya tante alice, atau tante gisel"


"hari ini kan jadwal star cuci darah nak"


"ah iya star lupa, tapi star takut dad"


"kan ada daddy sayang. daddy akan terus di samping star"


"kita juga bakal ikut star" ucap nana sembari tersenyum.


"nana dan nono ikut?"


"ehemmt" jawab nana dan nono sembari menganggukkan kepalanya.


"gara juga ikut temani star?"


"tentu saja" jawab gara sembari tersenyum.


"nana, nono, gara"


"cepet banget datangnya?"


"iya dong rossi gitu" jawab biru.


"alfin sama biru ikut juga?" tanya star dengan mata berbinar.


"iya dong, masak tuan putri kita mau cuci darah nggak kita temenin"


"gimana apa anak daddy masih takut?"


"nggak dad. kan ada daddy dan teman-teman"


"yaudah ayo berangkat anak-anak"


*****


"star mana al?"


"di dalam sama anak-anak"


"gue masuk dulu" pamit aleta, dan di angguki oleh al.


"semua lancar"


"terus kenapa loe masih kelihatan tegang gitu?" tanya galih.


"gue nggak tega lihat star kayak tadi gal"


"apa nggak lebih baik kita pertimbangkan pendonor yang di bilang riko kemarin al?"


"tapi kita juga nggak bisa ngorbanin nyawa seseorang kan gal"


"sekali ini aja al kita egois. dan lagi tanpa persetujuan loe, riko bakal tetap lakuin operasi itu"


"memangnya dia siapa, berani banget ambil keputusan tanpa persetujuan dari gue"


"dia om nya starla kalau loe lupa. dan gue bakal di pihak riko, dan gue rasa om varo juga bakal mihak riko"


"kenapa kalian nggak ada yang bisa ngertiin gue. loe nggak tau gimana rasanya kehilangan gal, gue yang rasain gimana sakitnya saat gue kehilangan gisa. sakit gal, bahkan sakitnya sampai sekarang. gue nggak mau keluarga ataupun pasangan si pendonor merasakan sakit yang gue rasain"


*"loe salah al. saat loe kehilangan gisa, gue pun juga merasakan sakit yang sama"* gumam galih dalam hati.


"loe nggak mau keluarga si pendonor kehilangan anaknya, tapi apa loe mau kehilangan star" ucap galih sembari menatap jauh kedepan.


sedangkan al yang mendengarkan omongan galih langsung mengepalkan kedua tangannya, urat-urat di lehernya terlihat menonjol menandakan bahwa sang empunya sedang menahan emosi.


"tolong fikirkan baik-baik" ucap galih sembari menepuk pundak al sebanyak dua kali sebelum akhirnya menyusul aleta masuk kedalam ruang rawat starla.


"sayang kenapa nangis?" tanya galih ketika baru saja masuk kedalam ruangan dan melihat aleta menangis.


"aku nggak tega lihat star kayak gini gal" ucap aleta sembari memeluk galih.


"jangan nangis lagi, nanti kalau star sadar dia malah ikutan sedih kalau lihat kamu sedih kayak gini"


"gal tolong lakuin sesuatu. sungguh aku nggak mau kehilangan keponakan kita gal" ucap aleta dengan suara bergetar.


"aku, riko, dan arya pasti bakal lakuin yang terbaik buat star. sabar sedikit lagi ya, jangan nangis lagi nanti jadi jelek"


"aku udah berusaha tahan. tapi nggak bisa, air mata aku keluar dengan sendirinya"


"kamu nggak malu dilihatin anak-anak. bahkan mereka ikutan menangis ta" ucap galih sembari menatap nana, nono, biru, alfin, dan gara secara bergantian.


dengan segera aleta melepaskan pelukannya dan menatap anak-anak itu secara bergantian. benar kata galih, anak-anak itu kini tengah menangis tanpa suara dan saling memeluk satu sama lain. dengan segera aleta bangkit dan menghampiri mereka semua.


"maafin tante ya anak-anak. kalian jadi ikutan sedih kayak gini"


"tante, star nggak bakal kenapa-kenapa kan? gara takut"


"star pasti baik-baik aja sayang" ucap aleta sembari memeluk gara.


"gara takut kehilangan star tante. star adalah satu-satunya alasan gara untuk tetap bertahan" ucap gara dengan suara bergetar, air matanya semakin membanjir hingga membasahi baju milik aleta.


"gara sayang, nggak boleh ngomong seperti itu ya nak. kita semua sayang sama gara, kita pasti bakal lindungi gara. yang perlu kita lakukan sekarang adalah berdoa, semoga Tuhan segera angkat penyakit star"


"gara jangan sedih lagi ya nak. kita harus kuat buat star, jangan sampai kita terlihat rapuh di depan star" ucap galih sembari mengelus surai hitam legam milik gara.


"iya om"


"mulai sekarang jangan nangis lagi. kalian anak laki-laki, nggak boleh cengeng"ucap galih sembari menghapus air mata nana, nono, gara, biru, dan alfin secara bergantian.


********


"abang"panggil alice sembari duduk di kursi kosong di sebelah al.


"kenapa?"


"gapapa bang. aku cuma kangen sama abang" jawab alice sembari menyenderkan kepalanya di pundak al, sedangkan al sendiri masih sibuk dengan gitarnya. entahlah melodi apa yang sedang al mainkan, tapi alice tau kalau saudara kembarnya itu hanya asal memetik senar gitarnya.


"boleh. mau nyanyi apa emangnya?"


"runtuh"


"tapi abang nggak tau kuncinya"


"pelajari dulu dong"


"oke"


dengan segera al membuka ponselnya untuk searching lirik lagu runtuh beserta kuncinya.


"udah belum?"


"udah"


"cepet banget"


"iyalah, jangan pernah remehin saudara kembarmu ini ya"


"iya deh percaya bapak CEO yang terhormat"


"ayo kita mulai"


"ashiap"


dengan segera al memetik gitarnya, dan alice pun segera mengalunkan syair-syair indah yang terasa menyayat hati itu.


"Ku terbangun lagi


Di antara sepi


Hanya pikiran yang ramai


Mengutuki diri


Tak bisa kembali


Tuk mengubah alur kisah


Ketika mereka meminta tawa


Ternyata rela tak semudah kata


Tak perlu khawatir, ku hanya terluka


Terbiasa 'tuk pura-pura tertawa


Namun bolehkah s'kali saja ku menangis?


Sebelum kembali membohongi diri


Ketika kau lelah


Berhentilah dulu


Beri ruang, beri waktu


Mereka bilang, syukurilah saja


Padahal rela tak semudah kata


Tak perlu khawatir, ku hanya terluka


Terbiasa 'tuk pura-pura tertawa


Namun bolehkah s'kali saja ku menangis?


Sebelum kembali membohongi diri


Ha, ha, ha-ah


Ha, ha, ha-ah


Ha, ha, ha-ah-oh


Kita hanyalah manusia yang terluka


Terbiasa tuk pura-pura tertawa


Namun bolehkah sekali saja ku menangis?


Ku tak ingin lagi membohongi diri


Ku ingin belajar menerima diri"


"dih abang nangis?" tanya alice ketika melihat mata al yang basah.


"abang kangen gisa" jawab al dengan suara bergetar.


alice dapat melihat dengan jelas bagaimana rindunya al kepada gisa, wanita itu benar-benar menempati tahta tertinggi di hati al. bahkan setelah 6 tahun kepergiannya pun al masih saja mencintainya, dan belum juga mau belajar membuka hatinya.


*"gisa kamu memang pantas mendapatkan cinta yang sebesar ini dari abang, karena kamu adalah wanita yang baik dan penuh dengan kesabaran. gisa lihatlah abang sekarang menderita, dia benar-benar terluka dengan kenyataan pahit bahwa starla mengidap penyakit yang mematikan. tolong bantu abang dari atas sana ya, aku nggak tega lihat abang sedih, aku rasa kamu pun juga begitu"* gumam alice dalam hati.


dengan segera alice memeluk al, kalau boleh jujur ia juga sangat merindukan gisa. ia juga tidak tega melihat saudara kembarnya sedih seperti ini.


"abang jangan sedih lagi ya, aku ikut sedih kalau abang sedih"


"6 tahun lebih tanpa dia, hidupku benar-benar kosong lice. dan starla adalah satu-satunya warna dalam hidupku yang gelap, tapi sekarang bahkan Tuhan juga mau mengambilnya dariku"


"Tuhan tidak akan mengambil star dari kita bang. percaya deh sama aku, yang terpenting sekarang kita berdoa supaya Tuhan memberikan kesembuhan untuk star" ucap alice sembari menghapus air mata al


"iya kamu benar, karena hanya itu yang bisa kita lakukan sekarang"


"ehemmt, jangan nangis lagi. abang jadi gak ganteng lagi kalau nangis" ucap alice sembari kembali memeluk al.


malam itu dibawah sinar rembulan dan kerlap-kerlip bintang kedua saudara itu bercengkrama dan menumpahkan semua keluh kesahnya masing-masing.