
"hey, kamu ngapain ras?"
"ahh mbak alice ngagetin aja. ini aku lagi lihatin anak-anak main"
"lihatin anak-anak, apa lihatin bang al?" goda alice sembari tersenyum.
"mbak alice apaan sih, aku lihatin anak-anak mbak"
"baiklah. jadi gimana kamu udah ambil keputusan?"
"udah mbak"
"jadi kamu pilih kerja di rumah sakit punya riko, atau di perusahaan abang?"
"aku kuliah di kesehatan mbk, jadi lebih baik aku magang di rumah sakit milik mas riko"
"kamu beneran pengen jadi dokter?"
"iya mbak. dokter gigi adalah cita-citaku sedari kecil"
"kenapa kamu pengen jadi dokter gigi?"
"dulu waktu aku masih kecil gigiku sering sakit, dan mama selalu bawa aku ke dokter cantik. dia cantik banget, selain itu dia juga sabar. entah kenapa setelah itu aku ingin sekali menjadi dokter gigi seperti beliau" jawab laras sembari tersenyum, pandangannya pun masih tak lepas dari al dan anak-anak yang tengah bermain di taman belakang.
"kamu juga cantik, baik. aku harap kamu bisa menjadi dokter yang baik, dan menjadi dokter kesayangan anak-anak"
"aku akan berusaha untuk itu mbak"
"lagi ngomongin apa sih? kok kelihatannya serius banget" tanya gisel yang baru saja keluar dari dapur.
"ini aku tanya laras apa laras udah tentuin pilihannya apa belum"
"terus gimana?"
"dia milih kerja di rumah sakit punya riko"
"apa kamu yakin ras? rumah sakit itu masih baru, baru berdiri sekitar 4 tahun yang lalu loh"
"aku yakin mbak. aku ingin wujudin cita-cita ku"
"baiklah, nanti akan aku bicarakan masalah ini dengan papanya nana"
"makasih mbak. maaf kalau laras ngerepotin"
"sama sekali nggak ngerepotin ras. aku udah anggap kamu kayak adik sendiri, jadi jangan pernah merasa sungkan"
"nah bener tuh, kamu tuh selalu aja ngerasa nggak enakan"
"Tuhan benar-benar maha baik, karena Tuhan telah mempertemukan ku dengan orang-orang baik seperti kalian semua"
"kami juga beruntung di pertemukan denganmu" ucap gisel sembari memeluk laras.
"maaf ya mbak"
"maaf untuk apa? kamu nggak punya salah apa-apa laras"
"maaf gara-gara aku mbak gisel harus kehilangan mbak gisa" ucap laras sendu, bahkan lapisan kaca itu terlihat jelas di mata laras, dengan sekuat tenaga laras mencoba menahannya akan tetapi gagal, air mata itu tetap jatuh membasahi pipinya.
selama hampir 7 tahun laras masih sering di hantui rasa bersalah. andai dulu gisa tidak menolongnya dan membiarkan dirinya di pukuli oleh kekasihnya, mungkin sekarang gisa masih berdiri diantara al dan juga starla, dan mungkin starla tidak akan kehilangan mommy nya.
"hustt udah ya, itu bukan salah kamu ras. mbak gapapa kok, mbak udah ikhlas. mungkin itu yang terbaik untuk kak gisa"
"tapi andai aja dulu mbak gisa nggak nolongin aku mbak, pasti sekarang starla masih ngerasain kasih sayang mommy nya"
"ras mau sampai kapan kamu merasa bersalah terus. ini udah hampir 7 tahun kepergian gisa, setelah melihat kamu yang seperti ini mbak yakin kamu masih sering nyalahin diri kamu atas kepergian gisa"
"tapi emang itu gara-gara aku mbak. harusnya kalian semua membenciku, seperti mas alexs yang membenciku"
"alexs nggak benci sama kamu ras. dia cuma belum bisa aja menerima kepergian kak gisa yang begitu tiba-tiba" ucap gisel mencoba menenangkan laras.
"jangan pernah kamu ambil hati ucapan alexs, anak itu memang seperti itu ras. tapi aslinya anaknya baik kok"
"udah ya jangan pernah salahin diri kamu lagi" ucap gisel sembari menghapus air mata laras.
"udah ayo kita makan siang bersama-sama" ucap alice sembari berdiri dari duduknya dan menghampiri anak-anak dan juga al.
"udah ayo kita masuk"
"iya mbak"
"ini semua yang masak mbak gisel?" tanya laras ketika sudah sampai di ruang makan.
"iya, apa ada yang kamu nggak suka?"
"suka kok mbak, ini makanan kesukaanku malah"
"ahh syukurlah"
"anak-anak ayo sini makan dulu" ucap laras ketika juno, nana, dan starla baru saja masuk.
"ini masakan tante gisel kan?" tanya juno.
"iya dong sayang" jawab gisel sembari tersenyum.
"ahh berarti aman" ucap juno sembari tersenyum.
"apanya yang aman no?" tanya laras, karena ia tidak paham apa maksud perkataan juno.
"karena kalau yang masak mama, rasanya nggak enak mbak" jawab juno jujur.
"astaga nono anak setan" ucap alice geram.
"hey kenapa kau marah, anakmu memang berbicara jujur dek"
"kan harus bicara jujur dek"
"emang iya ya sel masakanku nggak enak?"
"kakak mau aku jujur atau bohong?"
"ya jujurlah"
"oke, masakan kakak emang nggak enak" ucap gisel sembari terkekeh
"astaga hatiku sakit, bisa-bisanya abang dan adikku bilang masakanku nggak enak" ucap alice mendramatisir.
"makannya belajar masak. anakmu udah sebesar ini, tapi kamu masih saja nggak bisa masak"
"hehe aku kan sibuk bang, jadi nggak sempat belajar masak" ucap alice sembari tersenyum.
"banyak sekali alasanmu"
''selama suamiku bisa membayar asisten rumah tangga kenapa aku harus susah-susah memasak"
"sultan mah bebas" ledek gisel.
"bachot"
"alice mulutmu bisa di kondisikan nggak? di sini ada anak-anak" ucap al sembari menatap tajam alice.
"hehe sorry bang kelepasan"
"mbak laras" panggil starla.
"iya sayang kenapa?"
"nana sama nono punya mama sedangkan starla nggak punya, apa starla boleh memanggil mbak laras mama. teman-teman di sekolah semuanya pada ngatain starla, gara-gara starla nggak punya mama" ucap starla dengan wajah sedih.
mendengar penuturan starla membuat hati al teriris, kasihan putrinya. selama ini ia memang memberikan yang terbaik untuk starla, tapi ternyata kasih sayang seorang ibu tetaplah penting.
"pak al, apa keberatan?" tanya laras kepada al, yang dari tadi hanya diam saja. bahkan pria itu sekarang tengah melamun, tapi laras sendiri juga tidak tau apa yang sedang di pikirkan pria itu.
"bang di tanya laras tuh" ucap alice sembari menyenggol lengan al.
"ahh iya, kenapa?"
"apa pak al tidak keberatan kalau starla memanggil saya mama?"
"harusnya saya yang tanya ke kamu. apa kamu keberatan kalau starla memanggil kamu mama?"
"sama sekali tidak pak"
"terimakasih" ucap al sembari tersenyum dan di jawab dengan anggukan kepala oleh laras
"starla sayang, kamu boleh panggil mbak laras mama"
"mbak laras serius?"
"iya dong"
"hore makasih mama" ucap starla sembari menghampur memeluk laras.
"sama-sama sayang, apapun itu asal kamu bahagia" jawab laras sembari membalas pelukan starla.
******
"hari ini hari pertamaku magang di rumah sakit mas riko. oke semangat laras" ucap laras menyemangati dirinya sendiri sebelum akhirnya ia melajukan mobilnya.
setelah hampir 30 menit berkendara akhirnya laras pun sampai di rumah sakit milik riko.
"mas riko benar-benar keren, dia bisa mendirikan rumah sakit sekeren ini di usianya yang masih terbilang muda" ucap laras sembari memandang kagum bangunan rumah sakit di depannya.
"laras sedang apa kamu berdiri disini?"
"eh mas riko, selamat pagi mas"
"pagi, ayo masuk. jangan seperti bocah hilang, berdiri di tengah jalan" ucap riko sembari tersenyum.
"iya mas"
"kamu udah sarapan?"
"udah kok mas"
"ya sudah ayo aku antar kamu ke ruanganmu" ucap riko sembari berjalan mendahului laras, dan dengan segera laras pun mengikuti langkah riko.
"ini rungan kamu, kamu satu ruangan sama virda"
"pagi pak riko yang ganteng"
"kamu bisa nggak manggil saya tanpa di embel-embeli ganteng" ucap riko sembari menatap tajam virda yang baru saja masuk kedalam ruangan"
"ehehe nggak bisa pak riko ganteng. lagian bu gisel memperbolehkan kok"
"sudah-sudah saya mau kembali keruangan saya, kalau saya disini lama-lama bisa gila saya. saya titip laras" ucap riko sembari pergi meninggalkan ruang kerja virda.
"ashiap pak riko ganteng" jawab virda sembari memberi hormat. "ayo masuk laras, oh iya kenalin aku virda. aku dokter gigi disini, sekarang kita menjadi partner kerja. semoga kamu betah ya kerja disini"
"iya mbak virda. mohon bimbingannya"
"jangan panggil mbak, kita ini seumuran. panggil virda aja"
"iya virda"