
"selamat pagi abang"
"pagi alice, gisa mana?" tanya al sembari clingak-clinguk mencari keberadaan gisa.
"gisa sudah berangkat ke butik abang"
"kenapa sepagi ini?"
"karna lusa mami ada event bang, dan kebetulan gaun yang telah disiapkan oleh mami yang satunya diganti dengan rancangan gisa"
"gisa bisa mendesain baju?"
"iya, apa abang tidak tau kalau istrimu itu sangat multitalen"
"tidak" jawab al cuek.
"menyebalkan"
"lalu ini siapa yang memasak?"
"tentu saja istrimu, itu dia juga sudah menyiapkan bekal untukmu"
"kau harus mencontohnya. sesibuk apapun kamu jika nanti sudah menikah jangan sampai menelantarkan suamimu"
"abang crewet sekali. coba abang berkaca, memangnya abang sudah berprilaku baik kepada gisa!"
"aku selalu berprilaku baik kepadanya"
"ah dasar tidak peka"
"kau fikir aku dukun yang bisa membaca fikiran kalian para wanita"
"terserah abang saja, aku pergi dulu" pamit alice sembari mencium pipi abang al
"kenapa sarapanmu tidak kau habiskan?"
"sudah kenyang"
al segera menyelesaikan sarapannya, setelah selesai ia segera mengambil bekal yang telah disiapkan oleh gisa. akan tetapi ketika al mengambil bekal itu dibawahnya ada selembar kertas yang ditinggalkan oleh gisa.
kakak al aku sudah membuatkan sarapan untukmu, juga bekal makan siang. jangan lupa sarapan dan dibawa bekalnya. maaf aku harus berangkat kebutik, dan tidak sempat berpamitan kepadamu karna mami telah menungguku.
~istrimu yang paling cantik 😜
setelah membaca tulisan itu tak terasa seulas senyum tipis muncul dibibir al, ia pun segera berangkat dan membawa bekal buatan gisa.
setelah menempuh perjalanan hampir 30 menit al pun sudah sampai diperusahaan miliknya ,ia segera masuk dan menuju kedalam ruangannya. namun entah mengapa al merasa disepanjang perjalanan seluruh karyawan memperhatikan dirinya, namun al berusaha menepis semua itu.
sesampainya didalam ruangannya, ternyata ketiga sahabatnya telah menunggu didalam ruangannya.
"kenapa kalian bertiga berkumpul disini?"
"memangnya kenapa? apa tidak boleh"
"ini masih pagi dan kalian sudah berkumpul saja"
"apa yang kau bawa?" tanya galih.
"apa kau tidak lihat kalau ini bekal" ketus al.
"tentu saja aku melihatnya, tapi sejak kapan seorang alvian akbar efendi membawa bekal kekantor, apa lagi kotak makananmu berwarna merah muda" ucap galih sembari terkekeh. hingga membuat arya dan aleta pun juga ikut menertawakan al.
"astaga kebapa aku tidak sadar kalau kotak makanan ini bewarna merah muda, pantas saja tadi disepanjang perjalanan semua karyawan memperhatikan diriku"
"tidak apa-apa sob, itu bisa buat tanda kalau kau sayang istri" ledek arya masih sambil terkekeh.
"betul sekali" ucap galih menyetujui perjataan arya.
"sudah-sudah kalian jangan menertawakan al terus"
"leta kau nanti kalau sudah menikah contohlah gisa. dia itu adalah istri idaman" ucap galih dengan polosnya hingga membuat arya dengan terpaksa menginjak kaki galih.
"jangan melihatku seperti itu, nanti kau malah jatuh cinta kepadaku"
"dih amit-amit" ucap arya sembari mendorong galih.
"sudah jangan bertengkar di runganku"
"al aku sungguh penasaran kepada gadis yang kau suka itu, ayolah beritahu aku"
"iya aku juga sangat penasaran"
"memangnya al menyukai seorang gadis.? siapa gadis itu? apa nona gisa?" tanya aleta beruntun.
"pertanyaanmu banyak sekali, sudah seperti wartawan" sarkas arya.
"iya tau nih aleta, kepo sekali"
"kau pun juga sama" sarkas arya.
"kau pun juga"
"dan kalian bertiga sama-sama kepo" ucap al sembari terkekeh.
"makanya beritahu kami"
"apa kami mengenalnya?" tanya arya
"tentu"
"siapa?" tanya aleta dengan penuh semangat, dan ia pun menduga kalau al juga memiliki perasaan yang sama dengannya
"aku tidak akan pernah memberitahu kalian"
"lalu kenapa kau tidak mengungkapkan perasaanmu al?"
"iya al padahal kau menyukainya sudah sejak kecil"
"sejak kecil?" tanya aleta.
"iya, al menyukai gadis itu sejak masih duduk dibangku sekolah dasar" jawab arya, dan arya pun dapat melihat dengan jelas perubahan mimik wajah aleta yang berubah menjadi sedih.
"gadis itu terlalu cantik, terlalu pintar, dan terlalu sempurna. aku merasa kalau kalau diriku tidak pantas untuknya"
"kau belum mencobanya al tapi kau sudah berfikir seperti itu"
"iya. kau memenangkan tender milyaran rupiah saja gampang, giliran hanya untuk mengungkapkan perasaanmu kepada seorang wanita sulit"
"bagiku memenangkan tender jauh lebih mudah dari pada harus memenangkan hatinya, tapi mulai sekarang aku akan memperjuangakannya"
"lalu bagaimana dengan bidadariku.? apa kau akan meninggalkannya?"
"aku tidak akan pernah meninggalkan gisa"
"kau sungguh gila al."
"kau seperti bukan dirimu al. al yang aku kenal tidak pernah mempermainkan perasaan wanita" ucap aleta.
"aku tidak merasa mempermainkan hati siapapun ta"
"tapi jika kamu mengejar gadis itu, kau akan sangat melukai hati nona gisa"
"aku yakin gisa tidak akan terluka"
"kenapa kau seyakin itu?" tanya arya.
"karna... ah sudahlah, urus saja urusan kalian. kenapa jadi membahas urusan percintaanku" ucap al sembari berlalu pergi, dan masuk kedalam ruang pribadinya. hingga membuat ketiga sahabatnya kesal.
"allll" teriak arya, galih, dan aleta secara bersamaan. sedangkan al yang berada didalam ruang pribadinya hanya dapat tertawa.