My Introvert Husband

My Introvert Husband
cucu lucu



"dari mana saja kau?" tanya al ketika melihat gisa baru saja pulang.


"kakak al. maaf aku pulang terlambat, tadi aku membantu mami dan mama dibutik"


"oh, cepat mandilah kau sangat bau"


"apa iya aku bau" ucap gisa sembari menciumi tubuhnya sendiri.


"iya" jawab al cuek namun tanpa gisa sadari al tersenyum tipis karna melihat tingkah lucu gisa.


"baiklah aku kekamar mandi dulu" pamit gisa sembari berlalu masuk kedalam kamar mandi.


setelah hampir 15 menit gisa pun sudah terlihat keluar dari dalam kamar mandi, sedangkan al masih saja asik dengan laptopnya.


"apa kakak al sudah makan?"


"sudah"


"mau aku buatkan kopi?"


"tidak perlu. tidurlah, kau pasti lelah karna membantu mami dibutik"


"aku tidak lelah, aku justru senang. karna dari dulu aku ingin menjadi seorang desainer seperti mami"


"kalau kau ingin menjadi desainer seperti mami, lalu kenapa kau malah menjadi seorang model?"


"hehe habisnya kakak alice mengajakku"


"dasar wanita aneh"


"kakak al bilang apa tadi"


"kamu aneh"


"aneh kenapa"


"kau terlalu mudah dibujuk oleh orang, hingga kau melupakan keinginanmu sendiri gisa"


"tidak apa-apa sih kak, hitung-hitung nambah pengalaman"


"ya,,, ya,,,, ya sekarang tidurlah ini sudah malam"


"baiklah. kakak al juga lekas tidur, jangan sampai begadang"


"hmttt"


"selamat malam kakak al" ucap gisa sebelum ia menutup matanya.


setelah jam menunjukkan pukul 23.00 al segera menutup laptopnya dan segera membaringkan tubuhnya disamping gisa, dan tak butuh waktu lama al pun sudah terlelap.


*****


sinar matahari pagi menyusup masuk melalu sela-sela gorden hingga membuat tidur panjang gisa terusik, dengan segera gisa membuka matanya namun ketika ia hendak bangun ada sesuatu yang melingkar diatas perutnya.


*"astaga kakak al memelukku lagi"* gumam gisa dalam hati. ia urungkan niat awalnya untuk pergi mandi, di perhatikannya wajah tampan al yang masih terlelap tidur.


"astaga kakak al kau tampan sekali, meskipun dalam kondisi tidur kau masih saja terlihat tampan. aku sangat bersyukur bisa menjadi istrimu, tapi sayang kamu tidak pernah berusaha membalas cintaku kak" gumam gisa dengan wajah murung, ketika ia ingat suaminya sama sekali tidak pernah mencintai dirinya.


dengan perlahan gisa bangun dan segera menuju kamar mandi, setelah selesai mandi dan bersiap-siap gisa segera turun kebawah untuk membantu mami melati.


"pagi mi" sapa gisa yang baru saja tiba di dapur.


"pagi sayang. apa suamimu sudah bangun?"


"belum mi, kakak al masih tidur"


"tolong bantu mami ya nak"


"bantu apa mi?"


"tolong kamu lanjutkan ini, mami mau buatkan kopi untuk papi dulu"


"iya mi"


"kau masak apa?" tanya al yang baru saja turun dan sudah terlihat rapi dengan pakaian kerjanya.


"mami kemana?"


"mami ada diatas. ini tadi aku buatkan kopi untuk kakak al"


"makasih" jawab al dingin sembari menyesap kopi buatan gisa.


"sama-sama, sudah menjadi kewajibanku untuk melayani semua kebutuhan kakak al" ucap gisa sembari tersenyum. namun al sama sekali tak merespon perkataan gisa, ia masih saja asik menyesap kopinya.


"pagi abang, pagi kakak ipar" sapa alexs yang baru saja tiba dimeja makan.


"pagi" jawab al dan gisa bersamaan.


"wah kompak sekali, kalau jodoh itu memang selalu kompak ya" ucap alexs sembari terkekeh.


"diam dan makanlah"


"iya bang"


"kakakmu kapan pulang?"


"nanti kakak juga sudah pulang bang"


"dia itu kapan mau berhenti dari pekerjaannya"


"abang selalu saja berlebihan"


"abang hanya khawatir kepadanya. dia perempuan lexs, dia tidak pandai menjaga diri seperti dirimu"


"abang kan tau kakak keras kepala mana mungkin ia mau berhenti dari pekerjaannya, dia bukan kak gisa bang"


"ya aku tau itu, anak itu memang keras kepala"


"sama abang juga"


"kau pun juga"


"aku memang keras kepala tapi aku tidak sedingin abang, dalam hidupku sudah ada banyak wanita. sedangkan abang tidak pernah berpacaran"


"crewet"


"biarkan"


"pagi anak-anak papi"


"pagi pi" jawab al, alexs, dan gisa bersamaan.


"kalian sudah lama ya menunggu papi?"


"tidak pi. ayo kita segera makan pi, alexs sudah sangat lapar" ucap alexs sembari mengusap-usap perutnya.


"iya-iya ayo kita mulai sarapannya"


hening hanya ada dentingan sendok yang beradu dengan piring, tidak ada satupun dari mereka semua yang memulai pembicaraan. hingga pada akhirnya abang al yang memulai pembicaraan.


"mi, pi. aku mau ngomong sesuatu"


"mau ngomong apa nak?"


"besok, al dan gisa akan pindah kerumah kami sendiri. kebetulan rumahnya sudah selesai di renovasi"


"kenapa buru-buru sekali nak?"


"iya mi, al ingin belajar hidup mandiri bersama istri al"


"bagus itu, papi dukung 100%" ucap papi varo sembari tersenyum.


"papi ini bagaimana, anak mau pergi tapi malah tersenyum senang" protes mami


"mami ini nagaimana, kalau mereka pindah kerumah mereka sendiri. itu artinya akan lebih banyak waktu untuk mereka pendekatan"


"oh iya papi benar. jangan lupa cepat, buatkan mami dan papi cucu yang lucu ya sayang"


"doakan saja mi" ucap al sembari melirik gisa.