My Introvert Husband

My Introvert Husband
putri kecil



setelah sampai rumah sakit pak edi segera menggendong gisa dan membawanya berlari. pak edi benar-benar khawatir dengan keadaan gisa, sementara itu darah terus mengalir dan gisa benar-benar merasakan kesakitan.


"dokter, suster tolong majikan saya" teriak pak edi sembari menggendong gisa dan terus berlari.


"astaga ini kenapa pak?"


"tolong majikan saya sus, tadi beliau jatuh"


"sini pak"


dan dengan segera pak edi membaringkan gisa di atas blankar rumah sakit, sedangkan para staf medis segera mengambil tindakan untuk gisa.


"bapak tolong hubungi keluarganya"


"baik sus"


dengan segera pak edi berusaha menghubungi al. namun sudah berkali-kali ia coba, al tetap saja tidak mengangkat panggilan telfonnya. dan dengan segera pak edi menghubungi papi varo.


"halo tuan"


"iya kenapa?"


"tuan nyonya gisa tadi jatuh, dan sekarang pendarahan" ucap pak edi.


"apa bagaimana bisa edi. kau dirumah sakit mana sekarang? aku akan segera kesana" ucap papi dengan cemas.


"rumah sakit medika tuan"


"oke saya akan segera kesana" ucap papi sembari memutus sambungan telfonnya.


"nyonya saya harap anda tidak kenapa-kenapa. maafkan saya karena telah gagal menjaga anda" gumam pak edi.


"permisi pak"


"iya sus ada apa?"


"kami harus segera melakukan operasi untuk pasien. kalau tidak segera ditangani kami takut akan terjadi sesuatu dengan ibu dan janinnya"


"lakukan yang terbaik untuk majikan saya sus. saya mohon selamatkan ibu dan juga bayinya"


"baik pak kalau begitu saya permisi"


suster segara masuk, dan gisa pun segera di alihkan ke ruang operasi.


"edi bagaimana keadaan gisa?" tanya mami dan mama sarah secara bersamaan, ya setelah mendapat kabar dari pak edi, papi dengan segera pergi kerumah sakit. namun sebelum itu papi rak lupa menjemput mami melati dan mama sarah di butik.


"saya juga belum tau nyonya besar"


"maafkan saya ini semua salah saya" ucap seorang gadis yang tiba-tiba saja datang.


"kamu siapa?" tanya papi varo.


"nama saya laras. maafkan saya pak, gara-gara nolongin saya sekarang mbaknya jadi terluka"


"sudah jangan menyalahkan dirimu, sekarang tolong bantu doanya. semoga anak kami di dalam baik-baik saja"


"iya pak" jawab laras sedih.


"mel aku takut" ucap mama sarah sembari beruraian air mata.


"sarah aku tau. aku pun juga merasakan apa yang kamu rasakan, tapi aku tau gisa adalah anak yang kuat"


"ahhh kemana anak ini, istrinya sekarang sedang bertaruh nyawa. tapi dia malah tidak bisa di hubungi" ucap papi setelah puluhan kali mencoba menghubungi al namun hasilnya nihil.


"mungkin tuan muda sedang ada rapat tuan. karena pagi tadi beliau terlihat sangat tergesa-gesa"


"ahhh kau benar edi, pagi ini al ada rapat dengan klien dari jepang. Tuhan aku mohon selamatkan menantu dan calon cucuku" ucap papi varo sembari berkaca-kaca.


*****


"yey akhirnya rapatnya sukses" ucap arya dengan lega.


"iya gue juga seneng banget karena nggak malu-maluin tadi" ucap aleta sembari terkekeh.


"al loe kok kelihatan murung, loe nggak seneng?" tanya arya yang dari tadi melihat wajah al tampak terlihat biasa-biasa saja.


"gue seneng kok"


"kalau loe seneng ngapa wajah loe gitu"


"gatau kenapa gue kepikiran sama gisa, tiba-tiba perasaan gue nggak enak men"


"telfonlah jangan kayak orang susah"


dan dengan segera al merogoh ponselnya yang ditaruh didalam saku jasnya.


"papi sama pak edi kenapa telfon sebanyak ini"


"kenapa?" tanya arya.


"gue nggak tau, tapi papi sama pak edi telfon gue berkali-kali"


"telfon balik dong. kenapa perasaan gue jadi ikut-ikutan nggak enak gini" gumam arya.


dengan segera al segera menghubungi papi.


"halo pi ada apa? kenapa papi menelfon al berkali-kali" tanya al begitu panggilan telfonnya telah di angkat oleh papi.


"kau kemana saja, istrimu sekarang sedang di rumah sakit al"


"apa di rumah sakit pi? memangnya gisa kenapa pi?"


"sudah cepat kemari. rumah sakit medika, papi tunggu" ucap papi sembari mengakhiri panggilan telfonnya.


"kenapa?"


"gue juga nggak tau. tapi kata papi gisa sekarang di rumah sakit, gue pergi dulu" jawab al sembari berlalu pergi.


"gue ikut" ucap arya sembari mengikuti al.


"gue juga" ucap galih dan aleta bersamaan.


********


"papi gisa kenapa?" tanya al yang baru saja datang dengan nafas memburu.


sedangkan alice setelah melihat kedatangan suaminya segera memeluk arya dan menangis dipelukannya, hal itu membuat arya semakin khawatir dan cemas.


"istrimu jatuh dan dia mengalami pendarahan" jawab papi sembari memegang pundak al.


mendapat jawaban dari papi membuat pundak al menurun. ternyata ini alasan kenapa ia terus-terusan kepikiran gisa.


"kenapa bisa seperti ini pi?"


"istrimu nekat pergi ke makam billa, sedangkan ia tak mengizinkan pak edi untuk ikut turun dari mobil"


"gisa sayang kenapa kamu keras kepala sekali" gumam al sebari bercucuran air mata. al benar-benar merasa takut, ia takut terjadi sesuatu dengan istri dan calon buah hatinya.


proses operasi berjalan lumayan lama, hingga membuat al benar-benar pontang-panting karena menghawatirkan keadaan gisa dan juga buah hatinya.


"sayang aku mohon bertahanlah. kamu dan anak kita harus baik-baik saja" gumam al. sedangkan aleta dan galih berusaha menenangkan al, semua orang yang berada di situ nampak kacau. apalagi sejak tadi mami, mama, alice, dan gisel tak henti-hentinya menangis.


tak lama lampu operasi padam menandakan bahwa operasi kini telah berakhir.


"sar operasinya telah berakhir" ucap mami melati.


"kau benar mel"


"saya sus" ucap al sembari bangkit dari duduknya.


"istri anda mencari anda"


"ah iya"


dengan segera al masuk kedalam mengikuti perawat yang tadi memberi tahunya.


"gisa sayang" ucap al sembari menghambur memeluk gisa.


"kenapa kamu menangis. lihatlah apa kau tidak malu kepada putri kita?"


"anak kita perempuan?"


"iya sayang, dia sangat cantik" jawab gisa sembari tersenyum.


"selamat ya tuan bayinya perempuan. dia sangat cantik seperti ibunya" ucap dokter sembari memberikan bayi mungil itu kepada al, sedangkan al tampak ragu untuk menerimanya.


"jangan takut tuan"


"apa aku boleh menggendongnya sayang?" tanya al sembari menatap gisa.


"tentu saja, dia anakmu. kenapa kamu harus meminta izin ketika mau menggendongnya"


"terimakasih sayang" ucap al sembari mengambil alih si kecil dari tangan dokter.


"sayang lihatlah dia sangat cantik sama seperti dirimu"


"dia memang putriku" jawab gisa sembari tersenyum.


"enak saja, aku juga ikut andil ya"


gisa benar-benar sangat bahagia hari ini. terlebih ketika melihat al menggendong si kecil, terlihat sangat jelas kebahagian di wajah al.


"ahhh" rintih gisa ketika merasakan sakit yang begitu hebat di perutnya.


"dokter detak jantung pasien melemah"


"segera lakukan tindakan"


"sayang kamu kenapa?" ucap al panik ketika para staf medis mengerumungi tubuh istrinya.


"sayang aku mohon bertahanlah" gumam al sembari tak henti-hentinya bercucuran air mata, bahkan kini si kecil pun juga ikut menangis.


"maaf tuan kami tidak bisa menyelamatkan nyonya gisa" ucap sang dokter sembari menghampiri al.


runtuh sudah dunia al, air matanya terus mengalir sembari terus memperhatikan tubuh gisa yang perlahan telah memucat.


"sayang tolong bangun, jangan tinggalkan aku dan anak kita" ucap al sembari mendekap putri kecilnya.


"ikhlaskan tuan. mungkin ini yang terbaik untuk nyonya gisa, karena waktu dibawa ke rumah sakit kondisi nyonya gisa memang benar-benar memprihatinkan"


"putri kami masih butuh ibunya dok"


"saya tau ini berat untuk anda, tapi ingatlah tuan Tuhan mempunyai rencanaya sendiri"


dengan segera al bangkit dari duduknya dan segera menghampiri keluarganya.


"al bagaimana kondisi gisa?" tanya mama sarah.


"dia sudah pergi. dia meninggalkanku dan si kecil ma" jawab al sembari menunduk, sedangkan air matanya tak henti-hentinya mengalir.


"tidak" ucap mama sarah dan mami secara bersamaan, tak lama mama dan mami kehilangan kesadarannya, begitu pun dengan alice dan gisel.


******


kabar kepergian model cantik nan angun terdengar dimana-mana, bahkan hampir semua stasiun tv meliput kepergian gisa.


kini kondisi rumah duka tampak masih ramai dengan beberapa anggota keluarga dan beberapa pelayat meskipun jenazah sudah di makamkan tadi sore.


"al apa kamu sudah menentukan nama untuk si kecil?" tanya papi.


"sudah pi"


"apa nama untuk keponakanku kak?" tanya gisel sembari terus menoel-noel pipi gembul si kecil.


"aurelia starla efendi. kita panggil dia strla, aku ingin putri kecil ku menjadi bintang yang paling bersinar"


"nama yang cantik" mereka semua secara bersamaan.


"hay baby starla. kamu harus menjadi bayi yang kuat ya, ingat meskipun mommymu sudah tiada masih ada daddymu yang begitu menyayangimu, ada tante dan juga om, opa dan omma juga" ucap gisel sembari terus menoel-noel pipi gembul baby starla.


******


tak terasa sudah satu minggu kepergian gisa. al dengan keras kepala mengurus starla sendirian dia bahkan menolak baby sister pilihan mama dan juga mami. al ingin membesarkan putri kecilnya seorang diri, dan ketika ada pekerjaan yang sangat penting al akan menitipkan si kecil kepada alice atau pun gisel untuk menjaganya. karena kedua tantenya itu tidak akan pernah keberatan untuk menjaga baby starla.


"hey putri kecil daddy"


"starla lihatlah daddymu sudah pulang" ucap gisel yang baru saja selesai memandikan starla.


"dia tidak rewel kan dek?"


"nggak kak. starla anak yang pintar, dia sama sekali tidak rewel"


"pintarnya anak daddy"


"gimana rapatnya kak, lancar kan?"


"alhamdulilah lancar, ini semua pasti berkat si kecil"


"syukurlah, itu memang Rezky buat si kecil kak"


"iya"


"kakak al yakin nggak mau pakai baby sister?"


"aku yakin, aku ingin merawat putriku sendiri"


"kakak gisa pasti bangga karena mempunyai suami seperti kakak"


"aku berharap juga begitu. oh iya kakak titip starla lagi ya"


"kakak al mau kemana lagi"


"kakak pergi sebentar" ucap al sembari berlalu pergi.


"lihatlah daddymu sangat menyebalkan, dia baru saja pulang tapi sudah pergi lagi. bahkan mengganti bajunya saja tidak"


******


setelah sekitar 15 menit berkendara al telah sampai di makam gisa.


"selamat sore sayang" ucap al sembari berjongkok di samping makam gisa, tak lupa sebuah buket bunga krisan putih al letakkan di atas makam gisa yang masih basah.


"sayang maaf ya aku baru sempat berkunjung, aku akhir-akhir ini sibuk menjaga starla. aku janji sama kamu bakal mengurus starla dengan sebaik mungkin. maaf ya sayang, karena aku nggak bisa menjagamu dengan baik sekarang kamu malah telah mendahului aku"


"sayang apa kamu sekarang sudah berjumpa dengan billa, kalian berdua sudah bermain bersama lagikan! aku berharap kamu mendapatkan surganya"


"aku pamit dulu ya sayang, kasihan gisel sedari tadi menjaga starla" pamit al sembari tersenyum.


Aurelia starla efendi