My Introvert Husband

My Introvert Husband
sahabat baru



"hai sayang apa kabar? maaf ya sudah hampir satu minggu aku belum menjengukmu" ucap al sembari menaruh sebuket bunga krisan putih di atas pusara istrinya.


"kamu nggak marah kan sama aku. maafin aku, aku sangat sibuk akhir-akhir ini"


"sayang aku harus bagaimana? kemana aku harus mencari donor ginjal untuk putri kita. putri kita sakit, aku sungguh merasa gagal menjadi daddynya. aku harus gimana sayang, maaf sekarang aku menjadi pria lemah. aku benar-benar lemah jika itu bersangkutan dengan putri kecil kita. tolong beri aku jawaban sayang! aku sungguh nggak mau kehilangan dia. sudah cukup aku kehilangan kamu, wanita yang begitu aku cintai. aku nggak mau merasakan kehilangan lagi sayang, tolong bantu aku dari atas sana" ucap al sembari terisak dan memeluk makam gisa.


entah untuk kesekian kalinya al berbicara dengan hembusan angin, tanpa berbalas. tapi hanya dengan itu ia merasa sedikit lega, setiap dua hari sekali al selalu mengunjungi makam gisa, untuk membagi keluh kesahnya. walaupun ia berbicara panjang lebar dan tak berjawab, tapi al selalu merasa lega ketika sudah mengeluarkan seluruh isi hatinya di depan makam sang istri.


"sudah hampir 6 tahun lebih kamu pergi, tapi rasanya seperti baru kemarin. kamu masih menjadi pemilik tahta tertinggi di hatiku, tak perlu risau cantik. sainganmu hanya putri kita" ucap al sembari tersenyum, senyum yang penuh dengan luka, senyum yang penuh dengan kerinduan.


"kalau saja kamu masih ada, aku bisa menceritakan semuanya kepadamu. tidur dipangkuanmu, memainkan rambutmu, dan kamu mengelus rambutku dengan penuh rasa sayang. kenapa Tuhan hanya memberi waktu sesingkat itu kepada kita, kenapa Tuhan ambil kamu secepat itu sayang. apa ini karmaku? ya mungkin ini karmaku sayang, karena aku lebih mencintaimu di bandingkan mencintainya"


"aku pulang ya, kasihan putri kita nanti dia menungguku terlalu lama. oh iya, tolong bilang sama Tuhan untuk memudahkan semuanya, bilang sama Tuhan untuk angkat penyakit putri kita. aku pulang istriku"


dengan segera al melangkah pergi meninggalkan makam istrinya, karena ia sudah janji untuk menjemput starla. ya anak itu sangat keras kepala, padahal al sudah membujuknya untuk tidak usah masuk sekolah dan beristirahat dulu, tapi dia tetap ngeyel untuk pergi.


bocah kecil itu juga sudah tau mengenai kondisi kesehatannya, kemarin al dan laras mencoba memberitahunya secara pelan-pelan masalah penyakit yang ia derita. yang al heran starla sama sekali tidak meneteskan air matanya, bahkan ia masih bisa tersenyum. mungkin jika yang mengalami itu anak lain, dia sudah menangis dan akan merasa ketakutan.


"hai tuan putri" ucap al begitu sampai di depan sekolah starla, dan starla pun sudah menunggu di depan gerbang bersama nana dan juga nono.


"akhirnya daddy datang juga, starla hampir lumutan gara-gara daddy" ucap starla sembari mengerucutkan bibirnya.


"unchh putri daddy gemes banget sih kalau lagi manyun gini"


"ichh gombal buaya darat" ucap starla sembari berlalu pergi dan langsung masuk kedalam mobil tanpa menghiraukan sang daddy dan kedua saudaranya yang sedang melongo.


"siapa yang mengajari starla seperti itu?" tanya al kepada nana dan nono.


"nana nggak tau om" jawab nakula sembari menggelengkan kepalanya.


"aku rasa mama aku deh om. mama kan kalau ngomong suka nggak di filter dulu"


"ahh kamu benar no, kalau mamamu bukan saudari kembar om, om pasti sudah mencekiknya. dia benar-benar menyebalkan seperti nenek sihir"


"xixixixi nanti nono aduin sama mama, kalau om bilang mama seperti nenek sihir"


"mau om patahin lehermu"


"pishh om" ucap juno sembari mengangkat jarinya membentuk huruf V.


"udah ayo pulang, keburu si tuan putri marah-marah nanti"


******


"langsung masuk istirahat, ingat nggak boleh capek-capek" ucap al begitu sudah sampai di depan rumah.


"siap komandan" ucap starla sembari memberi hormat kepada daddynya.


"yaudah daddy ke kantor lagi"


"iya daddy, hati-hati dijalan"


"iya tuan putri"


setelah mobil daddynya tak terlihat lagi starla segera masuk kedalam rumah dengan langkah lesu.


"ehh non starla udah pulang" ucap bik titik ketika melihat starla.


"iya bik"


"loh kok lemas gitu sih? obatnya udah di minum kan?"


"udah kok bik"


"ya udah sekarang makan dulu, terus istirahat ya non"


"iya bik. kalau gitu star masuk kamar dulu"


"makanannya mau bibik bawakan ke kamar non?"


"boleh bik" jawab starla sembari menaiki tangga.


"aku lemas sekali, padahal aku sudah meminum obatnya. Tuhan kira-kira sampai kapan starla hidup, star takut Tuhan. mommy udah pergi ninggalin aku dan daddy, dan aku nggak mau ninggalin daddy sendirian. tolong angkat penyakit star Tuhan. kasihan daddy, daddy pasti sedih kalau lihat star sakit" ucap starla sembari menghempas tubuhnya ke atas kasurnya.


"mommy, star kangen mommy. star juga pengen ketemu mommy, tapi star juga nggak mau ninggalin daddy sendirian. daddy cuma punya star mom, star nggak sanggup kalau harus ninggalin daddy sendirian" ucap starla sembari tangannya meraih foto sang mommy yang berada di atas nakas di samping ranjangnya.


"non makan dulu yuk"


"iya bik"


"non star kangen mommy?"


"iya bik, mommy sekarang apa kabar ya di atas sana!"


"mommy nya non star di atas sana pasti bahagia karena memiliki putri secantik non star. udah cantik, pinter, kuat lagi. non harus sembuh ya, non nggak boleh ninggalin daddy, kalau non nggak mau ngelawan penyakitnya daddy pasti akan sedih"


"iya bik, star akan lawan kok"


"anak pintar"


setelah selesai menyuapi starla, bik titik segera kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya. sedangkan starla langsung tidur, ia ingat perkataan daddynya untuk selalu istirahat yang cukup, dan nggak boleh kelelahan.


********


"keponakan gue gimana?" tanya galih.


"star baik-baik aja kan al? gue khawatir setelah tadi loe bilang bocah itu ngeyel buat masuk sekolah" timpal arya.


"star baik-baik aja. dia anak yang kuat, kalian nggak perlu khawatir. lagian ada nana dan nono yang selalu siap siaga jagain star"


"gue belum berhasil dapetin donor ginjal yang sesuai untuk star" ucap arya lesu.


"gue juga"


"sabar, mungkin memang belum rejekinya star. Tuhan memang masih ingin menguji kita" ucap al dengan mata memerah.


arya dan galih sangat paham gimana perasaan al saat ini. al selalu tampak kuat di luar, tapi arya dan galih dapat menjamin kalau hati al sekarang sangat hancur.


******


"aku bosan. kenapa nana dan nono tidak kemari, alfin juga nggak datang-datang. aku samperin kerumahnya ajalah"


tadi sewaktu pulang sekolah nana, nono, dan teman-temannya yang lain janji akan bermain seperti biasanya, namun sampai sekarang mereka berempat belum menampakkan batang hidungnya.


"auu.... hu,,,, hu,,,,, hu"


"astaga dia jatuh" ucap starla sembari berlari menghampiri anak yang jatuh di depan rumahnya.


"kamu gapapakan?"


"aku gapapa"jawab anak itu sembari mengangkat kepalanya menatap starla.


"astaga muka kamu memar, lutut kamu juga berdarah. ayo ikut aku, kita obati luka kamu"


"tapi__"


"aku nggak merima penolakan" ucap starla memotong omongan anak laki-laki yang sekarang berada di depannya.


dan dengan segera starla membantu anak itu berdiri dan masuk kedalam rumahnya.


"kamu tunggu sebentar ya, aku ambil obat dulu"


"iya"


tak lama starla telah kembali dengan kotak p3k di tangannya.


"kalau luka kamu nggak di bersihkan nanti lukanya bisa infeksi"


"makasih ya, kamu baik banget. siapa nama kamu?"


"namaku starla. kalau nama kamu siapa?" tanya starla masih fokus mengobati luka anak laki-laki yang baru di kenalnya.


"nama kamu bagus. namaku sagara, kamu bisa panggil aku gara"


"gara sebelumnya aku belum pernah melihatmu di sekitar sini. apa kamu dari komplek sebelah?"


"ahh tidak aku satu komplek sama kamu, rumahku yang paling ujung sana. tentu saja kamu belum pernah melihatku, karena aku baru pindah 2 hari ini"


"pantas aku tidak pernah melihatmu, oh iya ini pipi kamu kenapa? nggak mungkin kan kalau jatuh tadi, karena ini seperti luka pukul gara!"


"ini karena di pukul papa" jawab gara pelan sembari menundukkan kepalanya, namun masih bisa di dengar starla.


"kenapa papamu jahat sekali, ini pasti sakit ya gara?"


"tidak apa-apa star, aku udah biasa seperti ini"


"gara kamu nggak boleh lemah ya. mama ku pernah bilang kalau kita nggak boleh lemah, kita harus jadi anak yang kuat. apa kamu tau dulu aku sering di bully sama teman-teman sekolahku, tapi mama bilang kalau aku harus lawan dan nggak boleh takut. jadi gara harus lawan kalau papa gara jahat"


"aku mana bisa balas papa star, dia orang tuaku. kalau aku balas papa nanti aku dosa"


"oh iya ya, star lupa gara" ucap starla sembari cengengesan. "kalau gitu gara harus kuat ya, sekarang gara punya starla. gara mau kan jadi sahabat starla"


"gara mau, makasih ya star. kamu sahabat pertamaku disini"


"tenang nanti gara akan punya banyak teman"


"benarkah?"


"iya"


"rumah kamu sepi banget star?"


"ahh iya bibik lagi keluar, yang lainnya ada di depan tadi pada main catur"


"kamu nggak ada kakak atau adik?"


"nggak punya gara, star anak tunggal"


"ohh, kalau papa sama mama kamu dimana?"


"daddy masih di kantor kerja, kalau mommy udah pergi"


"pergi kemana star?"


"pergi ke pangkuan Tuhan"


"ahh maafin gara ya star. gara nggak tau"


"gapapa gara. kata daddy Tuhan lebih sayang sama mommy, makannya Tuhan ambil mommy dari aku dan daddy. oh iya kalau gara berapa bersaudara?"


"aku tiga bersaudara"


"wahh pasti enak ya punya banyak saudara"


"spada rombongan cowok ganteng datang" ucap tiga bocah yang baru saja masuk kedalam rumah starla, ya dia adalah juno, nakula, dan alfin. ya alfin adalah sahabat starla dia rumahnya tepat di depan rumah starla, tetapi alfin sekolah di tempat yang berbeda dengan starla. karena orang tuanya menyekolahkannya di tempat yang sama dengan sekolah milik kakaknya.


"star dia siapa. aku belum pernah lihat dia sebelumnya?" tanya nana sembari menatap gara dari atas sampai bawah.


"iya, aku juga belum pernah melihatnya"


"dia sagara. dan sekarang dia menjadi sahabat kita"


"sagara?" ucap nono, nana, dan alfin secara bersamaan.


"iya sagara" ucap starla sembari memutar bola matanya malas melihat tingkah saudaranya dan sahabatnya.


"ohh anak baru pantes aku belum pernah lihat kamu. kenalin aku alfin, rumahku di depan situ tepat di depan rumah starla"


"kalau aku nakula, kamu bisa panggil aku nana. aku sepupunya starla"


"kalau aku juno, kamu bisa panggil aku nono. aku juga sepupunya starla"


"kalian juga satu komplek sama aku, starla, dan alfin?"


"tidak, kita dari komplek sebelah"


"NONO, NANA. TEGA YA KALIAN BERDUA NINGGALIN COWOK SEGANTENG AKU" teriak seorang anak laki-laki yang baru saja datang.


"astaga biru, bisa nggak jangan teriak-teriak" ucap nono sembari menatap tajam biru, ya bocah satu itu memang selalu bar-bar.


"hehe sorry-sorry. abisnya aku tadi masih tidur, kalian berdua malah ninggalin aku"


"habisnya kamu tidur kayak kebo, dibangunin nggak bangun-bangun"


"ya sorry"


"dia siapa?" tanya gara sembari menunjuk biru.


"ohh iya biru, dia juga sahabat kita mulai sekarang" ucap starla sembari tersenyum.


"lah dia siapa dah, aku baru lihat" ucap biru sembari menatap gara dari atas sampai bawah dengan tatapan heran, karena seingat dia di komplek ini, dan komplek rumahnya nggak ada anak seperti gara.


"kenalin aku sagara, kamu bisa panggil gara" jawab gara sembari tersenyum.


"kamu tinggal dimana?"


"di ujung jalan sana"


"ohh kamu yang baru pindah dua hari yang lalu ya?"


"iya biru"


"heh biru kamu kan anak komplek samping kenapa bisa tau, aku aja yang satu komplek malah baru tau"


"iyalah biru kan anak gaul, nggak kayak alfin kuper" jawab biru dengan wajah songongnya.


"dihh bocah sialan"


"oh iya gar, pipi loe kenapa bisa lebam gitu?" tanya nana sembari menunjuk pipi gara yang membiru.


"di pukul papa"


"papa kamu jahat banget"


"iya, kalau biru tau papa kamu. biru bakal tembak dia"


"kenapa kamu bisa di pukul?" tanya nono sembari memegang pundak gara.


"gara nakal ya?" tanya alfin.


"bocah mulutmu di filter" ucap biru sembari menoyor kepala alfin.


"maaf, habisnya kalau alfin nakal papa juga marah-marah. tapi nggak sampai pukul alfin"


"gara nggak nakal kok, itu karena papa dan mama kira gara yang bunuh kakak" ucap gara sendu.


"kenapa bisa gitu?" tanya nana dengan penasaran.


"iya gar kenapa papa dan mama kamu bisa berfikiran seperti itu?" ucap starla.


"kejadiannya sekitar satu tahun yang lalu. waktu itu aku dan kala pengen banget makan ice cream, dan kebetulan stok ice cream di rumah habis. jadi gara dan kala merajuk, kak sean paling nggak bisa lihat adik-adiknya merajuk karena kak sean sayang banget sama gara dan kala"


"kala siapa gar?" tanya biru.


"sekala, dia saudara kembar aku"


"elah bir ngapa di potong dah, gara kan lagi cerita"


"sorry, namanya juga penasaran"


"lanjut gar" ucap nono.


"jadi kak sean memutuskan buat beliin gara dan kala ice cream di minimarket seberang rumah, waktu kak sean mau pulang kakak nggak sengaja lihat temannya jadi kak sean ngobrol sama temannya. sedangkan kala udah nggak sabar nungguin ice creamnya dia langsung berlari buat ambil ice creamnya dari kakak, tapi dari arah kanan ada truk yang melaju dengan kencang. aku langsung berlari buat selametin kala, begitu juga dengan kak sean. kak sean mendorong tubuh ku dan juga kala, hingga akhirnya kakak yang tertabrak truk itu. aku yang masih terjatuh begitu kaget melihat tubuh kak sean yang penuh dengan darah dan aku pun langsung menghampiri tubuh kak sean dan berusaha buat bangunin kakak, sedangkan kala berlari kedalam rumah buat manggil mama karena papa masih dikantor. setelah mama datang mama langsung memeluk tubuh kakak sambil nangis, setelah mama periksa denyut nadi kakak ternyata udah nggak ada, kakak udah meninggal" ucap gara dengan mata memerah menahan tangis karena mengingat masa kelam itu.


"lalu kenapa papa dan mama kamu nyalahin kamu gar?"


"karena kala bilang ke mama dan papa, gara yang udah dorong kak sean"


"hih saudara kembar kamu jahat gara, star nggak suka" ucap starla sembari mengerucutkan bibirnya.


"iya, nana juga nggak suka"


"jadi sampai sekarang dia nggak bilang kejadian yang sebenarnya sama orang tua kamu?" tanya nono.


"nggak, bahkan semenjak kejadian itu mama dan papa larang aku dekat-dekat sama kala"


"dia sungguh jahat, aku akan menjadikannya rempeyek" ucap biru sembari meremat tangannya.


"kau benar biru, rasanya aku juga ingin mencabik-cabik wajahnya" ucap alfin tak kalah kesal.


"tapi sekarang gara nggak boleh sedih lagi, gara punya kita. kita semua sahabat gara" ucap starla sembari tersenyum.


"iya gara. sekarang ada kita, kamu harus janji sama kita. kamu harus kuat, dan nggak boleh nyerah" ucap nono.


"emtt, makasih ya. gara senang punya sahabat seperti kalian"


"kita semua juga senang punya sahabat seperti kamu" ucap nana.


"oh iya gara kamu bakal sekolah dimana?"


"aku bakal sekolah di SD lima sila"


"wah berarti kamu satu sekolah sama aku, nono, dan nana" ucap starla senang.


"hanya kalian bertiga? lalu biru dan alfin sekolah di mana"


"kita berdua sekolah di SD darma" jawab biru.


"berarti kalian satu sekolah sama kala"


"jadi anak jahat itu satu sekolah sama kami! awas aja aku dan alfin akan memberinya pelajaran" ucap biru dengan muka berapi-api.


"betul, aku dan biru tidak akan tinggal diam" timpal alfin dengan wajah yang sama dengan biru.


"jangan"


"kenapa gara?"


"biru, alfin kalau kalian menyakiti kala. dan kala tau kalau kalian sahabatku pasti dia akan mengadu sama papa, dan papa akan memukulku lagi"


"ck ahh sial. dasar anak cepu, beraninya ngadu" decak biru dengan kesal.


"gara-gara kalian datangnya lama kita jadi nggak jadi main, udah sore gini pada pulang sana"


"star kamu ngusir kita?" tanya biru tak percaya, karena biru baru saja datang.


"iya"


"star sungguh tega kamu, cowok seganteng aku kamu usir" ucap biru mendramatisir.


"bodo amat" ucap starla malas.


"yaudah ayo kita pulang, lagian ini udah sore juga"


"gara pulang bareng kita ya, dari pada kamu jalan kaki" ucap nana.


"emang kalian kesini naik apa?"


"naik sepeda" jawab nono.


"aku bakal boncengin kamu" ucap nana.


"aku jadi merepotkan"


"nggak ada yang merepotkan gar, kita kan sahabat" ucap nana sembari tersenyum.


"kita pulang ya star, kamu jaga kesehatan. jangan sampai sakit lagi" ucap nono sembari mengelus kepala starla dengan sayang.


"iya nono yang ganteng" jawab starla sembari tersenyum, begitu juga dengan nono hingga membuat matanya menyipit.


"gara pulang ya star. makasih udah obatin luka gara"


"iya sama-sama gara"


"fin kamu nggak pulang?" tanya biru, ketika melihat sahabatnya yang satu itu malah tiduran di sofa.


"nggak, rumahku kan deket. jadi aku mau nemenin starla dulu disini sampai om al pulang"


"hati-hati star kamu lagi bareng sama anak kuyang" ucap biru sembari lari keluar rumah sebelum alfin memukulnya.


"yaudah kita pulang" pamit nana sembari menuntun gara yang jalan tertatih-tatih.


"kamu bisa berdiri kan gar?" tanya nana.


"bisa na"


"gara sama aku aja, sepedaku ada boncengannya jadi nggak usah berdiri kaki kamu masih sakit" ucap biru.


"ahh iya benar, sama biru aja ya gar"


"baiklah"


setelah gara duduk di belakangnya biru segera mengayuh sepedanya dan di ikuti nono dan nana di belakangnya. tak buruh waktu lama mereka pun sampai di rumah gara.


"apa kalian mau mampir ke rumahku!"


"lain kali aja gar, udah sore juga. nanti mama bisa ngomel-ngomel" ucap nana sembari tersenyum.


"ah baiklah"


"gara apa itu saudara kembarmu?" tanya nono ketika melihat anak laki-laki seusia mereka keluar dari rumah gara.


"ahh iya itu sekala"


"kenapa kalian nggak mirip? padahal kalian anak kembar" ucap biru.


"kita memang bukan kembar identik biru"


"gantengan kamu gar, dia jelek kayak penyihir" ucap biru, hingga membuat nono, nana, dan gara tertawa.


"udah ayo pulang, nanti biru anak kesayangan di cariin mami"


"biru bukan anak mami ya" ucap biru kesal.


"kalau bukan anak mami anak siap? anak dugong. dosa loh bir kagak ngakuin emakmu, padahal kamu keluar dari rahim mami kamu" ucap nana.


"ahh iya ya. biru anak mami" ucap biru polos, hingga membuat gara, nono dan nana terkekeh.


sedangkan dari dalam rumah sekala memperhatikan interaksi saudara kembarnya dengan tiga anak yang tidak di kenalnya.