
"aduh aku lapar sekali" ucap gisa sembari bangun dari tidurnya, ia melirik jam dinding yang ada di dalam kamarnya, jam menunjukkan pukul 2 dini hari.
"astaga kamu lapar ya dek, maafin mama ya sayang. ini semua gara-gara papa kamu, dia sungguh menyebalkan" gumam gisa sembari mengelus perutnya.
"ya udah sekarang kita makan ya sayang"
dengan segera gisa bangkit dari ranjang dan langsung menuju dapur.
"nyonya"
"astaga bibik ngagetin aja"
"nyonya sedang apa jam segini di dapur"
"saya laper bik"
"kan nyonya sih tadi sore nggak makan, kan kasihan junior jadi kelaparan"
"ini semua gara-gara papanya" ucap gisa sembari mencebikkan bibirnya.
"maksud tuan kan baik nya, tuan nggak mau kalau nyonya sampai kelelahan"
"tapi dia bisa kan bik ngomong baik-baik, nggak harus bentak-bentak aku"
"iya nya, bibik tau pasti nyonya sakit hati. yasudah kalau sudah selesai nyonya balik tidur lagi, tenangin pikiran nyonya. kasihan junior nya kalau mamanya uring-uringan seperti ini"
"ya udah deh bik, aku balik ke kamar. bibik tolong beresin ya"
"iya nya"
******
"selamat pagi istriku tersayang" ucap papi varo sembari mencium pipi mami
"papi apaan sih udah tua, mau punya cucu juga, tapi kelakuan kayak anak baru gede"
"ya memang papi ini ABG mi, papi masih ganteng kan? pastilah nggak kalah ganteng sama al, dan alexs"
"tingkat percaya dirimu semakin hari semakin meningkat sayang" ucap mami melati sembari mengelus pipi papi.
"bukankah aku memang tampan?"
"iya deh iya, kamu tampan. tapi ada apa dengan wajah tampanmu? aku menemukan sebuah keresahan di dalamanya"
"tidak sayang, mungkin aku hanya kelelahan saja"
"varo aku ini istrimu. aku bersama denganmu bukan baru sehari, atau dua hari, aku berdiri di sampingmu sudah puluhan tahun. aku paham betul ada sesuatu yang kini tengah mengganjal hatimu, katakan jangan kamu pendam sendiri, bagilah bebanmu denganku"
"aku sungguh beruntung mel memiliki istri seperti dirimu" ucap papi sembari memeluk mami.
"harusnya aku yang bilang seperti itu varo. aku yang beruntung karena memiliki suami sepertimu, kamu baik, penuh tanggung jawab, sayang keluarga, dan yang pasti ganteng"
"kamu ini bisa aja"
"aku hanya menghawatirkan putra bungsu kita"
"memangnya ada apa dengan alexs?"
"anak itu selalu saja susah di atur, dia tidak seperti kakak-kakaknya"
"varo setiap anak itu memiliki kepribadian masing-masing, kamu nggak bisa menyamakan alexs dengan al atau pun dengan alice"
"aku tau. tapi kita sudah tidak muda lagi, kita bisa saja meninggalkan anak-anak kapan saja. aku hanya takut kalau kita pergi, bocah naka itu masih belum berubah"
mami tersenyum mendengar ucapan papi, lantas beliau memeluk papi.
"semua akan baik-baik saja, percayalah"
"kenapa kamu bisa setenang itu mel"
"karna aku ibunya. mungkin alexs bandel, tapi dia juga bukan anak yang bodoh, dia cerdas sayang. aku percaya kalau dia bisa jadi seperti al suatu saat nanti"
"aku harap juga begitu"
"itu pasti. sudah jangan terlalu memikirkan alexs"
"iya sayang"
******
"pagi sayang" sapa al ketika baru saja masuk kedalam kamar dan tengah melihat sang istri membaca majalah.
"hemmt"
"kamu udah nggak marah kan?"
"emangnya aku bilang kalau aku udah nggak maeah sama kamu" ucap gisa sembari menatap tajam al, bahkan majalah yang ia bawa kini ia lempar ke atas meja.
*"astag kenapa dia sangat menakutkan"* gumam ak dalam hati, sembari susah payah menelan air liurnya.
"apa lihat-lihat!"
"ahh nggak kok yank, hari ini kamu cantik banget" ucap al sembari tersenyum.
"jadi maksudmu selama ini aku nggak cantik?"
*"aduh kelihatannya aku salah jawab. kenapa ibu hamil selalu saja sensitif sih, sudah seperti singa yang mengamuk"*
"kenapa diam?"
"cantik kok yank. kamu selalu cantik, tapi hari ini kami jauh lebih cantik"
"orang galak kayak kamu berusaha ngegombal. sama sekali nggak cocok, dan aku nggak akan kemakan gombalanmu" ucap gisa sembari bangkit dari duduknya dan segera keluar dari kamar.
"yaTuhan jadi seperti ini rasanya kalau istri marah. bahkan baju kerjaku pun tidak dia siapkan, ahh salahku juga sih, kenapa juga aku kemarin membentak-bentaknya."