My Introvert Husband

My Introvert Husband
pria bucin



pagi itu tepat pukul 5 pagi gisa sudah bangun dari tidurnya, dan seperti pagi kemarin lagi-lagi al tidur sembari memeluk dirinya.


*"ahh dia lagi-lagi tidur sembari memeluk diriku, apa dari semalam dia memelukku. andai saja kakak al memelukku dalam kondisi sadar dan tidak tidur, alangkah bahagianya diriku"* gumam gisa dengan wajah murung, setelah puas memandangi wajah tampan al, gisa segera turun dari ranjangnya dan bergegas menuju kamar mandi untuk membersihnkan tubuhnya.


setelah selasai mandi gisa segera turun kelantai bawah dan menuju dapur untuk membuatkan sarapan untuk suaminya.


"kamu masak apa?" tanya al yang baru saja turun dan sudah rapi dengan baju kerjanya.


"kakak al coba kau icipi apa ini" ucap gisa sembari menyodorkan sepotong daging kepada al


"ayo buka mulutmu kak"


"aku bisa makan sendiri"


"ayolah kak, kakak tidak akan mati keracunan hanya karna makan dari suapan tanganku"


"baiklah, crewet sekali kau ini" ucap al sembari menerima suapan gisa.


"bagaimana, enak tidak?" tanya gisa penuh dengan antusias.


"lumayan"


"ya hanya lumayan ya. berarti rendang buatanku kurang enak" ucap gisa sembari mencebikkan bibirnya.


"iya enak, sudah jangan memberengut seperti itu. sudah jelek jadi tambah jelek" sarkas al.


"iya aku memang jelek, makannya kakak al tidak pernah mencintaiku" gumam gisa dengan wajah murung.


"kau tadi bilang apa?" tanya al


"aku tidak bicara apa-apa kak. makanlah kak, nanti kakak al telat kekantornya"


'hmmt"


setelah menyelesaikan sarapannya, al segera pamit kepada gisa untuk pergi kekantor.


"aku berangkat dulu. kamu dirumah saja, nanti alice dan alexs akan mengantarkan mobilmu"


"iya kak"


"aku pergi dulu" ucap al sembari berlalu pergi.


"kakak al" panggil gisa, dan dengan terpaksa al menghentikan langkahnya dan menengok lagi kearah gisa.


"ada apa?"


dengan segera gisa bangkit dari duduknya dan menghampiri al. diraihnya tangan al, dan diciumnya penuh dengan rasa hormat.


"iya"


*******


"woyy melamun saja terus sampai sukses" ucap arya yang baru saja masuk kedalam ruangan al.


"aku memang sudah sukses kalik"


"huuu sombong" ucap arya sembari terkekeh.


"nglamunin apa sih loe? apa loe nglamunin gadis kecilmu itu?"


"iya"


"ayolah bro loe udah nikah, lupain lah cewek masa kecil loe itu. gisa kurang apa sih, dia cantik, baik, pandai masak. dia bener-bener istri idaman banget men"


"kau ini crewet sekali, mana bisa aku melupakannya. bahkan aku selalu menjaga jarak dengan semua wanita demi dia"


"apa kamu akan terus menunggunya?"


"aku akan terus mencintainya" ucap al sembari menengadahkan wajahnya dan menatap langit-langit ruang kerjanya.


"kau benar-benar gila, lalu bagaimana nasib gisa men. apa kau akan meninggalkannya"


"tidak. aku tidak akan pernah meninggalkannya, dia akan tetap jadi istriku"


"wahh parah loe al, loe bener-bener gila men"


"ahh sudahlah bawel sekali kau ini"


"tapi ngomong-ngomong siapa gadis itu, kau tak pernah sekalipun menceritakan secara detail tentang gadis itu"


"rahasia, kau ini kepo sekali"


"tentu saja aku kepo. kau hanya menyukai satu gadis saja didalam hidupmu men, bahkan dari kecil sampai kau setua ini, itu sungguh waktu yang lama"


"aku rasa kalau kau melihatnya, kau juga tidak akan bisa menolak pesonanya ar"


"ahh kau selalu saja menjadi pria bucin jika sudah membahasnya al, dan akan kembali dingin kepada para wanita lainnya"


"biarkan saja"


"tapi saranku lebih baik kau belajarlah mencintai gisa al, dia gadis yang baik. jangan hanya gara-gara wanita itu kau malah menyia-nyiakan gisa, dan akan membuatnya pergi meninggalkanmu, ingat sob penyesalan akan selalu datang belakangan" ucap arya sembari menepuk bahu al.


"iya pak tua, crewet sekali kau ini. kau dan alice memang pasangan yang sangat serasi, kalian sama-sama crewet" ucap al sembari menyunggingkan senyumnya.