My Introvert Husband

My Introvert Husband
rumah impian



"apa semuanya sudah siap" tanya al kepada gisa yang tengah sibuk mengemas barang-barang mereka.


"sudah kak"


"yasudah ayo kita pergi sekarang"


"apa tidak besok pagi saja kak?"


"kenapa harus menunggu besok?" tanya al sembari menatap tajam gisa.


"ti tidak apa-apa sih kak" jawab gisa sembari menundukkan kepalanya, ia begitu takut ditatap setajam itu oleh al.


"disini yang suaminya adalah aku, itu tandanya aku adalah kepala keluarganya. jadi menurutlah"


"iya kak"


"yasudah ayo kita turun" ucap al sembari pergi menyeret kopernya dan juga koper milik gisa.


"astaga, kenapa aku bisa sangat mencintai pria galak itu" gumam gisa sembari menggaruk rambutnya yang tak terasa gatal.


"mami, papi"


"abang kamu jadi pindah hari ini nak?" tanya mami.


"iya mi"


"kenapa harus cepat-cepat nak"


"al kan sudah bilang ma, al ingin belajar hidup mandiri bersama dengan istri al"


"pergilah nak. papi dan mami akan selalu mendukung semua keputusanmu selama itu baik untuk keluarga kecilmu"


"trimakasih pi"


"abang aku pasti akan sangat merindukan abang" ucap alice sembari berdiri dan langsung memeluk al.


"aku juga akan sangat merindukanmu, jaga dirimu baik-baik dan jangan sampai menyusahkan mami dan papi" ucap al sembari membelai lembut pipi alice.


"iya abang"


"abang jaga kakak gisa baik-baik. jangan sampai kakak gisaku menangis karenamu" sarkas alexs.


"iya bawel. aku tidak akan menganiayanya bagaimanapun dia istriku"


"bagus kalau abang mengerti"


"yasudah mi, pi. al dan gisa pergi dulu ya" pamit al sembari mencium tangan kedua orang tuanya dan di ikuti oleh gisa yang melakukan hal serupa dengan al.


"kalian hati-hati ya sayang"


"iya mi" jawab al dan gisa secara bersamaan.


"lalu bagaimana dengan mobilku kak?"


"besok biar alice dan alexs yang mengantar mobilmu kerumah"


"baiklah"


setelah semuanya beres, al segera memacu mobilnya dengan kecepatan sedang. selama hampir 30 menit mereka pun telah sampai disebuah rumah mewah.


"apa ini rumah kita kak?"


"iya"


"ini sangat besar sekali kak. akan sangat kebesaran jika hanya kita berdua yang menempatinya"


"kita bertiga bersama dengan asisten rumah tangga"


"iya tapi tetap saja kak"


"suatu saat kita akan memiliki anak, jadi rumah ini akan ramai dengan anak-anak kita nanti" ucap al sembari berlalu pergi.


"kakak al tadi bicara apa?" tanya gisa mencoba memastikan apa yang ia dengar tadi tidak salah. namun percuma tidak ada tanggapan sam sekali dari al.


*"apa aku tadi tidak salah dengar. kakak al tadi bilang tentang anak-anak kami"* gumam gisa dalam hati sembari tersenyum. setelah beberapa saat gisa segera tersadar dari lamunannya dan segera masuk kedalam rumah.


"wahh indah sekali" gumam gisa sembari memperhatikan sekeliling rumah yang telah tertata dengan sangat rapi.


"kalau ada yang tidak sesuai denganmu kau boleh merubahnya"


"tidak kak, aku sangat menyukai ini. ini adalah rumah yang sedari dulu aku impi-impikan"


"baguslah kalau kamu senang. oh iya asisten rumah tangganya akan datang lusa, jadi besok kau harus melakukan tugasmu sebagai seorang istri"


"kakak al tidak perlu khawatir, aku sudah paham kok" jawab gisa sembari tersenyum.


"yasudah ayo kekamar, kau susun semua baju-baju kita. aku masih ada pekerjaan"


"baik kakak al"


gisa segera masuk kedalam kamarnya dan juga kamar al. ya gisa sangat bahagia meskipun kini suaminya tidak mencintainya akan tetapi al memilih untuk tetap tidur satu kamar dengannya.


*"ahh setidaknya dia masih mau sekamar denganku, itu saja sudah membuatku lebih dari bahagia tuhan"* gumam gisa sembari tersenyum.


setelah selesai menyusun semua barang-barangnya, gisa segera merebahkan tubuhnya karna kantuk telah menghinggapinya. dan tak butuh waktu lama ia pun sudah tertidur dengan lelap.


"dia ternyata sudah tidur" gumam al yang baru saja masuk kedalam kamar.


al pun segera merebahkan tubuhnya disamping gisa, dan tak lupa ia pun menyelimuti tubuh gisa, karna udara malam ini lumayan dingin, sedangkan gisa tidur tanpa menggunakan selimut.