My Introvert Husband

My Introvert Husband
wanita croboh



"kakak al baru pulang?" tanya gisa yang melihat suaminya baru saja masuk kedalam kamar.


"iya" jawab al sembari menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.


"aku siapkan air hangat untukmu mandi" ucap gisa sembari berlalu kedalam kamar mandi.


setelah selesai menyiapkan air hangat gisa segera menyiapkan baju ganti untuk al.


"kakak al bangun, mandi dulu baru tidur" ucap gisa sembari menepuk-nepuk lengan al.


"kakak ayo mandi"


"iya kau ini brisik sekali"


"habisnya kakak al malah tidur, nanti airnya keburu dingin"


"iya-iya ini aku bangun" ucap al sembari bangkit dari tidurnya dan langsung menuju kedalam kamar mandi.


drttt..... drtttt..... drttt


suara dering ponsel gisa menandakan didalamnya ada panggilan masuk.


"papa! tumben sekali papa telfon" gumam gisa sembari segera mengangkat panggilan masuk dari papa gio.


"halo pa"


"sayang apa papa mengganggumu?"


"tidak pa. memangnya ada apa pa?"


"sayang papa minta tolong ya, besok kamu pergi kekantor suamimu untuk ikut rapat"


"memangnya papa mau kemana?"


"papa dan papimu mau pergi ke london untuk beberapa minggu, jadi urusan kantor papa serahkan kepadamu seperti biasanya. kamu tidak keberatan kan nak?"


"ahh tidak pa, mana mungkin gisa keberatan. apa besok gisa perlu antar papa dan papi kebandara?"


"tidak perlu sayang, kamu ikutlah suamimu kekantor"


"baiklah. papa hati-hati jangan lupa jaga kesehatannya"


"kau ini kebiasaan sekali nak. papa belum juga berangkat tapi sudah diberi wejangan, kau sangat mirip seperti mamamu, sangat bawel"


"tentu saja gisa kan anaknya mama pa"


"berarti gisel anak papa dong, karna dia cuek seperti papa"


"papa ada-ada saja" jawab gisa sembari terkekeh.


"yasudah papa tutup dulu ya nak telfonnya, sudah waktunya makan malam. kamu pasti harus melayani suamimu, yang akur jangan berantem-berantem. dan lekas beri papa dan mama cucu"


"iya pa, doakan saja yang terbaik untuk gisa dan juga kakak al"


"pasti sayang. yasudah papa tutup dulu ya" ucap papa gio sembari mengakhiri panggilan telfonnya.


"siapa yang telfon? kelihatannya seru sekali" tanya al yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi.


"oh ini tadi papa"


"papa kenapa?"


"papa menyuruhku untuk menghadiri rapat besok dikantor"


"oh"


"yasudah ayo kita makan kak, aku tadi sudah memasakkan makanan kesukaan kakak al"


"memangnya kau tau makanan kesukaanku?"


"tentu saja aku tau. kita dari kecil selalu bersama-sama kak, sudah ayo nanti makanannya keburu dingin" jawab gisa sembari menarik tangan al, dan tanpa gisa sadari al tengah tersenyum manis dibelakangnya.


"makan yang banyak ya kak" ucap gisa sembari menyiapkan makanan untuk al.


"kau menyuruhku makan banyak agar aku gendut" ucap al sembari menatap tajam gisa.


"mana mungkin aku mau membuat suamiku ini gendut"


"lalu kenapa kau menyuruhku makan yang banyak"


"maksudku kakak al kan baru pulang kerja pasti capek dan lapar. makannya makan yang banyak, biar kakak al tidak sakit"


"alasan saja kau ini"


"aku tidak sedang mencari alasan kak"


setelah selesai makan, gisa segera memberesi meja makan dan mencuci piring. sedangkan al lebih dulu masuk kedalam kamarnya, karna ada beberapa pekerjaan yang harus ia kerjakan.


"kakak al sedang bekerja?"


"iya, masih ada bebeapa file yang harus kebereskan.


"ah iya" gisa segera dudu dimeja riasnya dan mengambil bukunya dan mulai membuat desain baju"


tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 22.00 dan kantuk pun sudah menghinggapi gisa, tanpa sadar ia pun tertidur masih dengan posisi duduk dimeja rias.


"ahh akhirnya selesai juga" gumam al sembari menutup laptopnya.


"astaga dia tidur disitu" ucap al sembari bnagkit dari duduknya dan segera menghampiri gisa.


"ternyata dia benar-benar bisa membuat desain baju. dasar kau ini dari dulu selalu croboh, tidur pun sembarangan" ucap al semabari mengangkat tubuh gisa dan memindahkannya ke ranjang. setelah selesai al pun segera merebahkan tubuhnya disamping gisa dan segera memejamkan matanya.


*******


"pagi kakak al" sapa gisa ketika melihat suaminya sudah siap dengan pakaian kerjanya.


"pagi. kenapa kau belum siap-siap?"


"aku bawa mobil sendiri saja kak"


"kenapa tidak berangkat bersamaku saja. kitakan satu tujuan"


"iya kak tapi nanti gisa harus bantu mami dibutik"


"oh, yasudah" jawab al sembari melahap sarapannya.


hening tak ada pembicaraan sedikitpun diantara mereka hanya dentingan sendok dan garpu saja yang terdengar.


"aku berangkat dulu. ingat jangan sampai terlambat"


"iya kak"


seusai al pergi, gisa segera membereskan meja makan, dan bergegas mengganti pakaiannya. tak lupa ia juga sedikit merias wajahnya, dengan makeup tipis.


setelah selesai bersiap gisa segera turun dan langsung menuju mobilnya, setelah sekitar 30 menit gisa pun telah sampai dikantor al, dan segera menuju keruang miting. disepanjang perjalanan banyak karyawan suaminya yang menyapanya dengan ramah.


"maaf aku terlambat" ucap gisa yang baru saja masuk kedalam ruangan miting.


"ah tidak sa, duduk sini" ucap arya sembari menunjuk kursi kosong disampingnya.


"terimakasih kak arya"


"sama-sama"


setelah semua berkumpul, al segera memulai rapatnya dan membahas banyak hal tentang proyek terbaru mereka. rapat itu sendiri memakan waktu hampir lebih satu jam setengah.


setelah miting selesai semua pemegang saham segera pamit kembali kekantor mereka masing-masing.


"akhirnya selesai juga"


"untungnya semua berjalan dengan sangat lancar" ucap aleta sembari tersenyum.


"tentu saja, selama ada sigenius al semuanya akan beres"


"tentu saja aku"


melihat suaminya dapat tertawa lepas bersama teman-temannya membuat gisa berkecil hati, bahkan selama ini gisa tidak pernah melihat suaminya itu tertawa selepas itu. selain itu gisa juga merasa gerah kepada aleta yang selalu saja berada disamping al.


*"apa karna ini kakak alice menyuruhku untuk menjaga kakak al dari nona aleta. apa benar kata kakak alice kalau nona aleta memiliki perasaan kepada kakak al"* gumam gisa dengan wajah murung.



"gisa kenapa kau kenapa?" tanya arya yang menyadari perubahan wajah gisa.


"ah tidak kak, aku tidak apa-apa. oh iya aku pamit dulu ya aku harus membantu mami dibutik"


"hati-hati gisa" ucap galih sembari tersenyum manis kepada gisa.


"iya kak galih"


"kakak al aku pergi dulu ya" pamit gisa sembari meraih tangan al dan menciumnya.


"iya hati-hati dijalan"


"iya" jawab gisa dengan senyum yang dipaksakan.


*"apa aku ini memang bukan kebahagiaannya kakak al. aku tidak pernah melihat kakak al akrab dengan seorang wanita, akan tetapi dengan nona aleta kakak al terlihat sangat dekat sekali. apa jangan-jangan kakak al juga menyukai nona aleta, tuhan apa salah jika aku tidak suka melihat suamiku akrab dengan wanita lain? hatiku sungguh sakit melihat ia begitu dekat dengan nona aleta tuhan"* gumam gisa dalam hati, tak terasa matanya pun sudah memerah dan mengeluarkan air mata.