My Introvert Husband

My Introvert Husband
makam billa



(5 bulan kemuadian)


"nggak terasa ya yank usia kandunganaku sekarang udah menginjak 26 minggu" ucap gisa sembari mengelus perut buncitnya.


"iya, aku sungguh tidak sabar ingin menjadi seorang ayah yank"


"sabar dong, kan sebentar lagi. doakan ya aku dan anakmu selalu sehat, dan nanti proses persalinannya berjalan lancar"


"itu sudah pasti"


"sayang aku ingin ke makam billa, apa kamu bisa temani aku?"


"tentu. apa kita berangkat sekarang?"


"iya"


"apa kamu mau ganti baju?"


"tidak sayang, aku pakai baju ini saja. ayo kita berangkat sekarang" ucap gisa sembari bangkit dari sofa dan segera meraih tas jinjingnya, begitu pula dengan al yang langsung mengambil jaket dan kunci mobil.


al dan gisa segera turun kelantai dasar, sebelum mereka pergi mereka berpamitan terlebih dulu kepada bibi. namun ketika gisa dan al baru saja keluar dari pintu gisel dan riko baru saja datang dan turun dari motor.


"kakak, kak al. kalian mau kemana?"


"mau kemakam billa dek, kamu tumben kesini?"


"aku kangen calon keponakanku, beberapa hari ini aku sibuk jadi nggak sempet mampir dan merasakan tendangannya si kecil" jawab gisel sembari mengelus perut buncit sang kakak.


"beberapa hari apaannya. kamu sudah hampir satu bulan nggak kesini" protes gisa sembari mencebikkan bibirnya.


"di kampus lagi banyak banget tugas kak"


"banyak tugas atau kamu lagi asik ngebucin sama riko?"


"kak al apaan sih, beneran di kampus emang lagi banyak tugas"


"yaudah kalian masuk dulu gih, kakak dan kak al nggak akan lama kok"


"oke, ayo ko kita masuk. anggap aja rumah sendiri" ucap gisel sembari menarik tangan riko masuk kedalam rumah.


"mereka lucu ya yank"


"iya, aku berharap gisel berjodoh dengan riko. aku lihat riko anak yang baik, dan dia juga bertanggung jawab" jawab al.


"ya udah ayo"


dengan segera mereka masuk kedalam mobil dan al pun mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju pemakaman. setelah hampir 30 menit berkendara mereka berdua pun sampai di area pemakaman, sebelum menuju makam billa gisa berhenti sejenak menuju toko buka dan membeli satu buket bunga krisan putih.


"kamu selalu memilih krisan putih, jika kita berkunjung ke makam billa?"


"iya, putih kan suci. aku fikir itu sangat melambangkan billa yank"


"yasudah ayo"


mereka segera melanjutkan perjalanan menuju ke makam billa.


"kak alice"


"gisa, abang. kalian kemari" jawab alice sembari menghapus air matanya.


"iya, aku kangen billa"


"sama aku juga sangat merindukannya"


"kak alice kenapa menangis?"


"aku tidak apa-apa"


"jangan terus-terusan menyalahkan diri kamu atas kepergian billa" ucap al sembari mengusap puncak kepala alice.


"aku merasa gagal menjadi seorang kakak bang. harusnya aku bisa mengendalikan mobil itu dan melindungi billa"


"kamu kan tau kalau mobil itu di sabotase oleh seseorang, jangan seperti ini terus'' ucap al sembari membawa alice ke dalam pelukannya.


"kak jangan sedih terus. kalau billa lihat kakak seperti ini, dia pasti tidak akan suka, billa pasti akan sedih kak"


"anak telmi, anak polos. kakak merindukanmu bil" ucap alice sembari memeluk marmer berukirkan nama billa.


"yang bisa kita lakukan hanya mengikhlaskan billa, dan mendoakannya lice" ucap al sembari mengusap pelan punggung saudari kembarnya.


"abang tapi billa pasti memaafkan alice kan?"


"billa pasti memaafkan kamu, dia pasti tau kalau ini bukan kesalahanmu. ayo bangun, kita doakan billa bersama-sama"


dengan segera alice bangkit, dan mereka bertiga pun mulai mendoakan billa.


*****


"gisel"


"kenapa?"


"kamu belum jawab pertanyaanku"


"apa kamu mau meenjadi kekasihku?"


"kenapa harus berubah sih ko?"


"tidak ada yang berubah. lihatlah semua orang mendukung hubungan kita, tapi bahkan sampai sekarang kita belum juga melangkah. apa tidak ada sedikit saja perasaan kamu buat aku sel?"


*"aku mencintaimu ko, sungguh. tapi entah mengapa aku justru takut mengecewakanmu"* gumam gisel dalam hati.


"apa kamu tau ko?"


"apa?"


"nggak ada manusia yang bisa kita percaya sepenuhnya"


"apa itu termasuk kamu?"


"ya, termasuk aku. kamu nggak boleh terlalu percaya aku sepenuhnya. aku juga berpotensi menyakitimu"


"persetan dengan semua itu, aku nggak peduli sel. akan aku ambil segala resikonya, kalau perlu kita menikah secepatnya"


"riko kamu jangan gila, kita bahkan belum wisuda"


"berarti kamu mau menikah denganku"


gisel beku, kenapa juga dia harus menjawab seperti itu tadi. mulutnya boleh saja menolak, tapi hatinya benar-benar tidak bisa di ajak kompromi.


"a..aku"


"yes or yes?"


"yes"


"berarti kamu mau"


"ahh tung..... tunggu sebentar kamu tadi tanya aku apa?"


"yes or yes"


"kok gitu sih"


"karna aku nggak menerima penolakan, jadi kamu mau?"


"a..ku aku mau" jawab gisel dengan tergagap.


"aku akan segera bilang papa dan mama"


"tapi jangan sampai siapapun tau masalah ini ya ko"


"kenapa?"


"aku malu" jawab gisel sembari menunduk.


"baiklah aku akan rahasiakan ini dari siapapun. kelihatannya akan menarik kalau diam-diam tapi sebar undangan"


"makasih ya"


"tentu" jawab riki sembari memeluk gisel.


"woi dunia bukan milik berdua ya"


"kak alice, sejak kapan kakak datang?" tanya gisel dengan wajah panik.


"barusan, buset kenapa loe panik gitu sih sel"


"hah siapa yang panik!"


"hayo kalian berdua habis ngapain tadi?" goda alice.


"ng..... nggak ngapa-ngapain kok kak"


"kalau nggak ngapa-ngapain kenapa loe gugup"


"siapa yang gugup"


"kita emang nggak ngapa-ngapain kak. kakak fikir aku cowok apaan, sampai mau ngapa-ngapain anak orang" ketus riko.


"biasa aja kalik mas, mulutnya nggak usah di manyun-manyunin gitu"


"habisnya kak alice nyebelin"


"kenapa sih?"


"ini nih bang, gisel sama riko berbuat tidak senonoh"


"riko apa benar itu?" tanya al sembari menatap tajam riko, dan ekspresinya pun kelihatan marah.


"bang al percaya gitu sama mulut bebek kak alice. mana ada aku ngapa-ngapain, aku tidak akan pernah menyentuh dia sampai dia sah menjadi istriku" jawab riko dengan tegas.


"bagus, abang bangga sama kamu" ucap al sembari menepuk pelan pundak riko.