My Introvert Husband

My Introvert Husband
kepergok



"gara bareng sama aku sama mama yuk" teriak sekala begitu melihat saudara kembarnya yang baru saja akan keluar gerbang.


"kala kamu ngapain sih ngajak anak pembawa sial itu" sinis dewi.


"mama kasihan gara ma, setiap sekolah harus jalan"


"salah dia sendiri kenapa nggak bawa sepedanya"


tak lama sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan kediaman samudra.


"gara ayo buruan nanti kita telat" ucap nana sembari membuka pintu mobilnya.


sedangkan gisel memilih turun dari dalam mobilnya ketika melihat dewi mamanya gara masih berdiri disamping mobilnya.


"selamat pagi sayang" sapa gisel sembari berjongkok menyamakan tingginya dengan tinggi gara.


"pagi tante" jawab sagara dengan senyum merekah dibibirnya.


"udah sarapan tadi?"


"udah tante"


"god boy. tadi tante juga udah buatin bekal buat kamu, jangan lupa dimakan ya" ucap gisel sembari merapikan rambut gara yang sedikit berantakan karena diterpa angin.


"tante selalu aja repot-repot"


"tante nggak ngerasa di repotkan kok, tante justru seneng. rasanya tante kayak punya dua jagoan"


"gara sayang banget sama tante" ucap gara sembari memeluk gisel, bahkan mata bocah cilik itu sudah mulai berkaca-kaca. selama ini gisel memang selalu membuatkan dirinya bekal, bahkan kasih sayang gisel maupun alice begitu besar untuknya. padahal sang mama saja tak pernah memperdulikannya.


"heyy jangan nangis dong, tante nggak suka kalau jagoan tante ini nangis" ucap gisel ketik sudah mengurai peluknya.


"mama, gara ayo berangkat"


"iya tan ayo berangkat, itu star udah nunggu di depan" timpal nono.


"iya-iya bawel banget sih kalian ini" ucap gisel sembari terkekeh. "gara ayo masuk mobil sayang, lihat saudara-saudaramu mereka sudah pada demo" ucap gisel sembari menekankan kata saudara, sambil melirik dewi dengan tajam dan sinis.


******


"siapa yang jemput kamu tadi?" tanya dewi begitu melihat gara yang baru saja pulang sekolah.


"mama tanya gara?" ucap gara sembari celingak-celinguk memastikan bahwa sang mama sedang mengajaknya berbicara.


"iyalah kamu, memangnya siapa lagi" ketus dewi.


"itu tante gisel ma, mamanya nakula teman gara"


"ohh"


"gara kamu udah pulang, ayo kita makan bareng" ucap sekala yang baru saja menuruni anak tangga.


"gara udah makan tadi" jawab gara sembari berjalan melewati sekala yang kini tengah berdiri dihadapannya.


"gara nggak lapar lagi?" tanya sekala lagi, berharap saudara kembarnya itu mau maka bersama dirinya.


namun tak ada jawaban yang keluar dari mulut sagara, ia terus saja melangkahkan kakinya menaiki anak tangga untuk segera menuju kamarnya.


jujur saja sekala sangat merindukan sagara. ia sangat merindukan adiknya itu, sekala juga ingin bermain bersama gara lagi.


"kala kamu ngapain sih ngajak ngomong anak sialan itu"


"ma kala kangen sama gara, kala pengen kayak dulu lagi" jawab sekala sembari menundukkan kepalanya, bahkan air matanya kini telah jatuh membasahi pipi gembulnya.


"sekala cukup, ingat ya gara-gara dia kakak kamu meninggal" bentak dewi.


setelah dibentak oleh mamanya sekala segera berlari menuju taman belakang, ditumpahkannya semua air matanya disana.


andai saja dia tidak melempar kesalahannya kepada sang adik mungkin sekarang ia dan sagara tak akan sejauh ini. mereka pasti masih saling menyayangi satu sama lain, dan mungkin juga kalau dirinya tidak ceroboh sekarang sean masih berdiri ditengah-tengah mereka.


"kakak kala kangen" ucap sekala sembari duduk memeluk kakinya.


"kakak diatas sana pasti marah sama kala kan! maaf kak, maafin kala karena kala nggak bisa jagain adek" gumam sekala dengan sesegukan.


"gara bawa sini robot-robotannya" ucap sekala sembari merebut robot-robotan yang tengah di pegang oleh sagara.


"kala itu kan punya adek kenapa direbut sih"


"tapi kala pengen mainan ini kak"


"tapi kan papa juga beliin buat kamu, kenapa sekarang punya adeknya masih direbut"


sean benar-benar kesal kepada sekala, sudah dipastikan kalau robot milik kala sudah rusak makannya sekarang ia merebut mainan gara.


"tapi punya kala udah rusak kak" ucap sekala sembari mencebikkan bibirnya.


"tapi jangan rebut punya adek dong, kala kamu itu abang harusnya nggak boleh rebut mainan adeknya dong"


"kala nggak peduli, pokoknya kala mau main ini" ucap sekala kekeh pada pendiriannya.


"gapapa kok kak robot gara buat kala aja" ucap sagara sembari duduk disamping sang kakak.


"kamu kenapa sih selalu aja ngalah sama sekala. gara harus ingat ya kala itu abang gara, harusnya yang ngalah itu kala bukan gara"


"gara gapapa kok kak, yang penting itu kala seneng kak"


"tapikan sekarang kamu jadi nggak punya mainan lagi. nanti papa pasti marah, karena dikiranya mainan kamu yang rusak, padahal yang rusak mainan kala"


"terus yang gara butuh apa?" tanya sean sembari menatap adik kecilnya.


"yang gara butuh kakak selalu ada untuk gara" jawab gara sembari memeluk sean dari samping.


"itu pasti, gara kan adik kakak" jawab sean sembari menangkup kudua pipi sagara


"kala juga mau dipeluk kak" ucap sekala sembari bangkit dari duduknya dan ikut memeluk sean.


ingatan kebersamaannya dengan sean dan gara berputar-putar di kepala kala seperti kaset rusak.


"gara maafin abang ya" gumam sekala masih dengan beruraian air mata.


*******


"papa sama mama lagi ngapain?" tanya nono yang baru saja pulang, namun langkahnya terhenti ketika melihat mamanya duduk di pangkuan sang papa dengan menengadahkan kepalanya, bahkan bajunya pun terlihat berantakan.


ketika mendengar suara nono dengan segera alice merapikan bajunya dan mencoba menormalkan nafasnya berusaha bersikap bahwa tidak sedang terjadi apa-apa, sedangkan disampingnya arya hanya dapat menahan kekesalan karena makan siangnya terpaksa harus batal karena ulah putranya.


"sayang kamu udah pulang?" ucap alice sembari tersenyum.


"iya mama lagi ngapain tadi? kok mama liatian atas" tanya nono polos.


"ahh an.... anu tadi mama lagi lihatin cicak berantem sayang" jawab alive tergagap.


"mana ma cicaknya?"


"udah pergi dong"


"tapi kenapa mama tadi minta pangku papa?"


"lagi pengen aja sayang. mama kan juga pengen di pangku papa, kayak papa lagi mangku nono" jawab alice sembari menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal.


"oh gitu"


"udah ahh sana nono masuk kamar, ganti baju trus bobok" ucap arya sembari mengelus puncak kepala juno.


"tapi nono pengen main sama mama, papa. mumpung papa nggak kerja"


"nanti malam papa ajak nono ke pasar malam, makannya sekarang nono bobok ya" ucap arya terus berusaha merayu putranya agar makan siangnya tidak benar-benar lepas.


"beneran ya pa!"


"iya sayang, udah sana masuk kamar"


"iya pa" jawab nono sembari berlari menuju kamarnya.


"ganggu aja itu bocil"


"punya satu aja kamu ngeluh terus, gitu mau nambah lagi" goda alice.


"gapapa makin banyak anak, makin banyak rejeki yank"


"tapi aku belum mau nambah momongan arya"


"kenapa?"


"bagiku nono masih terlalu kecil"


"oke baiklah, aku akan terima apapun keputusan kamu. tapi yang terpenting sekarang, makan siangku jangan sampai tertunda lagi" ucap arya sembari meraup bibir mungil alice.


dan siang itu mereka melakukannya di ruang keluarga, entalah apa yang ada difikiran alice dan juga arya. padahal tadi aksi keduanya hampir ketahuan oleh juno, tapi kali ini mereka malah melakukannya lagi, untung saja asisten mereka sedang cuti. bapak arya ini benar-benar ya kalau nanem kecebong nggak tau tempat.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


mendekati ending nih, kira-kira ada yang mau kelanjutan kisah starla nggak?