My Introvert Husband

My Introvert Husband
mandi bersama



"papi dan papa dari mana?" tanya al ketika dua orang sahabat itu baru saja masuk lobi.


"al kamu disini nak?"


"iya. papi belum menjawab pertanyaanku"


"pertanyaan apa nak?"


"papi dan papa dari mana?"


"kami baru saja keluar cari makan"


"benarkah?" tanya al sembari memicingkan sebelah matanya karna ia merasa ada yang di sembunyikan oleh kedua orang tua itu.


"iya al papa dan papimu habis mencari makan siang"


"ah baiklah. ayo kita keruangan papi, aku rasa papa gio sudah menunggu disana"


"ahh baiklah"


dengan segera mereka memasuki lift dan menuju ruang kerja papi varo.


"akhirnya kalian datang juga, aku sudah sangat lama menunggu"


"sorry, kita tadi cari makan dulu" jawab papa bima.


"sekalinya jam karet ya tetap jam karet" sarkas papa gio.


"bawel, sudah seperti wanita yang datang bulan saja"


"sudah-sudah kenapa jadi bertengkar"


"habisnya gio mulai duluan"


"kalian berdua sama saja"


"papa, papi fokus" ucap al


"maaf nak"


"jadi gimana tugas kamu yo, apa semuanya berjalan dengan lancar?" tanya papi varo.


"semuanya sudah beres, tapi putri davis menghilang entah kemana"


"bagus, itu tidak penting. yang penting kita hancurkan keluarga itu"


"aku harap kalian berdua tidak ada hubungannya dengan menghilangnya raina davis"


"kau mencurigai kami?" tanya papa bima.


"tentu saja"


"kami tidak tau menahu tentang bocah brengsek itu"


"papi dan papa benar-benar tidak terlibat atas menghilangnya raina?" tanya al, karna dia sama ragunya dengan papa gio.


"tidak al" jawab bima, sedangkan papi varo memilih diam.


*****


tepat pukul 17.00 al telah sampai di rumahnya, ia segera bergegas masuk entah mengapa ia sangat merindukan sang istri.


"sayang aku pulang"


"ehh tuan sudah pulang?"


"iya bik, istriku mana?"


"nyonya belum pulang tuan"


"belum pulang, memangnya dia kemana?"


"katanya tadi mau kerumah sakit, habis itu mau ke butik tuan"


"oh baiklah" jawab al sembari berlalu pergi.


"astaga tuan al sangat dingin sekali, bagaimana nyonya gisa betah punya suami seperti itu" gumam bibik sembari mengelus dadanya.


"bik"


"astaga copot-copot" ucap bibik latah karna merasa kaget.


"bibik ngapain?"


"nyonya mengagetkan saja"


"habisnya ngalamun, jadinya saya masuk bibik nggak tau"


"suami saya pulang jam berapa bik?"


"tuan juga baru sampai nyonya"


"oh baiklah. saya permisi keatas ya bik"


"iya nya"


gisa segera menjejakkan kakinya menaiki tangga untuk menuju kamarnya. sesampainya di kamar di lihatnya sang suami tengah berbaring di ranjang sembari menggantungkan kedua kakinya, bahkan sepatunya pun belum ia lepas.


"dia pasti sangat lelah" gumam gisa sembari tersenyum.


dengan segera ia segera menghampiri sang suami dan melepas sepatu al.


"sayang kamu sudah pulang?" tanya al


"iya, ayo bangun lalu mandi. nanti aku akan memijitmu, kamu pasti sangat lelahkan"


"ayo kita mandi bersama" ucap al dengan penuh semangat.


"aku tidak mau"


"ayolah sayang"


"kalau kita mandi berdua itu kau pasti akan meminta lebih"


"tidak apa-apa lagian aku meminta hakku"


"menyebalkan" ucap gisa sembari mecebikkan bibirnya.


"tapi kamu suka kan!" goda al.


"ih genit" jawab gisa. sedangkan pipinya mulai bersemu merah semerah tomat.


"sudah ayo mandi, kali ini kau tak akan bisa lolos lagi" ucap al sembari menggendong paksa sang istri menuju kamar mandi.


setelah sampai di dalam kamar mandi al segera menurunkan istrinya dan segera memulai aksinya.


"sayang kamu kan lelah, kita bisa melakukannya kapan-kapan" ucap gisa semanja mungkin agar dia bisa lepas dari terkaman sang suami.


"nggak usah sok manja, itu tidak akan berpengaruh oke" jawab al.


dengan segera al melahap bibir mungil gisa, menciumnya penuh dengan cinta. lamun lama kelamaan ciuman itu berubah menjadi sangat panas untuk keduanya, yah gisa lagi-pagi hanya bisa pasrah. bahkan kini tangan suaminya sudah mulai menyerang dua gundukan indah gisa perlahan al mulai meremas, dan memilin put*ngnya hingga membuat gisa mengerang.


setelah puas bermain dengan dua gundukan favoritnya satu tangan al mulai turun dan mulai menyingkap rok yang tengah digunakan oleh gisa, dan dengan segera al menurunkan **********. perlahan namun pasti jari-jari al mulai bermain-main di **** ***** gisa.


"emmhh" gisa pun sudah tidak bisa mengontrol dirinya, ia pun mulai mengikuti permainan al.


mendengar lenguhan sang istri membuat al semakin bersemangat, ia pun semakin menjadi-jadi menyerang bagian intim gisa. bahkan area itu sudah sangat banjir dan siap menerima senjata milik al.


"sayang aku sudah tidak kuat lagi, cepat masuki aku" racau gisa ketika al melepaskan ciumannya dan beralih keleher jenjangnya.


"ahhhh, mmthh"


"tapi aku belum puas bermain-main sayang"


"segera masuki aku sayang" ucap gisa manja sembari membelai punggung sang suami.


"baiklah apa maumu sayangku" jawab al.


dengan segera al menanggalkan semua pakaiannya, tak lupa ia juga meloloskan semua pakaian gisa. al segera menyalakan air shower sedangkan satu tangannya mengangkat sebelah kaki gisa dan mulai memposisikan senjatanya kearea intim gisa.


perlahan namun pasti al mulai memasuki gisa.


"ahhh" racau gisa ketika al mulai memaju mundurkan senjatanya.


dibawah guyuran shower itu al meggempur gisa. dengan penuh tenaga ia menggempur pertahanan istrinya, entah sudah berapa kali gisa mecapai klimaksnya sedangkan al masih belum juga mencapai klimaks.


"sayang aku sudah tidak tahan" ucap al.


"lakukanlah sayang" jawab gisa sembari mencium bibir al.


dengan segera al menambah ritme permainan mereka, dan tak berselang lama al pun telah menyemburkan semua benihnya kedalam rahim gisa.


"aku berharap ia segera tumbuh" ucap al sembari mengelus perut gisa, sedangkan organ intim mereka masih tetap menyatu.


"aku juga berharap seperti itu sayang"


"aku mencintaimu istriku, sangat mencintaimu"


"aku pun juga sangat mencintaimu suamiku"


"I LOVE YOU"


"I LOVE YOU SO MUCH"