
"al apa kamu mempunyai musuh sehingga ada orang yang berniat mencelakai menantu kesayanganku?"
"tidak pi. al merasa tidak memiliki seorang musuh"
"lalu siapa baj**gan yang berniat mencelakai menantuku"
"entahlah pi, lebih baik kita tunggu laporan dari mereka barulah nanti kita bertindak"
"iya kau benar, ayo kita masuk"
"bagaimana pi? apa kata polisi tadi?" tanya mami ketika papi dan al baru saja masuk.
"menurut hasil pemeriksaan polisi, kecelakaan alice memang telah direncanakan"
"apa tidak mungkin pi"
"polisi bilang rem mobil gisa sengaja dipotong, itu tandanya orang itu berniat mencelakai menantu kita, tapi malah salah sasaran dan mengakibatkna alice dan billa terluka"
"tapi bagaimana mungkin pi, pagi ini gisa masih mengendarai mobil gisa, dan semuanya baik-baik saja"
"mungkin saja orang itu sudah memantaumu sedari pagi dibutik nak"
"kenapa orang itu berniat mencelakaiku, seingatku aku tidak memiliki seorang musuh" gumam gisa.
"sudahlah nak tidak usah terlalu difikirkan, papi dan suamimu sedang berusaha mengusut kejadian ini, jadi kamu jangan khawatir''
"iya pi"
"kak alice" panggil gisel yang baru saja datang bersama papa gio.
"hey adik cantik kakak"
"kakak tidak apa-apakan?"
"tidak sayang"
"kalau ada yang sakit bilang ke gisel saja kak, nanti gisel akan obati kakak. giselkan calon dokter yang hebat"
"helleh nggak usah sok-sokan nanti kakakku bukannya sembuh tapi malah semakin sakit, kalau dokternya gadungan seperti dirimu" sarkas alexs.
"hih menyebalkan"
"sudah-sudah kalian ini bisa tidak sehari saja tidak bertengkar! orang kakaknya lagi sakit bukanya doain kakaknya biar lekas sembuh malah pada berantem" ucap papa gio.
"maaf pa" jawab gisel dan alexs secara bersamaan.
tokk..... tokk.... tokk
"masuk"
"permisi pak, buk"
"ada apa nancy?" tanya papi varo, kepada nancy manager alice.
"begini pak, nanti malam nona alice ada acara di star hotel sebagai bintang tamu"
"iya lalu?"
"tadi saya sudah datang kesana dan memberitahukan kondisi nona alice tapi pikah penyelenggara tidak mau tau dan meminta agar nona alice digantikan oleh nona gisa"
"kenapa harus aku" ucap gisa sembari menunjuk dirinya sendiri.
"entahlah non saya juga kurang mengerti, tapi itu yang diminta pihak penyelenggara. kalau tidak nona alice harus membayar pinalti"
"aku akan membayar pinaltinya" ucap al.
"kenapa tidak biarkan gisa saja untuk menggantikan alice al" ucap mami.
"tidak mi, aku tidak akan membiarkan orang-orang itu menikmati wajah cantik istriku"
"huuu dasar bucin" ucap alexs dan gisel secara bersamaan, hingga mengundang gelaktawa dari mereka semua yang berada dalam ruangan itu.
"kau berani sekali memelototiku seperti itu"
"hehe canda doang bang"
"nah benar apa yang dibilang adikmu al. lebih baik kau belikan mobil baru untuk istrimu"
"baiklah, tapi aku akan ikut bersama gisa"
"aku juga ikut" ucap gisel sembari mengangkat tangannya.
"heh bocah untuk apa kau ikut. disini saja bersamaku dan kak alice"
"aku ingin melihat-lihat pria tampan, aku sangat bosan melihat wajahmu terus menerus"
"wahh ngajak ribut"
"sudah-sudah jangan berantem terus aku semakin pusing melihat kalian" ucap alice
"maaf kak" jawab alexs dan gisel secara bersamaan.
******
"ingat ya nanti kau tidak boleh genit, dan melirik pria lain"
"astaga sayang mana mungkin aku seperti itu"
"siapa tau saja kau khilaf. pokoknya aku akan terus mengawasimu"
"iya-iya terserah kau saja"
"kakak al ayo kita keluar, jangan ganggu kakak terus" ucap gisel sembari menarik tangan al.
"tapi aku ingin menemani kakakmu"
"tidak perlu, disini sudah ada nancy. jadi kakak al tidak perlu khawatir kalau kakakku akan hilang"
"baiklah. nancy titip istriku"
"baik tuan"
"kita duduk disini kak, dari sini akan terlihat jelas"
"hmmmt"
"kak lihatlah wanita itu, dia sangat cantik"
"hmmmt"
"dilihat dong kak jangan hmmt-hmmt terus"
"bagiku cuma kakakmu yang paling cantik"
"astaga kenapa kakak iparku ini bucin sekali" ucap gisa sembari memukul jidatnya.
jam menunjukkan pukul 22.00 dan acara itu berjalan dengan sangat lancar. namun gisa sedari tadi nampak tak nyaman karna al terus saja menatap dirinya.
*"astaga kenapa kakak al terus menatapku seperti itu, aku sangat takut"* gumam gisa dalam hati sembari meremas ujung dress yang ia kenakan saat ini.
"kakak al kenapa sedari tadi kau melihat kakakku dengan tatapan tajam seperti itu?"
"kenapa memangnya, dia istriku"
"tapi lihatlah, kakakku terlihat ketakutan. bahkan dia sama sekali tidak tersenyum"
"biakan saja. aku justru senang kalau dia tidak tersenyum, itu artinya tidak ada yang bisa menikmati senyum manis istriku"
"astaga drama macam apalagi ini" ucap gisel sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak terasa gatal.